Rusia Jadi Perang dengan AS dan NATO? Ini Jawaban Moskow

Jum'at, 28 Januari 2022 - 20:03 WIB
loading...
Rusia Jadi Perang dengan...
Pasukan Rusia dikerahkan di dekat perbatasan Ukraina. Moskow sudah memberi jawaban soal jadi tidaknya perang dengan Amerika Serikat dan NATO. Foto/REUTERS
A A A
MOSKOW - Rusia sudah memberikan jawaban apakah akan berperang dengan Amerika Serikat (AS) dan NATO. Jawaban ini disampaikan pada Jumat (28/1/2022) setelah tuntutan Moskow soal jaminan keamanan diabaikan NATO dan ketegangan terkait Ukraina semakin memanas.

Berbicara kepada wartawan, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov ditanya apakah perang akan pecah setelah pembicaraan mengenai jaminan bahwa NATO tidak akan ekspansi ke Eropa Timur berakhir dengan jalan buntu.

“Jika terserah Federasi Rusia, tidak akan ada perang,” jawab Lavrov.

"Kami tidak menginginkan perang,” katanya lagi. "[Namun Rusia] tidak akan membiarkan kepentingan kami diserang secara brutal atau diabaikan juga.”

Baca juga: Senjata Nuklir Rusia Lebih Banyak, Pakar Bilang AS Harus Khawatir

Menurut Lavrov, tanggapan AS terhadap proposal tuntutan Moskow adalah hampir merupakan "model kesopanan diplomatik".

Namun, dia mengatakan bahwa jawaban NATO terhadap dua rancangan dokumen Rusia sangat diideologikan. "Ia mengembuskan eksklusivitas aliansi, misi khususnya, tujuan khususnya," paparnya.

Lavrov melanjutkan dengan menambahkan bahwa jika AS tidak mau mempertimbangkan kembali pendiriannya tentang masalah keamanan, maka Moskow juga tidak siap untuk membuat kompromi atas tuntutannya.

"Jika mereka bersikeras bahwa mereka tidak akan mengubah posisi mereka, kami juga tidak akan mengubah posisi kami,” katanya, seperti dikutip Russia Today.

Komentar itu muncul tak lama setelah Moskow menerima jawaban yang telah lama ditunggu-tunggu atas permintaannya untuk jaminan keamanan, termasuk janji bahwa Ukraina tidak akan diterima di blok NATO.

Pada hari Kamis, Lavrov mengatakan bahwa belum ada tanggapan positif terhadap kekhawatiran inti Moskow dalam dokumen yang diberikan oleh pihak Amerika setelah berminggu-minggu pembicaraan dengan rekan-rekan mereka.

“Masalah utamanya adalah posisi kami yang jelas tentang tidak dapat diterimanya ekspansi NATO lebih lanjut ke [Eropa] Timur dan penyebaran senjata yang sangat merusak yang dapat mengancam wilayah Federasi Rusia,” jelas Lavrov.

Kremlin juga mengecam tanggapan tersebut, dengan alasan bahwa permintaan dari pejabat Moskow belum sepenuhnya diperhitungkan oleh Washington dan blok militer pimpinan AS.

Namun pada saat yang sama, menurut juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, “Ada dan harus selalu ada prospek untuk dialog lebih lanjut.”

"Tetapi untuk dialog substantif pada draf dokumen, ada masalah yang sifatnya berbeda, tetapi saya tidak akan maju sendiri," katanya.

Bulan lalu, Rusia menyerahkan dua rancangan perjanjian, satu ditujukan kepada Washington dan lainnya kepada NATO, yang dikatakan bertujuan untuk mengurangi risiko konflik di benua Eropa.

Moskow meminta agar blok tersebut menahan diri dari aktivitas militer apa pun di wilayah bekas negara-negara Pakta Warsawa yang bergabung setelah 1997, setelah runtuhnya Uni Soviet.

Sekjen blok militer pimpinan AS, Jens Stoltenberg, mengatakan tidak dapat diterima untuk menciptakan sistem "dua tingkat" yang mencegahnya terlibat dalam aktivitas dengan beberapa negara anggota.

Klausul terpisah juga menuntut agar ambisi Ukraina untuk bergabung dengan blok pimpinan AS tidak boleh dikabulkan. Mengesampingkan ekspansi NATO lebih dekat ke perbatasan Rusia telah menjadi tuntutan utama dari pejabat Rusia, dengan Peskov berpendapat bahwa itu adalah pertanyaan "hidup atau mati".
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Trump Mendadak Batal...
Trump Mendadak Batal Bombardir Iran Besar-besaran, Israel Terkejut
Trump Murka, AS akan...
Trump Murka, AS akan Serang Iran dengan Sangat Keras Malam Ini
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Taiwan Luncurkan Puluhan...
Taiwan Luncurkan Puluhan Rudal HIMARS ke Arah China
Diserang AS Lagi, Iran...
Diserang AS Lagi, Iran Tutup Selat Hormuz Tembak 2 Kapal Tanker
Rekomendasi
Jangan Salah Kaprah!...
Jangan Salah Kaprah! Begini Cara Menyambut Tahun Baru Islam Menurut Syariat
3 Mantan Kapolda Jabar...
3 Mantan Kapolda Jabar yang Duduk di Kabinet Prabowo, 1 di Antaranya Wakapolri
World Giving Report...
World Giving Report 2026: Donasi Global Turun, Indonesia Bertahan di Atas Rata-rata Dunia
Berita Terkini
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Trump Mendadak Batal...
Trump Mendadak Batal Bombardir Iran Besar-besaran, Israel Terkejut
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved