Jenderal Dvornikov, Komandan Perang Baru Rusia yang Dicap Brutal di Suriah
Senin, 11 April 2022 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
“Tidak masalah jenderal mana yang coba ditunjuk oleh Presiden Putin," katanya.
“Tapi, seperti yang Anda catat, jenderal khusus ini memiliki resume yang mencakup kebrutalan terhadap warga sipil di teater lain, di Suriah. Dan kita bisa mengharapkan lebih banyak hal yang sama di teater ini."
Baca juga: AS Bangga Kirim Senjata ke Ukraina Setiap Hari untuk Usir Rusia
Ukraina, AS, dan negara-negara lain menuduh pasukan Rusia melakukan kejahatan perang di kota-kota yang mereka duduki di utara, termasuk Bucha, tempat ditemukannya kuburan massal warga sipil saat pasukan Rusia mundur. Namun, Moskow membantah tuduhan tersebut dan menganggapnya sebagai propaganda kotor Kiev.
Jenderal David Petraeus, mantan komandan pasukan NATO di Afghanistan yang mengepalai Badan Intelijen Pusat (CIA) di bawah Presiden Barack Obama, mengatakan kepada CNN pada hari Minggu bahwa struktur komando yang lebih ramping mencerminkan keinginan Rusia untuk memiliki sesuatu untuk diklaim sebagai kemenangan pada 9 Mei. Tanggal itu merupakan Hari kemenangan Perang II.
Petraeus juga mengatakan lebih banyak warga sipil kemungkinan akan menjadi sasaran. “Rusia dikenal di Suriah pada dasarnya untuk 'mengurangi populasi'. Itulah yang mereka lakukan pada Aleppo. Itu yang mereka lakukan ke daerah lain. Dan saya pikir kita bisa mengharapkan itu," paparnya.
“Tapi, seperti yang Anda catat, jenderal khusus ini memiliki resume yang mencakup kebrutalan terhadap warga sipil di teater lain, di Suriah. Dan kita bisa mengharapkan lebih banyak hal yang sama di teater ini."
Baca juga: AS Bangga Kirim Senjata ke Ukraina Setiap Hari untuk Usir Rusia
Ukraina, AS, dan negara-negara lain menuduh pasukan Rusia melakukan kejahatan perang di kota-kota yang mereka duduki di utara, termasuk Bucha, tempat ditemukannya kuburan massal warga sipil saat pasukan Rusia mundur. Namun, Moskow membantah tuduhan tersebut dan menganggapnya sebagai propaganda kotor Kiev.
Jenderal David Petraeus, mantan komandan pasukan NATO di Afghanistan yang mengepalai Badan Intelijen Pusat (CIA) di bawah Presiden Barack Obama, mengatakan kepada CNN pada hari Minggu bahwa struktur komando yang lebih ramping mencerminkan keinginan Rusia untuk memiliki sesuatu untuk diklaim sebagai kemenangan pada 9 Mei. Tanggal itu merupakan Hari kemenangan Perang II.
Petraeus juga mengatakan lebih banyak warga sipil kemungkinan akan menjadi sasaran. “Rusia dikenal di Suriah pada dasarnya untuk 'mengurangi populasi'. Itulah yang mereka lakukan pada Aleppo. Itu yang mereka lakukan ke daerah lain. Dan saya pikir kita bisa mengharapkan itu," paparnya.
(min)
Lihat Juga :