Terungkap, Rusia Gunakan Drone Israel untuk Lawan UAV Turki Andalan Ukraina

Kamis, 17 Maret 2022 - 09:22 WIB
loading...
Terungkap, Rusia Gunakan...
Drone Forpost-R Rusia, yang aslinya Searcher II buatan Israel, digunakan Moskow dalam serangan udara di Ukraina. Foto/Bulgarian Military
A A A
MOSKOW - Rusia diketahui menggunakan drone atau UAV taktis Forpost-R, yang aslinya buatan Israel, untuk meluncurkan serangan udara di Ukraina .

Drone itu juga untuk melawan UAV Bayraktar TB-2 buatan Turki yang disebut telah menimbulkan kerusakan signifikan di pihak Moskow.

Berasal dari UAV Searcher II Israel dan dibuat di Rusia, Forpost dapat digunakan baik untuk misi serangan maupun pengintaian.

Pada 13 Maret, Kementerian Pertahanan Rusia merilis sebuah video yang menunjukkan drone Forpost-R bersenjata lepas landas dari landasan pacu yang dirahasiakan, setelah itu terlihat menghancurkan sistem roket peluncuran ganda (MLRS) Ukraina.

Sejumlah video yang beredar di media sosial, menunjukkan drone itu mendatangkan malapetaka pada pasukan militer Ukraina dan peralatan mereka.

Baca juga: Presiden Ukraina Zelensky: Perang Dunia III Mungkin Sudah Dimulai!

Video-video itu diduga kuat merupakan kejadian pada 11 Maret ketika penyebaran drone Forpost-R dalam perang yang sedang berlangsung di Ukraina pertama kali diketahui.

Foto-foto reruntuhan pesawat tak berawak (UAV) Rusia yang jatuh juga muncul di media sosial. Sebuah plakat bertuliskan logo Israel Aerospace Industries (IAI) terlihat di reruntuhan.

Pada 2019, sebuah UAV Forpost Rusia ditembak jatuh di Suriah. Seorang analis pertahanan telah menulis dalam artikelnya tentang penggunaan drone itu di Suriah, sebagaimana dikutip situs intelijen keamanan dan pertahanan; Janes, Kamis (17/3/2022).

"Ini biasanya tidak akan membuat heran, tetapi Israel dan Suriah adalah musuh, jadi itu adalah perkembangan yang patut dicatat bahwa pesawat tak berawak Israel membantu Suriah melalui Rusia. Terkadang perang membuat teman tidur yang aneh," bunyi analisis tersebut.

Forpost adalah UAV pengintai yang dibangun oleh Ural Civil Aviation Plant (UZGA) yang berbasis di Yekaterinburg di bawah produksi lisensi berdasarkan drone Searcher Mk II Israel. Rusia telah memperoleh lisensi pada tahun 2015.

Namun, ketika hubungan antara Barat dan Rusia memburuk, Israel menyerah pada tekanan AS pada 2016 dan menghentikan pengiriman komponen ke Rusia.

Keputusan Israel mendorong Kementerian Pertahanan Rusia untuk meluncurkan program pribumisasi Forpost. Pengembangan varian serangan drone diberi prioritas.

Forpost sebelumnya telah digunakan untuk pengawasan, pengintaian, akuisisi dan penunjukan target, penyesuaian tembakan artileri, penilaian kerusakan, dan pengawasan misi.

Ketua UZGA memberi tahu Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu pada Januari 2017 bahwa versi asli dan yang di-upgrade dari Forpost akan tersedia untuk pengiriman pada 2019.

Pada Agustus 2019, Kementerian Pertahanan merilis video UAV yang dikenal sebagai Forpost-R. Rusia lebih lanjut mengeklaim bahwa fase pengujian Forpost-R telah berakhir dan bahwa UAV akan mulai beroperasi pada tahun 2020.

Kementerian Pertahanan mengeklaim UAV baru dilengkapi dengan mesin piston APD-85 buatan Rusia, elektro-optik, elektronik, sistem datalink, dan bekerja pada perangkat lunak lokal.

Forpost-R juga memiliki badan pesawat yang diperkuat untuk menambah daya tahan.

UAV ini memiliki daya tahan maksimum 18 jam, berat lepas landas 500 kg, ketinggian layanan terbang sekitar 20.000 kaki, dan jangkauan maksimum sekitar 400 kilometer.

Kementerian Pertahanan dan UZGA menandatangani kesepakatan pada Februari 2020 untuk 10 drone Forpost-R baru. Forpost-R dipamerkan di pameran pertahanan Army-2021 di Kubinka, Rusia, pada Agustus 2021. Ia dilengkapi dengan dua rudal anti-tank (ATGM) dari sistem Kornet 9K135.

Selama latihan perang Zapad-2021 pada bulan September, sebuah Forpost-R yang dilengkapi dengan dua bom berpemandu keluarga KAB-20, satu di bawah setiap sayap, terlihat beraksi. Forpost-R yang ditampilkan dalam video Kementerian Pertahanan terlihat dilengkapi dengan keluarga bom yang sama.

KAB adalah singkatan dari Korrektiruemaya Aviatsionnaya Bomba, yang diterjemahkan sebagai "bom udara yang dikoreksi" dalam bahasa Inggris. Angka "20" menandakan perkiraan berat persenjataan dalam kilogram.

Keluarga KAB-20 dibuat oleh Central Scientific Research Institute of Chemistry and Mechanics.

Terlepas dari keluarga 9M133 dan KAB-20, Forpost-R dapat dilengkapi dengan berbagai "bom bodoh" serbaguna. UAV ini dilaporkan mampu membawa muatan hingga 120 kg.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Berani Tanpa AS, Netanyahu:...
Berani Tanpa AS, Netanyahu: Kami akan Masuk ke Iran
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Israel Incar Pemimpin...
Israel Incar Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, Siap Perang Lagi 
Rekomendasi
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Hakim: Kerugian Negara...
Hakim: Kerugian Negara Akibat Kasus Chromebook Nadiem Rp1,5 Triliun
Berita Terkini
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Infografis
Jet Tempur Su-27 Ukraina...
Jet Tempur Su-27 Ukraina Jatuh saat Duel Lawan Drone Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved