Duo China-Rusia Blokir Upaya AS untuk Sanksi PBB Terhadap Korut

Jum'at, 21 Januari 2022 - 16:54 WIB
loading...
Duo China-Rusia Blokir...
Duo China-Rusia gagalkan upaya AS menjatuhkan sanksi PBB kepada Korut terkait peluncuran rudal baru-baru ini. Foto/Ilustrasi
A A A
NEW YORK - Para diplomat mengatakan China dan Rusia memblokir upaya Amerika Serikat (AS) untuk menjatuhkan sanksi PBB pada 5 warga Korea Utara (Korut) sebagai respons atas peluncuran rudal yang dilakukan Pyongyang baru-baru ini.

Blokir yang dilakukan China datang sebelum pertemuan tertutup Dewan Keamanan terhadap Korut, yang diminta oleh AS, dan diikuti oleh keputusan serupa Rusia untuk menentang usulan Amerika.

Di bawah aturan PBB saat ini, periode pemblokiran berlangsung selama enam bulan. Setelah itu, anggota dewan lainnya dapat memperpanjang pemblokiran selama tiga bulan dan satu hari, sebelum proposal dihapus secara permanen dari meja perundingan.

Bersama dengan Beijing, Moskow telah lama menentang peningkatan tekanan terhadap Korut, bahkan meminta keringanan sanksi internasional karena alasan kemanusiaan.

Pekan lalu, setelah Washington memberlakukan sanksi terhadap lima warga Korut yang terkait dengan program rudal balistik negara itu, AS melakukan kampanye di Dewan Keamanan untuk memperpanjang sanksi PBB kepada lima orang yang sama.

Departemen Keuangan AS mengatakan salah satu warga Korut yang terkena sanksi, Choe Myong Hyon, berbasis di Rusia dan telah memberikan dukungan kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Alam Kedua (SANS) Korut, yang sudah dikenakan sanksi.

Juga ditargetkan empat perwakilan organisasi bawahan SANS Korut yang berbasis di China, kata Departemen Keuangan AS: Sim Kwang Sok, Kim Song Hun, Kang Chol Hak, dan Pyon Kwang Chol.

Washington menuduh kelimanya memiliki hubungan dengan program senjata pemusnah massal Korut.

Baca juga: AS Sanksi Korea Utara Pasca Lakukan Uji Coba Rudal Balistik

Korut telah meluncurkan serangkaian uji coba rudal, menegaskan haknya yang sah untuk membela diri.

Misi diplomatik China untuk PBB tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Menurut duta besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Korut pada hari Kamis, yang kedua dalam sebelas hari, dikhususkan untuk membahas tanggapan terhadap tes terbaru.

"Kami harus menanggapi mereka. Tindakan ini tidak dapat diterima," kata Thomas-Greenfield selama wawancara virtual dengan Carnegie Endowment for International Peace, sebuah lembaga penelitian, seperti dikutip dari France24, Jumat (21/1/2022).

Sebelumnya Korut mengisyaratkan bahwa pihaknya dapat melanjutkan uji coba nuklir dan rudal balistik jarak jauhnya, ketika pejabat tinggi yang dipimpin oleh Kim Jong-un mengatakan negara itu sedang mempersiapkan konfrontasi jangka panjang dengan AS, seperti dilaporkan media milik pemerintah.

Baca juga: Ribut dengan AS, Korut Isyaratkan Akan Uji Senjata Nuklir Lagi

China pada Senin mengatakan telah membuka kembali perbatasannya dengan Korut untuk perdagangan kereta barang, sekitar dua tahun setelah ditutup oleh Pyongyang karena pandemi virus Corona.

Baca juga: Pertama Sejak Pembatasan, Kereta dari Korut Seberangi Perbatasan ke China
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
AS Sesumbar Siap Fasilitasi...
AS Sesumbar Siap Fasilitasi Iran jika Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
Gempa Guncang Venezuela,...
Gempa Guncang Venezuela, 18 Orang Diselamatkan dari Reruntuhan
Venezuela Luluh Lantak...
Venezuela Luluh Lantak Diguncang 2 Gempa Dahsyat, Ini Pemicunya?
Rekomendasi
Ghana Lolos ke 32 Besar,...
Ghana Lolos ke 32 Besar, Skotlandia Tersingkir dan Steve Clarke Mundur
DPW PPP Banten Targetkan...
DPW PPP Banten Targetkan Tambah Kursi Legislatif pada Pemilu 2029
Galon Guna Ulang Berizin...
Galon Guna Ulang Berizin Edar BPOM dan Ber-SNI Dipastikan Aman Dipakai
Berita Terkini
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Infografis
3 Alasan Rusia Kini...
3 Alasan Rusia Kini Didukung AS untuk Melawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved