Cara-cara Ampuh China-Rusia Lawan Dampak Buruk Sanksi Barat, Sudah Terbukti!
Selasa, 01 Maret 2022 - 13:33 WIB
loading...
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Moskow, Rusia, 5 Juni 2019. Foto/REUTERS
A
A
A
MOSKOW - China menentang sanksi sepihak Barat terhadap Rusia dan menolak larangan SWIFT. Beijing menganggap tindakan Barat tidak memiliki dasar dalam hukum internasional.
Banyak pihak mengakui Beijing dapat mengurangi tekanan pembatasan dengan memperkuat kerja sama Rusia-China yang saling menguntungkan di bidang pertanian, teknologi tinggi, perbankan, energi, dan sektor ekonomi lainnya.
“Hubungan China-Rusia terus menguat selama 10 tahun terakhir dan lebih banyak lagi di setiap sektor. Jadi peristiwa dalam gejolak dengan Ukraina yang sebenarnya adalah gejolak antara Rusia dan sistem AS-NATO pasti akan mempercepat kerja sama lebih lanjut antara China dan Rusia," ujar Fabio Massimo Parenti, profesor ekonomi politik internasional dan studi global di China Foreign Affairs University dan Institut Internasional Italia Lorenzo de'Medici pada Sputnik pada Selasa (1/3/2022).
Baca juga: Siapkan Serangan Baru, Konvoi Militer Rusia Mengular 64 Km di Utara Kiev
Administrasi Umum Bea Cukai China pada 23 Februari mengkonfirmasi mereka akan membatalkan pembatasan impor gandum dari Rusia.
Baca juga: Hari Keenam Invasi, Tentara Rusia Hancurkan 1.146 Fasilitas Militer Ukraina
Sebelumnya, Reuters melaporkan pada 4 Februari bahwa Beijing telah mencabut larangan impor gandum dan jelai Rusia sebagai bagian dari rangkaian kesepakatan bilateral baru yang lebih luas.
Baca juga: Marah Besar Kena Sanksi, Putin Sebut Barat Kerajaan Kebohongan
Paket itu juga termasuk pasokan minyak dan gas jangka panjang Rusia ke China senilai USD117,5 miliar, menurut Reuters.
"Saya kira negara-negara Eropa dan juga pengekspor pangan lainnya, tidak hanya ekspor jasa makanan dan barang ke China, akan terpengaruh, tapi saat ini tidak begitu banyak," ujar Parenti.
Dia memberikan penekanan khusus pada kesepakatan energi Rusia-China, menekankan bahwa minyak dan gas Rusia sangat penting untuk permintaan China yang terus meningkat.
China diproyeksikan untuk mengkonsumsi hingga 526 miliar meter kubik (bcm) pada 2030 dan sekitar 620 bcm pada 2040.
Sementara itu, komoditas dan bahan baku Rusia kemungkinan akan dialihkan ke China jika permintaan dari seluruh dunia turun secara signifikan dengan latar belakang ketegangan geopolitik, menurut pakar ekonomi yang dikutip oleh CNN.
Banyak pihak mengakui Beijing dapat mengurangi tekanan pembatasan dengan memperkuat kerja sama Rusia-China yang saling menguntungkan di bidang pertanian, teknologi tinggi, perbankan, energi, dan sektor ekonomi lainnya.
“Hubungan China-Rusia terus menguat selama 10 tahun terakhir dan lebih banyak lagi di setiap sektor. Jadi peristiwa dalam gejolak dengan Ukraina yang sebenarnya adalah gejolak antara Rusia dan sistem AS-NATO pasti akan mempercepat kerja sama lebih lanjut antara China dan Rusia," ujar Fabio Massimo Parenti, profesor ekonomi politik internasional dan studi global di China Foreign Affairs University dan Institut Internasional Italia Lorenzo de'Medici pada Sputnik pada Selasa (1/3/2022).
Baca juga: Siapkan Serangan Baru, Konvoi Militer Rusia Mengular 64 Km di Utara Kiev
Administrasi Umum Bea Cukai China pada 23 Februari mengkonfirmasi mereka akan membatalkan pembatasan impor gandum dari Rusia.
Baca juga: Hari Keenam Invasi, Tentara Rusia Hancurkan 1.146 Fasilitas Militer Ukraina
Sebelumnya, Reuters melaporkan pada 4 Februari bahwa Beijing telah mencabut larangan impor gandum dan jelai Rusia sebagai bagian dari rangkaian kesepakatan bilateral baru yang lebih luas.
Baca juga: Marah Besar Kena Sanksi, Putin Sebut Barat Kerajaan Kebohongan
Paket itu juga termasuk pasokan minyak dan gas jangka panjang Rusia ke China senilai USD117,5 miliar, menurut Reuters.
"Saya kira negara-negara Eropa dan juga pengekspor pangan lainnya, tidak hanya ekspor jasa makanan dan barang ke China, akan terpengaruh, tapi saat ini tidak begitu banyak," ujar Parenti.
Dia memberikan penekanan khusus pada kesepakatan energi Rusia-China, menekankan bahwa minyak dan gas Rusia sangat penting untuk permintaan China yang terus meningkat.
China diproyeksikan untuk mengkonsumsi hingga 526 miliar meter kubik (bcm) pada 2030 dan sekitar 620 bcm pada 2040.
Sementara itu, komoditas dan bahan baku Rusia kemungkinan akan dialihkan ke China jika permintaan dari seluruh dunia turun secara signifikan dengan latar belakang ketegangan geopolitik, menurut pakar ekonomi yang dikutip oleh CNN.
Lihat Juga :