Biden Peringatkan Rusia Jika Gunakan Senjata Kimia di Ukraina

Sabtu, 12 Maret 2022 - 08:05 WIB
loading...
Biden Peringatkan Rusia...
Presiden AS Joe Biden memperingatkan Rusia akan membayar harga yang mahal jika menggunakan senjata kimia di Ukraina. Foto/Reuters/Kevin Lamarque
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden , memperingatkan bahwa Rusia akan membayar "harga yang mahal" jika negara itu menggunakan senjata kimia di Ukraina .

Biden mengumumkan sanksi perdagangan baru pada Rusia pada Jumat waktu setempat dan menegaskan kembali posisinya dari Gedung Putih bahwa AS tidak akan berperang melawan Rusia di Ukraina. Namun sejauh ini, sanksi ekonomi dari komunitas internasional belum menghentikan invasi Presiden Rusia Vladimir Putin .

Pemerintahan Biden telah memperingatkan minggu ini bahwa Putin dapat menggunakan senjata kimia atau biologi, tetapi para pejabat telah berulang kali menolak untuk mengatakan apakah serangan senjata kimia akan melewati batas atau apakah mereka memiliki data intelijen bahwa serangan akan segera terjadi.



"Gedung Putih telah mengatakan bahwa Rusia dapat menggunakan senjata kimia, atau membuat operasi false flag untuk menggunakannya," seorang reporter bertanya kepada Biden.

"Bukti apa yang Anda lihat menunjukkan hal itu, dan apakah AS akan memiliki tanggapan militer jika Putin meluncurkan serangan senjata kimia?" sambungnya.

“Saya tidak akan berbicara tentang (data) intelijen,” jawab Biden.

“Tetapi Rusia akan membayar harga yang mahal jika mereka menggunakan senjata kimia,” ia menegaskan seperti dikutip dari ABC News, Sabtu (12/3/2022).

Baca juga: Bos Intelijen AS Akui Amerika Bantu Riset Biolab Ukraina, tapi...

Itu adalah satu-satunya pertanyaan yang dikeluarkan Biden sebelum meninggalkan ruangan.

Sementara itu Wakil sekretaris pers Gedung Putih Andrew Bates, yang memberi pengarahan kepada wartawan di Air Force One setelah pernyataan itu, menegaskan pernyataan Biden bahwa akan ada "konsekuensi parah," tetapi juga menolak untuk membahas secara spesifik tentang seperti apa konsekuensi itu bagi Rusia.

"Mereka telah menggunakan senjata kimia, yang sekali lagi, mereka adalah satu-satunya negara dalam campuran di sini yang memilikinya, di Suriah, dan berkali-kali, kami telah memperingatkan tentang dalih khusus ini, dan itu adalah sesuatu yang kami perhatikan," ujarnya.

"Rusia adalah satu-satunya negara dalam persamaan ini dengan program senjata kimia dan biologi yang melanggar hukum internasional," sambungnya.

Baca juga: Rusia Desak Dewan Keamanan PBB Bahas Biolab Ukraina

Sekretaris pers Pentagon John Kirby, ditanya tentang operasi false flag Rusia untuk membenarkan penggunaan senjata kimia Rusia, hanya mengatakan: "Kami tidak memiliki indikasi kuat sekarang," tapi itu adalah sesuatu yang mereka awasi.

"Saya tidak ingin masuk ke penilaian intelijen," katanya, menjelaskan AS berusaha untuk mendahului dalih Rusia.

"Satu, ini adalah negara yang memiliki reputasi menggunakan senjata semacam itu pada orang-orang, dan kami tahu mereka memiliki program," tambah Kirby.

"Dan dua, kami terus mengamati potensi -- dan saya ingin menekankan kata potensial -- potensi bahwa mereka dapat menggedor drum ini dengan maksud untuk menciptakan semacam peristiwa tanda palsu, bahwa mereka dapat menggunakannya sebagai alasan untuk semakin meningkatkan konflik," tuturnya.

Baca juga: Soal Biolab di Ukraina, WHO Buat Pengakuan Mengejutkan
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Pemerintah Arab Saudi...
Pemerintah Arab Saudi Cuci Ka'bah Hari Ini, Gunakan Air Zamzam dan Wewangian
Rekomendasi
Cetak Pemimpin Masa...
Cetak Pemimpin Masa Depan, Pegadaian Kirim Talenta Terbaik Kuliah S2 ke Luar Negeri
Lewat Kuliner Pilihan...
Lewat Kuliner Pilihan ShopeeFood, Aa Juju Ungkap Cerita di Balik Kuliner Legendaris Jakarta dan Bandung
Soroti Kejanggalan,...
Soroti Kejanggalan, Tim Hukum MNC Asia Surati KY dan MA untuk Awasi Sidang Banding Perkara CMNP
Berita Terkini
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Infografis
AS Siapkan 100 Hari...
AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved