Diminta Serahkan Wilayah ke Rusia, Penasihat Zelensky: Brengsek, Apa Anda Gila?

Kamis, 26 Mei 2022 - 07:06 WIB
loading...
Diminta Serahkan Wilayah...
Ledakan guncang area pabrik baja Azovstal di Mariupol, Ukraina, yang dikuasai pasukan Rusia. Para pejabat Kiev menolak saran agar menyerahkan sebagian wilayah Ukraina ke Rusia demi perdamaian. Foto/REUTERS/Alexander Ermochenko
A A A
KIEV - Penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Alexey Arestovich, mengumbar umpatan kasar saat merespons saran pejabat Barat agar Kiev menyerahkan sebagian wilayah ke Rusia demi perdamaian.

Saran itu disampaikan mantan menteri luar negeri Amerika Serikat (AS) Henry Kissinger saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Senin.

Kissinger mendesak Ukraina untuk segera berdamai dan berusaha kembali seperti sebelum Februari atau sebelum invasi Rusia.

“Persetan dengan proposal seperti itu, dasar brengsek, untuk menukar wilayah Ukraina sedikit! Apakah Anda benar-benar gila?" kesal Arestovich dalam sebuah wawancara pada hari Rabu.

Baca juga: Disuruh Berikan Wilayahnya ke Rusia oleh Kissinger, Legislator Ukraina Beri Jawaban Menohok

"Anak-anak kami sekarat, tentara menghentikan peluru dengan tubuh mereka sendiri, dan mereka memberi tahu kami cara mengorbankan wilayah kami. Ini tidak akan pernah terjadi,” lanjut dia, seperti dilansir Russia Today, Kamis (26/5/2022).

Arestovich mengkritik logika suara-suara "mengembik" yang mendorong Ukraina untuk "mengekang nafsu makannya" dan untuk memberi Rusia wilayah yang diinginkannya.

Penasihat Presiden Zelensky lainnya, Mikhail Podoliak, menyampaikan penolakan senada melalui Telegram.

“Kami tidak menjual warga, wilayah, atau kedaulatan kami. Ini adalah garis merah yang jelas," katanya.

"Masyarakat Ukraina telah membayar harga yang mengerikan dan tidak akan membiarkan siapa pun bahkan mengambil langkah ke arah ini--tidak ada pemerintah dan tidak ada negara," lanjut Podoliak.

"Siapa pun yang menyerukan kompromi semacam itu akan mendapatkan tanggapan berprinsip dari Kiev."

Podoliak melanjutkan, meskipun tidak ada yang menginginkan aksi militer yang panjang atau krisis pangan, cara terpendek untuk mengakhiri perang adalah dengan senjata, sanksi dan bantuan keuangan ke Ukraina.

“Ukraina membela Kiev, membebaskan tiga wilayah dan menyelesaikan pembebasan wilayah keempat. Hari ini, orang yang sama menawarkan kami untuk memberi Rusia [wilayah Ukraina] timur dan selatan. Terima kasih atas sarannya, tetapi kami mungkin akan mengangkat senjata," imbuh penasihat presiden tersebut.

Ukraina sebelumnya bersikeras bahwa mereka tidak akan menyetujui proposal perdamaian apa pun yang tidak menghormati perbatasan pra-2014.

Moskow menjelaskan bahwa kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk, serta status Crimea sebagai wilayah Rusia, tidak untuk didiskusikan.

Rusia menyerang negara tetangga itu mulai 24 Februari, yang menurut Moskow, akibat kegagalan Ukraina untuk mengimplementasikan persyaratan perjanjian Minsk tahun 2014.

Serangan juga dimulai setelah Moskow secara resmi mengakui Donetsk dan Luhansk di Donbass, Ukraina timur, sebagai negara merdeka.

Namun, Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali kedua wilayah Donbass itu dengan paksa.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 3 Tewas Tertimpa Reruntuhan, Pemerintah Tetapkan Status Darurat
Pakistan: Ada Pihak...
Pakistan: Ada Pihak yang Ingin Gagalkan Perdamaian AS-Iran
Rekomendasi
Investasi Tepat Sasaran,...
Investasi Tepat Sasaran, Pertamina NRE Raup Dividen dari CREC Filipina
Blusukan, Jokowi Terima...
Blusukan, Jokowi Terima Gelar Adat Tertinggi dari 5 Kerajaan Adat Lampung
Licin! Markas Judi Online...
Licin! Markas Judi Online di Hayam Wuruk Kelola 145 Website untuk Hindari Pemblokiran
Berita Terkini
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
Infografis
Pertama Kalinya, Ukraina...
Pertama Kalinya, Ukraina Gunakan Bom JDAM-ER ke Militer Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved