Menlu Argentina: Sanksi Tidak akan Membawa Perdamaian

Senin, 25 April 2022 - 17:14 WIB
loading...
Menlu Argentina: Sanksi...
Menlu Argentina Santiago Cafiero (kanan) bertemu Menlu Rusia Sergey Lavrov (kiri) di Roma, Italia, 30 Oktober 2021. Foto/Global Look Press/Russian Foreign Ministry
A A A
ROMA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Argentina Santiago Cafiero menyatakan sanksi tidak akan membantu mencapai perdamaian dan mendorong dialog, atas konflik di Ukraina.

Cafiero mengatakan kepada kantor berita Telam pada Sabtu (23/4/2022) bahwa negaranya tidak akan bergabung dengan mereka yang menempatkan pembatasan di Rusia.

“Apa yang Argentina cari dan usulkan adalah kembalinya dialog,” ujar diplomat itu di Roma, tempat dia bertemu dengan Menlu Italia Luigi Di Maio.

Baca juga: China Bangun Sistem Pertahanan Luar Angkasa, Ini Targetnya

Cafiero juga mengatakan Buenos Aires bahkan tidak memiliki kerangka peraturan untuk sanksi sepihak, dan sebaliknya memiliki undang-undang yang mencegah tindakan semacam ini oleh pemerintah.

Baca juga: Israel Mengaku Tak Berencana Membagi Kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem

Menurut dia, pemerintahnya mengatasi tantangan yang dihadapi dunia saat ini dengan seruan untuk perdamaian.

Baca juga: Singgung China, Menhan Dutton Sebut Australia Harus Siap Perang

“Kami sejujurnya tidak percaya bahwa menjatuhkan sanksi atau blokade akan produktif untuk perdamaian, dialog, dan negosiasi diplomatik,” papar dia.

Berbicara tentang peran sanksi di kawasan Amerika Latin, Cafiero mengatakan, “Apa jenis tindakan ini … telah menghasilkan ketidaksetaraan yang lebih besar dan kemunduran yang lebih besar dari sudut pandang sosial.”

Argentina juga merupakan salah satu dari sedikit negara, di samping Meksiko dan Brasil yang abstain selama pemungutan suara untuk menangguhkan status Rusia sebagai pengamat tetap Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) atas tindakannya di Ukraina.

Resolusi itu masih disahkan awal pekan ini dan dipuji AS sebagai “pesan yang jelas kepada Kremlin.”

“Banyaknya negara di Amerika meminta Kremlin mengakhiri perang yang tidak berbudi, menarik pasukannya, dan mematuhi hukum internasional,” ujar Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam pernyataan, Kamis.

AS dan sekutunya di Eropa dan sekitarnya telah memberlakukan sejumlah sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia atas serangan militernya.

Pembatasan menargetkan sektor keuangan dan perbankan Moskow, industri luar angkasa dan penerbangan, serta ekspor bahan bakar.

Rusia menyerang negara tetangga itu pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina mengimplementasikan persyaratan perjanjian Minsk, yang pertama kali ditandatangani pada 2014, dan pengakuan akhirnya Moskow atas Republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Protokol yang diperantarai Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina.

Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim pihaknya berencana merebut kembali kedua republik dengan paksa.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Kamuflase Kendaraan...
Kamuflase Kendaraan Perang Rusia Bisa Mengecoh Drone Berteknologi AI
Presiden Jerman Akan...
Presiden Jerman Akan Kunjungi Jakarta 15 Juni, Boyong Delegasi Bisnis dan Peneliti
AS Ancam Serang Infrastruktur...
AS Ancam Serang Infrastruktur Iran, Presiden Pezeshkian: Mereka Putus Asa!
Rekomendasi
Gulkarmat Jakarta Evakuasi...
Gulkarmat Jakarta Evakuasi 26 Penumpang Kapal di Perairan Kepulauan Seribu
Jetour T1 Hadir Dua...
Jetour T1 Hadir Dua Rasa, Mana yang Lebih Layak Dibeli: ICE Rp388 Juta atau PHEV Rp538 Juta?
Demonstrasi Ketidakpastian...
Demonstrasi Ketidakpastian Hukum dalam Penanganan Perkara dr Tifa dan Roy Suryo pada Polemik Ijazah Joko Widodo
Berita Terkini
Tak Ingin Terus Jadi...
Tak Ingin Terus Jadi Target Rudal Iran, UEA Bayar Rp53 Triliun ke Teheran
Dunia Segara Akan Dengar...
Dunia Segara Akan Dengar Gema Kemenangan Iran
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
Infografis
Keterbatasan Strategis...
Keterbatasan Strategis USS Abraham Lincoln: Si ’Benteng Terapung’ yang Tidak Kebal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved