Korban Tewas Kerusuhan Berdarah di Kazakhstan Jadi 225
Minggu, 16 Januari 2022 - 09:16 WIB
loading...
Korban tewas dalam kerushan dan demonstrasi berdarah di Kazakhstan jadi 225. Foto/Middle East Monitor
A
A
A
ALMATY - Sebanyak 226 jenazah korban tewas dalam kerusuhan di Kazakhstan pekan lalu, termasuk 19 anggota pasukan keamanan, telah dikirim ke kamar mayat di seluruh wilayah negara itu. Hal itu diungkapkan kantor kejaksaan Kazakhstan , Sabtu kemarin.
"Jumlah itu termasuk warga sipil dan bandit bersenjata yang dibunuh oleh pasukan keamanan," kata kepala penuntutan pidana di kantor kejaksaan Kazakhstan, Serik Shalabayev, dalam sebuah pengarahan seperti dilansir dari Reuters, Minggu (16/1/2022).
Shalabayev tidak memberikan rincian jumlah yang tepat dan mengatakan jumlah tersebut dapat diperbarui nanti.
Sebelumnya, pada pekan lalu, Kementerian Kesehatan Kazakhstan mengatakan 164 orang tewas. Tidak diketahui apakah jumlah itu hanya merujuk pada warga sipul atau termasuk jumlah penegak hukum yang tewas.
Baca juga: 164 Tewas dalam Demonstrasi Berdarah di Kazakhstan
Aksi protes dengan kekerasan terjadi di negara penghasil minyak Asia Tengah itu pada bulan ini setelah harga bahan bakar mobil melonjak. Jumlah korban yang diberikan oleh Shalabayev menegaskan kerusuhan itu adalah yang paling mematikan dalam sejarah negara bekas Uni Soviet itu.
"Jumlah itu termasuk warga sipil dan bandit bersenjata yang dibunuh oleh pasukan keamanan," kata kepala penuntutan pidana di kantor kejaksaan Kazakhstan, Serik Shalabayev, dalam sebuah pengarahan seperti dilansir dari Reuters, Minggu (16/1/2022).
Shalabayev tidak memberikan rincian jumlah yang tepat dan mengatakan jumlah tersebut dapat diperbarui nanti.
Sebelumnya, pada pekan lalu, Kementerian Kesehatan Kazakhstan mengatakan 164 orang tewas. Tidak diketahui apakah jumlah itu hanya merujuk pada warga sipul atau termasuk jumlah penegak hukum yang tewas.
Baca juga: 164 Tewas dalam Demonstrasi Berdarah di Kazakhstan
Aksi protes dengan kekerasan terjadi di negara penghasil minyak Asia Tengah itu pada bulan ini setelah harga bahan bakar mobil melonjak. Jumlah korban yang diberikan oleh Shalabayev menegaskan kerusuhan itu adalah yang paling mematikan dalam sejarah negara bekas Uni Soviet itu.
Lihat Juga :