Terungkap, Jumlah Warga AS yang Mau Angkat Senjata Lawan Pemerintah

Jum'at, 01 Juli 2022 - 21:10 WIB
loading...
Terungkap, Jumlah Warga...
Seseorang memegang senjata api di toko senjata di Amerika Serikat. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Hampir setengah dari warga Amerika Serikat (AS) merasa seperti orang asing di negara mereka sendiri, menurut jajak pendapat terbaru.

Survei juga mengklaim mayoritas warga AS menganggap pemerintah mereka sebagai lembaga korup yang bekerja melawan mereka, dengan lebih dari seperempat mengatakan mereka mungkin perlu untuk mengangkat senjata.



Gambaran ketidakpuasan publik terungkap dalam jajak pendapat yang diterbitkan pada Selasa (28/6/2022) oleh Institut Politik Universitas Chicago.

Baca juga: Mantan Menlu AS Kissinger Ungkap 3 Kemungkinan Hasil Akhir Konflik Ukraina

Dua lembaga survei, satu dari masing-masing partai besar, menyurvei 1.000 pemilih terdaftar untuk mempelajari perpecahan di negara itu.

Hasilnya menunjukkan tingkat ketidakpuasan yang tinggi di seluruh garis politik dan ideologis di AS.

Baca juga: Anjurkan Setop Kirim Senjata, Dubes Ukraina Hina Para Intelektual Jerman

Secara total 49% mengatakan mereka semakin merasa seperti warga asing di tanah air mereka, dengan suasana hati yang lebih umum di antara Partai Republik, Independen dan konservatif.

Tetapi bahkan para pendukung Partai Demokrat merasakan keterasingan, dengan 40% setuju dengan sentimen tersebut sampai tingkat tertentu.

Ketika ditanya apakah mereka menganggap pemerintah “korup dan mencurangi orang biasa seperti saya,” 56% responden mengatakan pemerintah melakukannya.

Demokrat adalah satu-satunya kelompok di mana bagian orang yang tidak setuju dengan pernyataan itu sedikit lebih besar daripada mereka yang setuju, dengan selisih dua poin persentase.

Pernyataan “pada suatu saat mungkin perlu segera bagi warga untuk mengangkat senjata melawan pemerintah” didukung oleh 28% orang Amerika, termasuk 38% dari konservatif, 36% dari Republik, 35% dari Independen, dan 37% dari mereka yang memiliki senjata di rumah mereka.

Bahkan di antara pendukung Demokrat menganggap dirinya lunak, 19% mengatakan perlawanan bersenjata mungkin diperlukan.

Sementara pendukung partai-partai besar tidak mempercayai pemerintah mereka, mereka juga tidak terlalu menyukai satu sama lain, menurut jajak pendapat tersebut.

Sebanyak 73% dari Partai Republik setuju bahwa Demokrat adalah "pengganggu" yang mencoba memaksakan pandangan mereka pada orang lain, dan 70% mengatakan Demokrat "umumnya tidak benar."

Ketika Demokrat ditanya dua pertanyaan yang sama tentang Partai Republik, 74% dan 69% dari mereka masing-masing setuju.

“Namun perpecahan belum pada titik di mana orang akan lebih memilih beberapa bentuk segregasi di sepanjang garis politik,” ungkap jajak pendapat itu.

Warga Amerika sangat setuju jika orang-orang dari kubu yang berlawanan dapat saling menikah dengan keluarga mereka, mengajar anak-anak mereka di sekolah atau mengasuh anak mereka.

Separuh responden mengatakan akar masalah ketidaksepakatan politik di AS adalah pihak lain “salah informasi”, 35% mengakui bahwa hanya ada perbedaan pendapat yang jujur.

48% dari mereka yang disurvei mengatakan wartawan berita, editor, dan penyiar "berusaha menyampaikan sudut pandang mereka sendiri," daripada "menyajikan fakta dengan bias sesedikit mungkin," pandangan yang didukung 37%.

Berita kabel dan komentator di media sosial dianggap jauh lebih dipolitisasi daripada berita lokal, yang 74% dipercaya melaporkan peristiwa dengan itikad baik.

Sikap terhadap surat kabar nasional seperti New York Times terbagi lintas garis politik. Hanya 24% dari Partai Republik yang menganggap mereka sebagai aktor yang jujur, dibandingkan dengan 70% dari Demokrat.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Inggris Ganti Perdana...
Inggris Ganti Perdana Menteri 7 Kali dalam 10 Tahun, Ada Apa?
Rekomendasi
Ketua BEM FH UBK Akui...
Ketua BEM FH UBK Akui Terima Rp20 Juta, DPR: Polri Harus Investigasi
Jalur Medan-Berastagi...
Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai
12 Amalan Populer Hari...
12 Amalan Populer Hari Asyura 10 Muharam yang Dianjurkan Rasulullah SAW
Berita Terkini
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Venezuela Diguncang...
Venezuela Diguncang Gempa M7,2 Berturut-turut, Korban Tewas Diperkirakan Ribuan Orang
AS dan Israel Jadi Sumber...
AS dan Israel Jadi Sumber Kerusakan, Iran Serukan Tatanan Baru Negara Islam
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved