Ukraina Tuding Rusia Mainkan Hunger Games, Krisis Pangan Mengancam Dunia

Jum'at, 03 Juni 2022 - 16:17 WIB
loading...
A A A
Demikian pula Amerika Serikat melalui Menlu Antony Blinken. Menurut dia, blokade atas pelabuhan Ukraina telah memicu krisis pasokan pangan dan biji-bijian.

“Invasi Rusia yang tidak beralasan telah menghentikan perdagangan maritim di sebagian besar Laut Hitam. Itu telah membuat kawasan itu tidak aman untuk navigasi, menjebak ekspor pertanian Ukraina dan membahayakan pasokan makanan global,” papar Blinken.

Blinken merujuk pada resolusi PBB 2018 yang mengutuk kelaparan sebagai alat perang, dengan mengatakan situasinya telah memburuk sejak saat itu.

"Pengabaian mencolok Federasi Rusia terhadap resolusi ini hanyalah contoh terbaru dari pemerintah yang menggunakan kelaparan warga sipil untuk mencoba memaksakan tujuannya," ujar Blinken.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock menuduh Moskow memang memblokir ekspor gandum Ukraina sebagai senjata perang.

"Rusia memimpin perang ini dengan senjata lain yang mengerikan dan kuat: kelaparan dan kekurangan. Dengan memblokir pelabuhan Ukraina, dengan menghancurkan silo, jalan dan rel kereta api, Rusia telah meluncurkan perang gandum, memicu krisis pangan global," tuding Baerbock pada pertemuan PBB pekan lalu.

Dampak buruk dari invasi militer Rusia ke Ukraina terhadap ketahanan pangan global itu telah berulang kali diserukan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan invasi Rusia yang diikuti blokade laut itu mengancam puluhan juta orang kepada kondisi rawan pangan, yang bisa segera diikuti dengan malnutrisi, gizi buruk dan kelaparan massal.

PBB menegaskan, jutaan orang "berbaris menuju kelaparan" kecuali pelabuhan Ukraina di sepanjang Laut Hitam dibuka kembali. Secara khusus, blokade itu bisa mengancam pasokan makanan ke Afrika sub-Sahara.

Saat berbicara di Global Food Security Call to Action Ministerial pada 18 Mei lalu, Guterres mengatakan dirinya telah melakukan kontak yang intensif dengan Rusia, Ukraina, Turki, Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara lain tentang masalah ini.

"Implikasi keamanan, ekonomi, dan keuangan yang kompleks membutuhkan niat baik di semua pihak untuk mencapai kesepakatan," papar dia.

"Saya tidak akan merinci karena pernyataan publik dapat merusak peluang keberhasilan," ungkap dia.

Namun Rusia bergeming. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan terserah Barat dan Kiev untuk menyelesaikan sendiri krisis tersebut, dan itu harus dimulai dengan pencabutan sanksi terhadap Rusia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Jet Tempur Siluman Su-57...
Jet Tempur Siluman Su-57 Rusia Seharga Rp2 Triliun Jatuh, Bukan akibat Ditembak Ukraina
Jenderal Tertinggi AS...
Jenderal Tertinggi AS Ungkap Jet Tempur F-16 Ukraina Tembak Jatuh Su-35 Rusia dalam Duel Langit
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Feri Tua Membawa 133...
Feri Tua Membawa 133 Orang Terbalik di Pantai Atlantik, 66 Orang Masih Hilang
Perang AS-Iran Memanas,...
Perang AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus 100 Dolar AS per Barel
Rekomendasi
Prabowo Tegaskan Dukungan...
Prabowo Tegaskan Dukungan untuk Palestina Tak Bisa Ditawar!
KPK Dalami Pertemuan...
KPK Dalami Pertemuan Bupati Kuansing Suhardiman Amby dengan Menhut Raja Juli
Alasan Hotman Paris...
Alasan Hotman Paris Tidak Khawatir soal Ucapannya 'Lu Punya Otak Gak?' Dilaporkan ke Polisi
Berita Terkini
Menteri Israel Gabung...
Menteri Israel Gabung 4.000 Massa Yahudi Serbu Kompleks Masjid Al-Aqsa
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Kebakaran Hutan Paksa...
Kebakaran Hutan Paksa 10.000 Orang Mengungsi, Spanyol Nyatakan Darurat Nasional
Seorang Pangeran Arab...
Seorang Pangeran Arab Saudi Tewas di Hotel Kensington usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
Infografis
Ranking FIFA usai Piala...
Ranking FIFA usai Piala Dunia 2026: Spanyol Gusur Argentina dari Takhta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved