Putin Mulai Balas Dendam dengan Gas, 48 Negara Tak Bersahabat Ini Targetnya

Kamis, 24 Maret 2022 - 08:55 WIB
loading...
Putin Mulai Balas Dendam...
Presiden Vladimir Putin putuskan hanya menerima pembayaran mata uang rubel untuk pembelian gas Rusia oleh negara-negara tak bersahabat yang telah menjatuhkan sanksi pada Moskow. Foto/REUTERS
A A A
MOSKOW - Presiden Vladimir Putin mulai membalas 48 negara dan teritori asing yang dinyatakan "tak bersahabat" karena menjatuhkan sanksi terhadap Rusia terkait invasinya ke Ukraina . Caranya, dia hanya menerima mata uang rubel untuk pembelian gas Rusia.

Berikut 48 negara dan teritori asing yang dinyatakan tak bersahabat dengan Rusia karena menjatuhkan sanksi:
1. Amerika Serikat
2. Kanada
3. Uni Eropa (mencakup 27 negara)
4. Inggris (mencakup Jersey, Anguilla, British Virgin Island, Gibraltar)
5. Ukraina
6. Montenegro
7. Swiss
8. Albania
9. Andorra
10. Islandia
11. Liechtenstein
12. Monako
13. Norwegia
14. San Marino
15. Makedonia Utara
16. Jepang
17. Korea Selatan
18. Australia
19. Mikronesia
20. Selandia Baru
21. Singapura
22. Taiwan (dianggap sebagai wilayah China, tetapi memerintah sendiri sejak 1949).

Rubel, mata uang Rusia, sempat melompat ke level tertinggi tiga minggu terakhir; 95 terhadap dolar pada hari Rabu di Moskow, sebelum ditutup mendekati 100.

Baca juga: Putin: Negara Tak Bersahabat Bayar Gas Rusia dengan Rubel

Lompatan itu terjadi setelah Putin mengatakan Rusia akan mulai menjual gasnya ke "negara-negara tak bersahabat" dalam rubel.

Potensi konsekuensi dari langkah itu, yang diperintahkan Putin kepada pemerintahnya untuk diselesaikan dalam satu minggu, dapat meningkatkan mata uang Rusia, di mana sejumlah negara Eropa masih bergantung pada Moskow untuk sebagian besar pasokan energi mereka.

Pada pukul 13.13 GMT, rubel 3,4 persen lebih kuat terhadap dolar pada 100,02, sebelumnya terpotong 94,9875, terkuat sejak 2 Maret. Rubel telah naik 3,5 persen diperdagangkan pada 110,50 versus euro.

Rubel telah stabil mendekati 105 terhadap dolar dalam beberapa sesi terakhir setelah jatuh ke rekor terendah 120 di Moskow bulan ini dan bahkan lebih jauh di pasar antar bank menjadi 150.

Rusia telah menerima pukulan dari sanksi Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya atas peristiwa di Ukraina, yang disebutnya sebagai “operasi militer khusus”, yang dimulai pada 24 Februari.

Sebelum itu, rubel diperdagangkan sekitar 80 terhadap dolar.

Putin membuat pengumuman pada pertemuan dengan menteri tinggi pemerintah yang disiarkan televisi pada hari Rabu.

Dia mengatakan Rusia akan mulai menjual gas ke negara-negara "tidak tak bersahabat" dalam rubel, setelah pembekuan aset Rusia oleh negara asing telah menghancurkan kepercayaan Moskow.

Ketergantungan negara-negara Eropa pada gas dan ekspor Rusia lainnya telah menjadi sorotan sejak invasi Moskow ke Ukraina.

“Rusia akan terus, tentu saja, untuk memasok gas alam sesuai dengan volume dan harga...tetap dalam kontrak yang disepakati sebelumnya,” kata Putin pada pertemuan yang disiarkan televisi dengan para menteri tinggi pemerintah.

"Perubahan hanya akan memengaruhi mata uang pembayaran, yang akan diubah menjadi rubel Rusia," katanya lagi, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (24/3/2022).

Putin mengatakan pemerintah dan bank sentral memiliki waktu satu minggu untuk menemukan solusi tentang bagaimana memindahkan operasi ini ke mata uang Rusia dan raksasa gas Gazprom akan diperintahkan untuk membuat perubahan yang sesuai pada kontrak gas.

Pada 27 Januari, penjualan gas alam Gazprom ke Eropa dan negara-negara lain terutama diselesaikan dalam euro, sekitar 58 persen.

“Prosedur pembayaran yang dapat dimengerti dan transparan harus dibuat untuk [semua pembeli asing], termasuk memperoleh rubel Rusia di pasar mata uang domestik kita,” kata Putin.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Viral, Ribuan Warga...
Viral, Ribuan Warga Malaysia Antre 2 Km di Bawah Terik Matahari untuk Melamar Kerja
Rekomendasi
Warga Tangsel Resah...
Warga Tangsel Resah Dipungut Biaya Pemakaman hingga Jutaan Rupiah
Protes Penangkapan Roy...
Protes Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa, Ahmad Khozinudin Bandingkan Silfester Matutina yang Tak Kunjung Dieksekusi
Beda dengan PKB, Golkar...
Beda dengan PKB, Golkar Pilih Hormati Sikap PDIP sebagai Partai Penyeimbang
Berita Terkini
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved