Ukraina Tuding Pasukan Rusia Culik Lebih dari 2.300 Anak-anak
Rabu, 23 Maret 2022 - 04:14 WIB
loading...
Ukraina tuding pasukan Rusia culik lebih dari 2.300 anak-anak. Foto/Ilustrasi
A
A
A
KIEV - Ribuan anak Ukraina telah "diculik" oleh pasukan Vladimir Putin dan dibawa ke Rusia , demikian klaim terbaru yang dikeluarkan oleh Kiev.
Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan bahwa 2.389 anak telah diangkut melintasi perbatasan dari wilayah timur Donetsk dan Luhansk.
“Ini bukan bantuan. Ini adalah penculikan,” kicau Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Kiev, mengutip Kementerian Luar Negeri Ukraina seperti dikutip dari Independent, Rabu (23/3/2022).
Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebutnya sebagai "pelanggaran berat terhadap hukum internasional".
Meskipun tidak dapat diverifikasi secara independen, klaim penculikan itu muncul setelah pihak berwenang di Mariupol mengatakan beberapa ribu penduduknya telah dideportasi secara paksa ke Rusia.
Moskow terus mengepung kota-kota di seluruh Ukraina, termasuk Mariupol, yang sebagian besar telah hancur setelah lebih dari tiga minggu serangan Rusia.
Menggambarkan dua bom besar lagi yang melanda Mariupol pada hari Selasa, dewan lokal mengatakan kota itu telah berubah menjadi "abu tanah mati".
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menggemakan penilaian ini. "Tidak ada yang tersisa di sana," katanya kepada parlemen Italia melalui tautan video pada hari Selasa.
Baca juga: Dituding Biden Berencana Gunakan Senjata Kimia, Ini Jawaban Rusia
Terletak di Laut Azov, kota pelabuhan adalah rumah bagi 400.000 orang sebelum invasi Kremlin. Warga sipil di sana berjuang dengan persediaan makanan dan air yang terbatas, dengan sebagian besar orang tidak dapat melarikan diri karena pemboman rutin Rusia.
Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan bahwa 2.389 anak telah diangkut melintasi perbatasan dari wilayah timur Donetsk dan Luhansk.
“Ini bukan bantuan. Ini adalah penculikan,” kicau Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Kiev, mengutip Kementerian Luar Negeri Ukraina seperti dikutip dari Independent, Rabu (23/3/2022).
Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebutnya sebagai "pelanggaran berat terhadap hukum internasional".
Meskipun tidak dapat diverifikasi secara independen, klaim penculikan itu muncul setelah pihak berwenang di Mariupol mengatakan beberapa ribu penduduknya telah dideportasi secara paksa ke Rusia.
Moskow terus mengepung kota-kota di seluruh Ukraina, termasuk Mariupol, yang sebagian besar telah hancur setelah lebih dari tiga minggu serangan Rusia.
Menggambarkan dua bom besar lagi yang melanda Mariupol pada hari Selasa, dewan lokal mengatakan kota itu telah berubah menjadi "abu tanah mati".
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menggemakan penilaian ini. "Tidak ada yang tersisa di sana," katanya kepada parlemen Italia melalui tautan video pada hari Selasa.
Baca juga: Dituding Biden Berencana Gunakan Senjata Kimia, Ini Jawaban Rusia
Terletak di Laut Azov, kota pelabuhan adalah rumah bagi 400.000 orang sebelum invasi Kremlin. Warga sipil di sana berjuang dengan persediaan makanan dan air yang terbatas, dengan sebagian besar orang tidak dapat melarikan diri karena pemboman rutin Rusia.
Lihat Juga :