Kalangan Intelijen AS Khawatirkan Strategi Biden Terkait Rusia

Kamis, 10 Februari 2022 - 07:28 WIB
loading...
Kalangan Intelijen AS...
Presiden AS Joe Biden di Gedung Putih. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Para veteran keamanan dan intelijen nasional Amerika Serikat (AS) menyatakan kekhawatirannya atas strategi Presiden Joe Biden dalam berurusan dengan Rusia.

Mereka mengatakan kebocoran reguler ke publik mengenai invasi yang diprediksi ke Ukraina dapat merusak kredibilitas Washington dalam jangka panjang. Terutama jika ternyata prediksi itu sepenuhnya salah.

“Saya prihatin dengan kredibilitas jangka panjang intelijen kita dengan semua deklasifikasi terpilih ini,” ungkap seorang mantan perwira CIA kepada Politico dalam laporan yang diterbitkan pada Selasa (8/2/2022).

Para pejabat intelijen itu semakin khawatir dengan apa yang disebut Politico sebagai “keterbukaan yang tidak biasa” tentang intelijen di Rusia.

Baca juga: AS Siapkan Eksodus Pengungsi Besar-besaran dari Ukraina, Awas Perang di Depan Mata

Sumber mantan pejabat CIA mengatakan kepada Politico bahwa keterbukaan seperti itu, dikombinasikan dengan kebocoran ke media, dapat "merusak" kepercayaan publik dan sekutu AS.

Baca juga: Syarat Menikahi Wanita Arab Saudi bagi Lelaki Non-Arab Saudi

Salah satu kebocoran terbaru dari "orang dalam" datang dalam laporan Newsweek pekan ini, yang mengklaim Rusia telah merencanakan operasi "bendera palsu" untuk membuatnya tampak seolah-olah ada plot Kremlin untuk "melakukan serangan terhadap Ukraina yang berbahasa Rusia."

Baca juga: Rusia: Jerman Negara yang Diduduki, 30.000 Tentara AS di Sana

“Tujuan dari dugaan operasi itu adalah untuk mendiskreditkan dan mengalihkan perhatian Washington," papar laporan itu.

Moskow telah berulang kali membantah niat untuk menyerang Ukraina. Rusia menyebut media dan politisi Barat sengaja menghembuskan tuduhan itu.

“Benar atau tidak, semakin banyak informasi seperti ini yang dilontarkan ke publik, semakin besar kemungkinan operator asing dapat melacak sumber dan metode yang digunakan untuk mendapatkannya,” ujar seorang mantan anggota Dewan Keamanan Nasional kepada Politico.

"Berapa kali mereka perlu memperingatkan bahwa sesuatu mungkin sudah dekat?" papar mantan pejabat keamanan nasional.

Strategi pemerintahan Biden telah mengumpulkan beberapa dukungan, dengan seorang pejabat intelijen senior saat ini berpendapat “analisis biaya-manfaat” sejauh ini telah menguntungkan Amerika Serikat.

Sejarawan intelijen Universitas Harvard Calder Walton menyimpulkan strategi pembuangan informasi pemerintahan Biden sebagai "berisiko tinggi" jika membandingkannya dengan mendiang Presiden AS Ronald Reagan dan pemerintahannya yang bersikeras pesawat penumpang Korean Air Lines telah ditembak jatuh dengan sengaja oleh Uni Soviet pada 1983. Belakangan diketahui hal itu tidak disengaja.

“Hasilnya adalah pemerintahan Reagan melemahkan kritiknya terhadap pemerintah Soviet dengan melebih-lebihkan kasusnya,” ujar Walton.

Pejabat lainnya menunjuk penarikan kacau pasukan AS dari Afghanistan sebagai mungkin memotivasi pemerintah sekarang untuk lebih keras dalam pendekatan mereka.

“Mereka tahu bahwa mereka harus dilihat sebagai sekutu yang dapat diandalkan,” ungkap seorang mantan pejabat intelijen.

Sementara itu, seorang ajudan senior Kongres Partai Demokrat yang tidak disebutkan namanya menggemakan sentimen tersebut dan mengatakan "pengalaman penarikan" saat Taliban dengan cepat mendapatkan kembali kendali dan beberapa anggota layanan AS meninggal, mungkin membuat pemerintah "lebih rentan terhadap saran hawkish (tindakan keras) yang buruk."

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
Mengejutkan! 92% Warga...
Mengejutkan! 92% Warga Israel Yakin Negaranya Kalah Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Komut Pertamina Mochamad...
Komut Pertamina Mochamad Iriawan: Investasi Terbaik Bangsa pada Manusia
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikabulkan Penangguhan Penahannya, Kubu Jokowi Buka Suara
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Berita Terkini
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved