Tragedi Shireen Abu Akleh, dari Kristen untuk Palestina

Senin, 16 Mei 2022 - 10:24 WIB
loading...
Tragedi Shireen Abu...
Warga Palestina membawa poster bergambar jurnalis Shireen Abu Alkeh yang ditembak mati pasukan Israel. Foto/REUTERS
A A A
YERUSALEM - Kematian jurnalis Palestina-Amerika Serikat , Shireen Abu Akleh, telah menimbulkan shock yang mendalam. Demikian disampaikan Patriarkat Latin Yerusalem dalam sebuah pernyataan.

JurnalisKristen berusia 51 tahun itu sedang meliput penyerbuan tentara Israel ke kamp Jenin, Tepi Barat utara, pada hari Rabu ketika dia ditembak mati oleh tentara Israel.

Saksi mata mengonfirmasi bahwa tembakan pasukan Zionis yang menyebabkan tragedi tersebut, meski Israel sempat menuduh pria bersenjata Palestina sebagai pelakunya.

Baca juga: Tentara Israel Tembak Mati Jurnalis Shireen Abu Alkeh, Begini Kemarahan Dunia

Salah satu rekan Akleh juga terluka saat melakukan tugasnya.

Bagi publik Palestina, khususnya komunitas Kristen, kematian Akleh adalah simbol perjuangan untuk Palestina.

"Mengingat situasinya, kami meminta penyelidikan menyeluruh dan mendesak atas semua keadaan pembunuhannya dan untuk membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan,” bunyi pernyataan Patriarkat Latin Yerusalem.

“Tragedi terang-terangan ini menyoroti kebutuhan untuk menemukan solusi yang adil bagi konflik Palestina," lanjut pernyataan tersebut.

"Kami berdoa untuk sisa jiwa Shireen, yang menjadi contoh tugas dan suara yang kuat untuk rakyatnya."

Profesor Bernard Sabella, mantan perwakilan Fatah dan sekretaris eksekutif saat ini dari Departemen Layanan untuk Pengungsi Palestina di Dewan Gereja Timur Tengah, adalah salah satu orang yang mengenal jurnalis tersebut dan pekerjaannya.

“Ada kesedihan dan kepiluan yang luar biasa,” katanya kepada AsiaNews, yang dilansir Senin (16/5/2022).

“Semua orang merasakan kesedihan mendalam atas kematian jurnalis yang sangat dihargai dan dihormati, selalu profesional dan berimbang, yang saya temui beberapa kali dan kenal secara pribadi.”

Menurutnya, sebagai anggota komunitas Katolik-Yunani, dia memberi kuliah tentang media dan jurnalisme di berbagai universitas.
Melalui karyanya, dia mencontohkan pesan Kristen di Tanah Suci dan tahu bagaimana menjadi bagian dari masyarakat.

Prosesi pemakaman Akleh telah dilangsungkan di Gereja Katolik Yunani dekat Gerbang Jaffa, diikuti dengan penguburannya di pemakaman Kristen di Gunung Sion. Prosesi itu sempat diserang pasukan Israel, yang kembali memicu kecaman dunia internasional.

Patriark Latin Pierbattista Pizzaballa juga berbicara tentang kisah tragis Akleh, yang menyulut kebencian Palestina.

Dalam sebuah pesan kepada keluarga, sang patriark mengatakan bahwa dengan sangat sedih dia mendengar berita tentang "kematian kejam” sang jurnalis. "Terbunuh karena meng-cover penderitaan sehari-hari orang-orang di negeri ini sambil mencoba memberikan perspektif lain hingga konflik kompleks dan bentuk ketidakadilan yang mengobrak-abrik masyarakat di tanah yang sama," katanya.

Kepada keluarga, kenalan, dan teman-temannya, Patriark Pizzaballa menyampaikan belasungkawa dan doa semua uskup, imam, diakon, seminaris, orang-orang yang ditahbiskan dan orang-orang percaya dari Patriarkat Latin Yerusalem.

Pemerintah Israel dan otoritas Palestina telah saling menyalahkan atas kematian Akleh, tetapi pemeriksaan awal dari peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dia meninggal karena peluru yang ditembakkan, mungkin dengan sengaja, oleh seorang anggota pasukan khusus Israel yang terlibat dalam operasi tersebut.

Bagi Al Jazeera, jurnalis yang telah bekerja untuk saluran televisi satelit yang berbasis di Qatar sejak 1997 tersebut dibunuh dengan darah dingin oleh pasukan pendudukan Israel.

Jurnalis Kristen ini memiliki karier yang panjang di belakangnya, dengan 20 tahun liputan berimbang tentang konflik Palestina.

Lahir pada tahun 1971 di Yerusalem Timur, Shireen Abu Akleh pertama kali tertarik pada arsitektur, tetapi kemudian beralih ke jurnalisme, lulus dengan gelar sarjana dalam jurnalisme cetak dari Universitas Yarmouk di Yordania.

Keluarganya berasal dari Betlehem, tetapi dia lahir dan dibesarkan di Yerusalem di mana dia menyelesaikan pendidikan menengahnya di Rosary Sisters School di Beit Hanina.

Setelah lulus dari universitas, dia kembali ke Palestina dan bekerja untuk berbagai perusahaan, termasuk UNRWA, Voice of Palestine Radio, Amman Satellite Channel, Miftah Foundation, dan Radio Monte Carlo.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Sadisnya Tentara Israel,...
Sadisnya Tentara Israel, Tembak Mati Pria Palestina yang Sedang Tidur
Berani Tanpa AS, Netanyahu:...
Berani Tanpa AS, Netanyahu: Kami akan Masuk ke Iran
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Didemo atas Tuduhan...
Didemo atas Tuduhan Korupsi, Presiden Serbia Vucic Umumkan Akan Mundur
Rekomendasi
Ekspor Batu Bara Dibuka...
Ekspor Batu Bara Dibuka Lagi, Pasokan 141 Juta Metrik Ton Diamankan demi Cegah Pemadaman Listrik
Dukung Generasi Alpha...
Dukung Generasi Alpha dan Beta, S-26 Gelar Event di Surabaya dan Jakarta
Mengintip Kunci Sukses...
Mengintip Kunci Sukses Anas Fikry dan Risky Adelia Regina Putri: Padukan Kehangatan Keluarga dan Aksi Sosial
Berita Terkini
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved