Mantan Presiden Yaman Diduga dalam Tahanan Rumah di Arab Saudi
Selasa, 19 April 2022 - 21:23 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bentrok di Masjid Al Aqsa Berlanjut, Israel Terus Kerahkan Pasukan
Namun dia mengatakan akan membutuhkan waktu untuk mengatur panggilan telepon dengan Hadi. Dia menyebut beberapa tingkat pembatasan komunikasinya.
“Beberapa pejabat Saudi juga dilaporkan mengancam untuk mempublikasikan apa yang mereka katakan sebagai bukti korupsi yang diduga dilakukan oleh Hadi untuk memaksa pengunduran dirinya,” ungkap laporan WSJ yang kemudian mengutip pejabat anonim lain yang menolak tuduhan ini.
"Arab Saudi tidak mengatur pencopotan Hadi atau mengancam akan mengungkap dugaan korupsi," papar mereka.
Sumber itu menjelaskan, “Perannya terbatas untuk menyampaikan keinginan faksi-faksi Yaman yang berpartisipasi bersama dalam pembicaraan Yaman-Yaman kepada Presiden Hadi.”
Pengunduran diri Hadi mengikuti lebih dari tujuh tahun pertempuran brutal di Yaman, di mana koalisi negara-negara yang dipimpin Arab Saudi dan sangat didukung Amerika Serikat, melancarkan kampanye pengeboman tanpa henti.
Serangan militer itu membantu mendorong apa yang dianggap PBB sebagai bencana kemanusiaan paling mengerikan di dunia.
Namun dia mengatakan akan membutuhkan waktu untuk mengatur panggilan telepon dengan Hadi. Dia menyebut beberapa tingkat pembatasan komunikasinya.
“Beberapa pejabat Saudi juga dilaporkan mengancam untuk mempublikasikan apa yang mereka katakan sebagai bukti korupsi yang diduga dilakukan oleh Hadi untuk memaksa pengunduran dirinya,” ungkap laporan WSJ yang kemudian mengutip pejabat anonim lain yang menolak tuduhan ini.
"Arab Saudi tidak mengatur pencopotan Hadi atau mengancam akan mengungkap dugaan korupsi," papar mereka.
Sumber itu menjelaskan, “Perannya terbatas untuk menyampaikan keinginan faksi-faksi Yaman yang berpartisipasi bersama dalam pembicaraan Yaman-Yaman kepada Presiden Hadi.”
Pengunduran diri Hadi mengikuti lebih dari tujuh tahun pertempuran brutal di Yaman, di mana koalisi negara-negara yang dipimpin Arab Saudi dan sangat didukung Amerika Serikat, melancarkan kampanye pengeboman tanpa henti.
Serangan militer itu membantu mendorong apa yang dianggap PBB sebagai bencana kemanusiaan paling mengerikan di dunia.
Lihat Juga :