Serangan Nasionalis Hindu pada Muslim Makin Parah, Demokrasi India Terancam Punah
Jum'at, 18 Februari 2022 - 14:06 WIB
loading...
Aktivis sayap kanan Vishwa Hindu Parishad dan kelompok preman lokal Bajrang Dal menggelar pawai di Kolkata, India. Foto/Debajyoti Chakraborty/NurPhoto
A
A
A
NEW DELHI - Nasir Ali sedang menjual sepatu tenis di kota kecil di sebelah timur New Delhi ketika selusin pria mengepung kiosnya di pinggir jalan.
Dia langsung mengenali mereka sebagai preman lokal, anggota Bajrang Dal, kelompok nasionalis Hindu dengan sejarah panjang kekerasan yang meningkat.
Mereka menuduh Ali yang berusia 28 tahun menghina keyakinan mereka, karena salah satu merek yang dibawanya adalah Thakur, yang juga merupakan nama kasta Hindu terkemuka.
Baca juga: Kedubes Rusia: AS Secara Sinis Tolak Fakta Genosida di Donbass
Penjual sepatu saingan telah memberi tahu para preman itu tentang Ali.
Baca juga: Citra Satelit Terbaru Masih Tunjukkan Aktivitas Militer Rusia Dekat Ukraina
“Bagaimana Anda bisa menjual sepatu dengan tulisan Thakur padahal Anda seorang Muslim?” teriak salah satu pria secara kasar.
Baca juga: Balas Pengusiran Diplomat, Wakil Dubes AS Disuruh Pergi dari Rusia
Ali menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud tidak hormat, bahwa dia tidak menciptakan merek itu, dia hanya menjualnya.
Kemudian orang-orang itu menelepon polisi, yang menangkap Ali karena dituduh memprovokasi kerusuhan.
Ali menghabiskan dua hari berikutnya di penjara, di mana dia mengatakan dia dipukuli para polisi di hadapan anggota Bajrang Dal.
“Saya menjadi sasaran karena agama saya. Saya hidup dalam ketakutan bahwa siapa pun dapat memukuli saya dan tidak ada yang bisa saya lakukan. Itu membuatmu merasa tidak berdaya,” ujar dia, dilansir Los Angeles Times pada Rabu (16/2/2022).
Dipicu oleh nasionalisme Hindu, didorong pihak berwenang dan dilakukan dengan impunitas (kekebalan hukum), penindasan terhadap Muslim telah menjadi begitu meluas di India sehingga para ahli mengatakan hal itu merusak posisi negara itu sebagai negara demokrasi terbesar di dunia dan meningkatkan keraguan tentang masa depannya sebagai negara sekuler.
Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi dan Partai sayap kanan Bharatiya Janata Party, atau BJP, telah lama mengipasi sentimen anti-Muslim sebagai bagian dari strategi kemenangan pemilu untuk menggalang dukungan dari mayoritas umat Hindu, yang merupakan 80% dari 1,4 miliar penduduk India.
Namun kekerasan dan pelecehan telah meningkat menjelang pemilu majelis di lima negara bagian bulan ini dan berikutnya.
Kemenangan yang menentukan di kubu Partai Uttar Pradesh dapat menandakan kelangsungan politik nasionalisme Hindu dan meningkatkan peluang Modi memenangkan masa jabatan ketiga pada 2024.
“BJP telah mengirim pesan bahwa tidak apa-apa mengejar Muslim,” ujar Aakar Patel, ketua Amnesty International India.
Dia memperingatkan, “Inilah yang membuat mereka populer. Inilah mengapa kami melihat serangan dan penganiayaan di tingkat bawah.”
Ketika kaum nasionalis telah memperkuat seruan mereka agar India menulis ulang konstitusinya dan membentuk negara-bangsa Hindu, kekuasaan massa telah diambil alih.
Bulan ini di negara bagian Karnataka, setelah nasionalis Hindu memburu siswi Muslim karena mengenakan jilbab, pihak berwenang menganggap ancaman kekerasan cukup serius untuk menutup sekolah dan perguruan tinggi selama beberapa hari.
Yang lebih mengganggu, para pemimpin Hindu radikal dilaporkan telah menyerukan pembantaian jutaan Muslim, dengan satu ekstremis menyerukan seperti pembersihan etnis di Myanmar.
“Entah Anda bersiap untuk mati sekarang, atau bersiap untuk membunuh, tidak ada cara lain,” ujar Swami Prabodhanand Giri, presiden organisasi sayap kanan Hindu Raksha Sena, mengatakan kepada para pendukungnya di pertemuan keagamaan pada Desember.
“Inilah sebabnya, seperti di Myanmar, polisi di sini, politisi di sini, tentara, dan setiap umat Hindu harus mengambil senjata karena kami harus melakukan pembersihan ini,” ujar dia.
Akar perselisihan agama modern India dapat ditelusuri ke tahun 1947 ketika Inggris di bawah tekanan dari para pemimpin politik Muslim yang menginginkan negara mayoritas Muslim, mengubah perbatasan koloninya.
Dari pemisahan anak benua India itu, lahirlah Pakistan. Tetapi karena perbatasan baru ditarik begitu tergesa-gesa, hal itu membuat banyak Muslim dan Hindu berada di sisi perbatasan yang salah.
Dia langsung mengenali mereka sebagai preman lokal, anggota Bajrang Dal, kelompok nasionalis Hindu dengan sejarah panjang kekerasan yang meningkat.
Mereka menuduh Ali yang berusia 28 tahun menghina keyakinan mereka, karena salah satu merek yang dibawanya adalah Thakur, yang juga merupakan nama kasta Hindu terkemuka.
Baca juga: Kedubes Rusia: AS Secara Sinis Tolak Fakta Genosida di Donbass
Penjual sepatu saingan telah memberi tahu para preman itu tentang Ali.
Baca juga: Citra Satelit Terbaru Masih Tunjukkan Aktivitas Militer Rusia Dekat Ukraina
“Bagaimana Anda bisa menjual sepatu dengan tulisan Thakur padahal Anda seorang Muslim?” teriak salah satu pria secara kasar.
Baca juga: Balas Pengusiran Diplomat, Wakil Dubes AS Disuruh Pergi dari Rusia
Ali menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud tidak hormat, bahwa dia tidak menciptakan merek itu, dia hanya menjualnya.
Kemudian orang-orang itu menelepon polisi, yang menangkap Ali karena dituduh memprovokasi kerusuhan.
Ali menghabiskan dua hari berikutnya di penjara, di mana dia mengatakan dia dipukuli para polisi di hadapan anggota Bajrang Dal.
“Saya menjadi sasaran karena agama saya. Saya hidup dalam ketakutan bahwa siapa pun dapat memukuli saya dan tidak ada yang bisa saya lakukan. Itu membuatmu merasa tidak berdaya,” ujar dia, dilansir Los Angeles Times pada Rabu (16/2/2022).
Dipicu oleh nasionalisme Hindu, didorong pihak berwenang dan dilakukan dengan impunitas (kekebalan hukum), penindasan terhadap Muslim telah menjadi begitu meluas di India sehingga para ahli mengatakan hal itu merusak posisi negara itu sebagai negara demokrasi terbesar di dunia dan meningkatkan keraguan tentang masa depannya sebagai negara sekuler.
Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi dan Partai sayap kanan Bharatiya Janata Party, atau BJP, telah lama mengipasi sentimen anti-Muslim sebagai bagian dari strategi kemenangan pemilu untuk menggalang dukungan dari mayoritas umat Hindu, yang merupakan 80% dari 1,4 miliar penduduk India.
Namun kekerasan dan pelecehan telah meningkat menjelang pemilu majelis di lima negara bagian bulan ini dan berikutnya.
Kemenangan yang menentukan di kubu Partai Uttar Pradesh dapat menandakan kelangsungan politik nasionalisme Hindu dan meningkatkan peluang Modi memenangkan masa jabatan ketiga pada 2024.
“BJP telah mengirim pesan bahwa tidak apa-apa mengejar Muslim,” ujar Aakar Patel, ketua Amnesty International India.
Dia memperingatkan, “Inilah yang membuat mereka populer. Inilah mengapa kami melihat serangan dan penganiayaan di tingkat bawah.”
Ketika kaum nasionalis telah memperkuat seruan mereka agar India menulis ulang konstitusinya dan membentuk negara-bangsa Hindu, kekuasaan massa telah diambil alih.
Bulan ini di negara bagian Karnataka, setelah nasionalis Hindu memburu siswi Muslim karena mengenakan jilbab, pihak berwenang menganggap ancaman kekerasan cukup serius untuk menutup sekolah dan perguruan tinggi selama beberapa hari.
Yang lebih mengganggu, para pemimpin Hindu radikal dilaporkan telah menyerukan pembantaian jutaan Muslim, dengan satu ekstremis menyerukan seperti pembersihan etnis di Myanmar.
“Entah Anda bersiap untuk mati sekarang, atau bersiap untuk membunuh, tidak ada cara lain,” ujar Swami Prabodhanand Giri, presiden organisasi sayap kanan Hindu Raksha Sena, mengatakan kepada para pendukungnya di pertemuan keagamaan pada Desember.
“Inilah sebabnya, seperti di Myanmar, polisi di sini, politisi di sini, tentara, dan setiap umat Hindu harus mengambil senjata karena kami harus melakukan pembersihan ini,” ujar dia.
Akar perselisihan agama modern India dapat ditelusuri ke tahun 1947 ketika Inggris di bawah tekanan dari para pemimpin politik Muslim yang menginginkan negara mayoritas Muslim, mengubah perbatasan koloninya.
Dari pemisahan anak benua India itu, lahirlah Pakistan. Tetapi karena perbatasan baru ditarik begitu tergesa-gesa, hal itu membuat banyak Muslim dan Hindu berada di sisi perbatasan yang salah.
Lihat Juga :