Cara-cara Ampuh China-Rusia Lawan Dampak Buruk Sanksi Barat, Sudah Terbukti!
Selasa, 01 Maret 2022 - 13:33 WIB
loading...
A
A
A
Financial Times mencatat Beijing memiliki catatan memberikan dukungan ekonomi ke Moskow selama kebuntuan Rusia dengan Barat yang telah meningkatkan sanksi terhadap Moskow sejak reunifikasi Krimea dengan negara itu pada 2014.
“Ini adalah isu kunci tentang proses pergeseran global, konfigurasi ulang tatanan global yang telah berlangsung selama beberapa dekade terakhir,” ungkap Parenti.
Dia menambahkan, “Pada 1990-an, sebenarnya, sistem AS-NATO memberlakukan dan mengkonsolidasikan tatanan dunia sepihak, tatanan dunia unipolar dalam konfigurasi kekuatannya. Tetapi menjelang akhir tahun sembilan puluhan, kami melihat pertumbuhan dan perkembangan baru, sebagian oleh China, dan setelah itu pemulihan hubungan kerja sama dan hubungan China-Rusia, dunia dan sistem dunia mulai berubah dengan cepat."
Ekonomi Global Berubah Mendukung Negara Berkembang
Ekonomi global telah berubah secara radikal dan dalam hal material yang mendukung negara-negara berkembang, sementara AS dan sekutunya berusaha menahan kenaikan ini dengan memotong hubungan ekonomi, terutama antara Uni Eropa (UE) dan mitra Eurasia lainnya, menurut laporan tersebut.
"Gerakan sepihak ekspansi AS telah menciptakan proses destabilisasi yang konstan sejak perang di bekas Yugoslavia, terutama dari perang melawan Serbia hingga perang Suriah, sistem AS telah menciptakan busur destabilisasi, mendukung jihadis dan mendukung kegiatan teroris secara teratur untuk menciptakan masalah di Asia Tengah, untuk menciptakan masalah di China, untuk menciptakan masalah di Eropa Timur," tutur Parenti.
Dia memaparkan, "Di Ukraina, kita mengetahui kudeta negara selama 2014 dan upaya pertama Revolusi Oranye pada 2005 untuk mengacaukan dan mencaplok tanah dan wilayah Ukraina di dalam dan di bawah kendali sistem AS-NATO."
Tindakan tegas Washington justru memfasilitasi pemulihan hubungan antara Moskow dan Beijing.
“Beijing memahami bahwa upaya AS memisahkan Rusia dari Eropa adalah prasyarat untuk bekerja lebih baik di Asia-Pasifik melawan China, memprovokasi Taiwan, memprovokasi Hong Kong, memprovokasi masalah Laut China Selatan dan sebagainya," ungkap sang profesor itu.
“China tahu bahwa mendukung Rusia adalah kebutuhan eksistensial untuk dirinya sendiri juga, tidak hanya untuk persahabatan dengan Rusia, tetapi di atas semua itu untuk ancaman eksistensialnya sendiri: bahwa mereka hidup setara dalam menghadapi pasukan NATO, yang secara eksklusif didorong oleh Amerika Serikat dan proyek dominasi negaranya sendiri,” tutur Parenti.
Oleh karena itu, posisi Beijing itu diartikulasikan dengan baik terhadap paket sanksi terbaru yang dijatuhkan oleh UE, Inggris, AS, dan Kanada terhadap Rusia.
Pekan lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, mengatakan kepada wartawan di Beijing bahwa "sejak 2011, AS telah memberlakukan lebih dari 100 sanksi terhadap Rusia," tetapi pembatasan ini tidak melakukan apa pun untuk menghilangkan ketegangan di Eropa.
Hua mencela Washington sebagai "pelaku" dalam krisis Ukraina, yang "meningkatkan ketegangan, menciptakan kepanikan dan bahkan meningkatkan kemampuan berperang."
Blok Kontra-Hegemonik
“Ini adalah isu kunci tentang proses pergeseran global, konfigurasi ulang tatanan global yang telah berlangsung selama beberapa dekade terakhir,” ungkap Parenti.
Dia menambahkan, “Pada 1990-an, sebenarnya, sistem AS-NATO memberlakukan dan mengkonsolidasikan tatanan dunia sepihak, tatanan dunia unipolar dalam konfigurasi kekuatannya. Tetapi menjelang akhir tahun sembilan puluhan, kami melihat pertumbuhan dan perkembangan baru, sebagian oleh China, dan setelah itu pemulihan hubungan kerja sama dan hubungan China-Rusia, dunia dan sistem dunia mulai berubah dengan cepat."
Ekonomi Global Berubah Mendukung Negara Berkembang
Ekonomi global telah berubah secara radikal dan dalam hal material yang mendukung negara-negara berkembang, sementara AS dan sekutunya berusaha menahan kenaikan ini dengan memotong hubungan ekonomi, terutama antara Uni Eropa (UE) dan mitra Eurasia lainnya, menurut laporan tersebut.
"Gerakan sepihak ekspansi AS telah menciptakan proses destabilisasi yang konstan sejak perang di bekas Yugoslavia, terutama dari perang melawan Serbia hingga perang Suriah, sistem AS telah menciptakan busur destabilisasi, mendukung jihadis dan mendukung kegiatan teroris secara teratur untuk menciptakan masalah di Asia Tengah, untuk menciptakan masalah di China, untuk menciptakan masalah di Eropa Timur," tutur Parenti.
Dia memaparkan, "Di Ukraina, kita mengetahui kudeta negara selama 2014 dan upaya pertama Revolusi Oranye pada 2005 untuk mengacaukan dan mencaplok tanah dan wilayah Ukraina di dalam dan di bawah kendali sistem AS-NATO."
Tindakan tegas Washington justru memfasilitasi pemulihan hubungan antara Moskow dan Beijing.
“Beijing memahami bahwa upaya AS memisahkan Rusia dari Eropa adalah prasyarat untuk bekerja lebih baik di Asia-Pasifik melawan China, memprovokasi Taiwan, memprovokasi Hong Kong, memprovokasi masalah Laut China Selatan dan sebagainya," ungkap sang profesor itu.
“China tahu bahwa mendukung Rusia adalah kebutuhan eksistensial untuk dirinya sendiri juga, tidak hanya untuk persahabatan dengan Rusia, tetapi di atas semua itu untuk ancaman eksistensialnya sendiri: bahwa mereka hidup setara dalam menghadapi pasukan NATO, yang secara eksklusif didorong oleh Amerika Serikat dan proyek dominasi negaranya sendiri,” tutur Parenti.
Oleh karena itu, posisi Beijing itu diartikulasikan dengan baik terhadap paket sanksi terbaru yang dijatuhkan oleh UE, Inggris, AS, dan Kanada terhadap Rusia.
Pekan lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, mengatakan kepada wartawan di Beijing bahwa "sejak 2011, AS telah memberlakukan lebih dari 100 sanksi terhadap Rusia," tetapi pembatasan ini tidak melakukan apa pun untuk menghilangkan ketegangan di Eropa.
Hua mencela Washington sebagai "pelaku" dalam krisis Ukraina, yang "meningkatkan ketegangan, menciptakan kepanikan dan bahkan meningkatkan kemampuan berperang."
Blok Kontra-Hegemonik
Lihat Juga :