Erdogan: Eropa Sedang Panik!

Senin, 06 Juni 2022 - 08:35 WIB
loading...
Erdogan: Eropa Sedang...
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebut Eropa sedang panik menghadapi gelombang pengungsi dari Ukraina akibat perang. Foto/REUTERS
A A A
ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan anggota Uni Eropa (UE) dan negara-negara Eropa lainnya sedang panik atas masuknya pengungsi dari Ukraina .

Berbicara di depan pendukung partainya di kota Kizilcahamam pada hari Minggu, Erdogan mengatakan Turki telah berhasil mengelola migrasi tidak teratur yang berasal dari Suriah selama 11 tahun.

"Kami melihat kepanikan di Eropa sebagai akibat dari krisis Ukraina-Rusia," ujarnya, seperti dikutip dari Russia Today, Senin (6/6/2022).

Presiden Turki melanjutkan dengan mengungkapkan harapan bahwa dunia akan keluar dari periode kritis yang sedang dialaminya sesegera mungkin.

Baca juga: Putin Lontarkan Ancaman Mengerikan pada Ukraina soal Rudal Jarak Jauh

Sejak Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari, hampir 14 juta warga Ukraina telah mengungsi. Data ini bersumber dari laporan yang diterbitkan pada hari Jumat oleh Amin Awad, asisten Sekretaris Jenderal PBB yang juga koordinator krisis PBB untuk Ukraina.

Menurut data itu, sebanyak 6 juta dari orang-orang Ukraina diyakini telah melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Negara-negara anggota UE seperti Polandia, Rumania, dan Hongaria telah menjadi salah satu tujuan utama, selain Rusia, bagi para pengungsi Ukraina.

Selain masalah migrasi yang dipicu oleh perang Ukraina, Erdogan juga menyinggung pengajuan Swedia dan Finlandia untuk menjadi anggota NATO, yang diajukan pada pertengahan Mei, dengan alasan ancaman yang dirasakan dari Rusia.

Presiden Turki menjelaskan bahwa Ankara akan terus memblokir kedua negara itu untuk bergabung dengan blok militer NATO sampai harapan Ankara terpenuhi.

Karena persetujuan bulat dari 30 anggota NATO diperlukan agar anggota baru dapat diterima ke dalam aliansi, keberatan Turki secara efektif telah menahan harapan kedua negara Nordik itu untuk bergabung dalam waktu dekat.

Ankara menegaskan bahwa ia hanya akan membuka blokir aksesi kedua negara itu jika mereka berhenti menyembunyikan orang-orang yang terkait dengan kelompok militan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan organisasi Kurdi lainnya yang dianggap teroris oleh Ankara.

Pertikaian utama lainnya adalah keputusan pada tahun 2019 oleh Stockholm dan Helsinki untuk melarang penjualan senjata ke Turki setelah serangan militer Ankara ke Suriah utara terhadap militan Kurdi. Turki menuntut agar itu dicabut.

Selama pidatonya pada hari Minggu, Erdogan juga berpendapat: "Sistem yang telah dibangun Barat untuk melindungi keamanan dan kesejahteraannya sendiri sedang runtuh."

Dia menyerukan reformasi besar-besaran Dewan Keamanan PBB, mencatat bahwa Bumi lebih besar dari lima negara anggota Dewan Keamanan PBB.

Presiden Turki juga mengatakan bahwa ada indikasi bahwa negara-negara Barat pada akhirnya akan mengadopsi saran yang telah dibuat Ankara selama bertahun-tahun dalam hal ini.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
Drone Ukraina Meledak...
Drone Ukraina Meledak Sendiri di Pelabuhan Negara NATO, Kyiv Tuduh Rusia Kerjai Sinyalnya
Zelensky Tantang Putin...
Zelensky Tantang Putin Bertemu Tatap Muka, Kremlin: Datanglah ke Moskow!
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
Kamuflase Kendaraan...
Kamuflase Kendaraan Perang Rusia Bisa Mengecoh Drone Berteknologi AI
Iran Bantah Serang Bandara...
Iran Bantah Serang Bandara Kuwait, Tuding Sistem Patriot AS Jadi Penyebab
Sultan Brunei Rombak...
Sultan Brunei Rombak Kabinet, Angkat Putranya Pangeran Abdul Mateen Jadi Menlu
Rekomendasi
Kris Tomahu, Gery &...
Kris Tomahu, Gery & Gany, dan Samuel Cipta Antusias Tampil di Konser Tehillim - The Heart of Worship
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Berita Terkini
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
Hanya Karena Dukung...
Hanya Karena Dukung Iran, Presenter TV Cantik Kuwait Ini Dijatuhi Hukuman Penjara
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
Kim Jong-un Perintahkan...
Kim Jong-un Perintahkan AL Korut Produksi Kapal Perusak dan Senjata Bawah Air Rahasia
Infografis
Krisis Kepercayaan pada...
Krisis Kepercayaan pada F-35 Dorong Eropa Kembangkan Jet Tempur Gen 6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved