Perdana Menteri Kepulauan Virgin Ditangkap Atas Tuduhan Penyelundupan Narkoba

Jum'at, 29 April 2022 - 20:02 WIB
loading...
Perdana Menteri Kepulauan...
Perdana Menteri Kepulauan Virgin, Andrew Fahie, ditangkap atas tuduhan penyelundupan narkoba. Foto/Al Arabiya
A A A
WASHINGTON - Perdana Menteri Kepulauan Virgin ditangkap di Miami, Amerika Serikat (AS) pada Kamis waktu setempat. Ia juga dituduh setuju untuk membantu seorang informan federal yang menyamar sebagai anggota kartel Sinaloa memindahkan ribuan kilo kokain melalui pelabuhan negaranya, menurut dokumen pengadilan federal.

Menurut pengaduan yang diajukan di Pengadilan Distrik AS di Miami, pejabat tinggi pelabuhan negara itu juga ditahan atas tuduhan pencucian uang dan konspirasi narkoba.

Menurut pengaduan itu, Perdana Menteri Kepulauan Virgin, Andrew Fahie (51), ditangkap di Bandara Eksekutif Miami-Opa locka setelah dia naik jet pribadi dan memeriksa tas belanja berisi uang tunai USD700.000 atau sekitar Rp10,1 miliar.

"Mengapa saya ditangkap," katanya, menurut dokumen tersebut. "Saya tidak punya uang atau obat-obatan," sambungnya seperti dikutip dari NBC News, Jumat (29/4/2022).

Oleanvine Maynard, direktur pelaksana otoritas pelabuhan negara itu, ditangkap pada Kamis malam setelah pihak berwenang menuduhnya menerima pembayaran USD200.000 atau sekitar Rp2,8 miliar sebagai bagian dari kesepakatan.

Baca juga: China dan Iran Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Militer

"Putra Maynard, Kadeem Maynard, yang dituduh membantu menengahi pengaturan itu, juga ditangkap atas tuduhan konspirasi narkoba dan pencucian uang," kata Anne Milgram, administrator badan anti narkoba AS, DEA.

"Hari ini adalah contoh lain dari tekad DEA untuk meminta pertanggungjawaban anggota pemerintah yang korup karena menggunakan posisi kekuasaan mereka guna menyediakan tempat yang aman bagi pengedar narkoba dan pencuci uang dengan imbalan keuntungan finansial dan politik mereka sendiri," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dalam sebuah pernyataan, Gubernur Kepulauan Virgin Inggris John Rankin mengatakan penyelidikan kriminal itu tidak terkait dengan penyelidikan terpisah yang dipimpin oleh Inggris terkait dugaan korupsi di pulau itu.

"Saya menyadari ini akan menjadi berita mengejutkan bagi orang-orang di wilayah itu," katanya.

"Dan saya akan menyerukan untuk tetap tenang saat ini," imbuhnya.

Baca juga: Israel Tangkap dan Hancurkan Kapal 6 Nelayan Palestina di Lepas Pantai Gaza

Dalam pernyataan terpisah, Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss menyebut tuduhan itu "mengerikan" dan mengatakan dia mengadakan pertemuan darurat dengan kabinet wilayah itu pada Kamis malam.

Tidak segera jelas apakah Fahie dan keluarga Maynard memiliki pengacara untuk berbicara atas nama mereka. Catatan pengadilan tidak mencantumkan apa pun.

Menurut dokumen, informan bertemu dengan Fahie, Maynard dan orang ketiga pada 7 April di pulau Tortola dan membuat kesepakatan untuk "jalan bebas" pengiriman 3.000 kilo kokain dari Kolombia ke AS.

Pertemuan Kamis di Florida digambarkan dalam dokumen itu sebagai operasi "uji coba."

Fahie diduga telah setuju untuk menerima 12 persen dari hasil penjualan, dan informan tersebut berjanji untuk mengiriminya kokain dengan kemurnian rendah yang dapat disita oleh pihak berwenang setempat untuk menunjukkan bahwa Fahie menindak perdagangan narkoba, kata pihak berwenang.

Baca juga: Redam Lonjakan Covid-19, China Tutup Semua Sekolah di Beijing

"Fahie menyukai ide itu, dan menjelaskan bahwa di masa lalu dia tidak pernah dibayar di akhir keterlibatannya dalam skema seperti ini," kata dokumen itu.

Tidak segera jelas kapan Fahie dan Maynard pertama kali muncul di pengadilan.

Fahie, yang terpilih pada 2019, juga ketua Partai Kepulauan Virgin. Sedangkan Maynard diangkat ke jabatannya pada tahun 2021.

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Penembakan di Fasilitas...
Penembakan di Fasilitas Remaja, 6 Orang Tewas
Rekomendasi
Profil Orlando Gill,...
Profil Orlando Gill, Pahlawan Paraguay yang Kubur Ambisi Jerman di Piala Dunia 2026
Sundulan Issa Diop Paksa...
Sundulan Issa Diop Paksa Laga Belanda vs Maroko Lanjut ke Extra Time
Rekam Jejak Paraguay,...
Rekam Jejak Paraguay, Spesialis Adu Penalti yang Pulangkan Jerman di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Infografis
Kisah Jenderal Hoegeng...
Kisah Jenderal Hoegeng Menyamar Jadi Hippies, Turun Langsung Bongkar Narkoba
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved