Zelensky Serukan Rusia Dicopot dari Dewan Keamanan PBB
Rabu, 06 April 2022 - 00:01 WIB
loading...
A
A
A
Sekretaris Jenderal PBB Antóoio Guterres mengatakan bahwa dia juga telah mengarahkan penyelidikan independen ke dalam kekejaman yang ditemukan di Bucha, menambahkan bahwa dia “sangat terkejut” dengan kesaksian pribadi tentang pemerkosaan dan kekerasan seksual.
Baca juga: Medvedev Kecam Provokasi Bucha dan Propaganda Rumah Sakit Mariupol
"Saya sangat menyesalkan perpecahan yang telah mencegah Dewan Keamanan bertindak tidak hanya di Ukraina, tetapi juga pada ancaman lain terhadap perdamaian dan keamanan di seluruh dunia," kata Gutterres.
“Saya mendesak dewan untuk melakukan segala daya untuk mengakhiri perang dan untuk mengurangi dampaknya baik pada orang-orang yang menderita di Ukraina dan pada orang-orang yang rentan di negara-negara berkembang di seluruh dunia,” ujarnya.
Rosemary DiCarlo, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian, juga memperbarui dewan tentang korban terbaru yang datang dari Ukraina, mengatakan bahwa badan pemantauan hak asasi manusia PBB telah mengkonfirmasi 1.480 warga sipil tewas, dan 2.195 terluka sejak 24 Februari, tetapi angka sebenarnya jauh lebih tinggi.
Tidak ada ketentuan atau mekanisme untuk memberhentikan anggota tetap Dewan Keamanan yang tertulis dalam piagam PBB. Lima anggota tetap adalah Rusia, Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, dan China.
Setiap anggota tetap memiliki hak veto untuk menolak tindakan yang diajukan untuk pemungutan suara di Dewan Keamanan. Tindakan ini dapat termasuk menjatuhkan sanksi atau mengizinkan penggunaan kekuatan untuk menjaga atau memulihkan perdamaian keamanan internasional, meskipun dewan tersebut belum mengambil tindakan terkait dengan perang Rusia saat ini di Ukraina.
Baca juga: Citra Satelit Patahkan Bantahan Rusia soal Pembantaian Mengerikan Bucha
Rusia telah menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan untuk menolak pernyataan resolusi mengutuk invasi Moskow yang dimulai pada 24 Februari, meskipun dalam dua pemungutan suara di Majelis Umum mayoritas negara anggota memilih untuk mengutuk Rusia sebagai agresor.
Baca juga: Medvedev Kecam Provokasi Bucha dan Propaganda Rumah Sakit Mariupol
"Saya sangat menyesalkan perpecahan yang telah mencegah Dewan Keamanan bertindak tidak hanya di Ukraina, tetapi juga pada ancaman lain terhadap perdamaian dan keamanan di seluruh dunia," kata Gutterres.
“Saya mendesak dewan untuk melakukan segala daya untuk mengakhiri perang dan untuk mengurangi dampaknya baik pada orang-orang yang menderita di Ukraina dan pada orang-orang yang rentan di negara-negara berkembang di seluruh dunia,” ujarnya.
Rosemary DiCarlo, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian, juga memperbarui dewan tentang korban terbaru yang datang dari Ukraina, mengatakan bahwa badan pemantauan hak asasi manusia PBB telah mengkonfirmasi 1.480 warga sipil tewas, dan 2.195 terluka sejak 24 Februari, tetapi angka sebenarnya jauh lebih tinggi.
Tidak ada ketentuan atau mekanisme untuk memberhentikan anggota tetap Dewan Keamanan yang tertulis dalam piagam PBB. Lima anggota tetap adalah Rusia, Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, dan China.
Setiap anggota tetap memiliki hak veto untuk menolak tindakan yang diajukan untuk pemungutan suara di Dewan Keamanan. Tindakan ini dapat termasuk menjatuhkan sanksi atau mengizinkan penggunaan kekuatan untuk menjaga atau memulihkan perdamaian keamanan internasional, meskipun dewan tersebut belum mengambil tindakan terkait dengan perang Rusia saat ini di Ukraina.
Baca juga: Citra Satelit Patahkan Bantahan Rusia soal Pembantaian Mengerikan Bucha
Rusia telah menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan untuk menolak pernyataan resolusi mengutuk invasi Moskow yang dimulai pada 24 Februari, meskipun dalam dua pemungutan suara di Majelis Umum mayoritas negara anggota memilih untuk mengutuk Rusia sebagai agresor.
(ian)
Lihat Juga :