Putin: Operasi Militer Khusus Rusia di Ukraina Sesuai Rencana dan Sukses

Jum'at, 04 Maret 2022 - 08:12 WIB
loading...
Putin: Operasi Militer...
Presiden Vladimir Putin mengumumkan operasi militer khusus Rusia di Ukraina sesuai rencana dan sukses. Foto/Sputnik/Andrey Gorshkov
A A A
MOSKOW - Presiden Vladimir Putin mengatakan operasi militer khusus Rusia di Ukraina telah berjalan sesuai rencana.

"Semua tugas dilaksanakan dengan sukses," katanya dalam pidatonya di Dewan Keamanan Rusia pada hari Kamis.

"Tentara kami berjuang dengan gigih, dengan pemahaman penuh tentang keadilan tujuan mereka, bahkan setelah terluka, mereka tetap dalam formasi, mengorbankan diri...untuk menyelamatkan rekan dan warga sipil," ujar Putin, seperti dikutip Sputniknews, Jumat (4/3/2022).

Menurutnya, pasukan Rusia berusaha untuk mencegah korban sipil di Ukraina.

Putin juga mengatakan bahwa milisi nasionalis dan tentara bayaran asing di Ukraina menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.

Baca juga: Jenderal Top Rusia Dihabisi Sniper Ukraina, Pukulan Pahit bagi Putin

Lebih lanjut, dia menuding militer Ukraina tidak menepati janji untuk memindahkan peralatan militer berat dari pemukiman sipil.

"Alih-alih memenuhi janji untuk mengeluarkan peralatan ini dari daerah pemukiman, dari taman kanak-kanak, rumah sakit, sebaliknya, tank, artileri, mortir juga dikerahkan di sana," katanya.

Presiden Rusia juga mengatakan bahwa para warga asing disandera di Ukraina, khususnya, di antara mereka ada sekitar 3.179 warga negara India.

"Neo-Nazi juga menembaki mahasiswa China yang berusaha meninggalkan Kharkiv. Dua dari mereka terluka. Saya ulangi: ratusan orang asing berusaha meninggalkan zona perang, tetapi mereka tidak diizinkan melakukannya," tegas Putin.

Menurutnya, cara "neo-nazi memperlakukan warga Ukraina lebih buruk. Contoh, tentara Rusia telah menyaksikan para penghuni gedung apartemen digiring ke lantai tengah gedung, sementara di lantai bawah mereka menerobos jendela dan tembok, memasang alat berat di sana.

"Di atap dan di lantai atas, senapan mesin dan sniper ditempatkan," papar presiden Putin.

"Namun, pasukan Rusia telah menyediakan koridor di semua zona konflik tanpa kecuali, menyediakan transportasi sehingga warga sipil, warga negara asing memiliki kesempatan untuk pergi ke tempat yang aman, sesuatu yang dilarang untuk dilakukan oleh kaum nasionalis," imbuh Putin.

Pidato Putin datang tak lama setelah juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, mengatakan bahwa negara-negara Barat telah meningkatkan pengiriman tentara kontrak dari perusahaan militer swasta ke Ukraina.

Intelijen militer AS juga meluncurkan kampanye besar-besaran guna merekrut kontraktor PMC untuk Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, pada gilirannya, menyatakan bahwa Ukraina mengharapkan sekitar 16.000 tentara bayaran asing datang dan berjuang untuk negara itu.

Menurut perkiraan dari Kementerian Pertahanan Rusia, 200 tentara bayaran Kroasia telah tiba di Ukraina, dengan Inggris, Denmark, Latvia, dan Polandia juga memberikan lampu hijau untuk mengirim tentara bayaran ke sana.

Konashenkov mengatakan bahwa tentara asing yang sudah berada di Ukraina. "Melakukan sabotase dan penggerebekan terhadap konvoi peralatan dan pasokan material Rusia, serta pesawat yang melindungi mereka," ujarnya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Wapres AS JD Vance:...
Wapres AS JD Vance: Mengkritik Israel Bukan Berarti Anti-Semit
Rekomendasi
Libatkan Mahasiswa saat...
Libatkan Mahasiswa saat Kunker, Gibran Dinilai Perkuat Dialog dan Partisipasi Publik
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Kritik Pemadaman Listrik,...
Kritik Pemadaman Listrik, Komisi VI DPR: Tidak Boleh Lagi Terjadi
Berita Terkini
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Infografis
Puluhan Rudal dan Ratusan...
Puluhan Rudal dan Ratusan Drone Rusia Bombardir Ibu Kota Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved