Tak Terima Dijatuhkan Sanksi, Korut Peringatkan AS
Jum'at, 14 Januari 2022 - 10:51 WIB
loading...
A
A
A
Senjata semacam itu ada dalam daftar keinginan aset militer canggih yang diluncurkan Kim Jong-un awal tahun lalu bersama dengan rudal multi-hulu ledak, satelit mata-mata, rudal jarak jauh berbahan bakar padat, dan rudal nuklir yang diluncurkan dari kapal selam.
Namun, para ahli mengatakan Korut akan membutuhkan bertahun-tahun dan tes yang lebih sukses serta jarak jauh sebelum memperoleh sistem hipersonik yang kredibel.
Baca juga: Korsel: Korut Luncurkan Rudal Canggih Berkecepatan Mach 10
Pemerintahan Biden, yang kebijakannya telah mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam fokus AS dari kontraterorisme dan apa yang disebut negara-negara jahat seperti Korut dan Iran ke menghadapi China, telah mengatakan pihaknya bersedia untuk melanjutkan pembicaraan dengan Korut kapan saja tanpa prasyarat.
Tetapi Korut sejauh ini menolak gagasan pembicaraan terbuka, dengan mengatakan AS harus terlebih dahulu menarik “kebijakan permusuhannya”, istilah yang digunakan Pyongyang untuk menggambarkan sanksi dan latihan militer bersama AS-Korea Selatan.
Upaya diplomatik pimpinan AS yang bertujuan meyakinkan Korut untuk meninggalkan program senjata nuklirnya runtuh pada 2019 setelah pemerintahan Trump menolak tuntutan Korut mencabut sanksi dengan imbalan penyerahan sebagian kemampuan nuklirnya.
Sejak saat itu, Kim Jong-un berjanji untuk lebih memperluas persenjataan nuklir yang ia lihat dengan jelas sebagai jaminan terkuatnya untuk bertahan hidup, meskipun ekonomi negara itu mengalami kemunduran besar di tengah penutupan perbatasan terkait pandemi dan sanksi yang dipimpin AS yang terus-menerus.
Baca juga: AS Desak Korut Hentikan Provokasi dan Berallih ke Dialog
Namun, para ahli mengatakan Korut akan membutuhkan bertahun-tahun dan tes yang lebih sukses serta jarak jauh sebelum memperoleh sistem hipersonik yang kredibel.
Baca juga: Korsel: Korut Luncurkan Rudal Canggih Berkecepatan Mach 10
Pemerintahan Biden, yang kebijakannya telah mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam fokus AS dari kontraterorisme dan apa yang disebut negara-negara jahat seperti Korut dan Iran ke menghadapi China, telah mengatakan pihaknya bersedia untuk melanjutkan pembicaraan dengan Korut kapan saja tanpa prasyarat.
Tetapi Korut sejauh ini menolak gagasan pembicaraan terbuka, dengan mengatakan AS harus terlebih dahulu menarik “kebijakan permusuhannya”, istilah yang digunakan Pyongyang untuk menggambarkan sanksi dan latihan militer bersama AS-Korea Selatan.
Upaya diplomatik pimpinan AS yang bertujuan meyakinkan Korut untuk meninggalkan program senjata nuklirnya runtuh pada 2019 setelah pemerintahan Trump menolak tuntutan Korut mencabut sanksi dengan imbalan penyerahan sebagian kemampuan nuklirnya.
Sejak saat itu, Kim Jong-un berjanji untuk lebih memperluas persenjataan nuklir yang ia lihat dengan jelas sebagai jaminan terkuatnya untuk bertahan hidup, meskipun ekonomi negara itu mengalami kemunduran besar di tengah penutupan perbatasan terkait pandemi dan sanksi yang dipimpin AS yang terus-menerus.
Baca juga: AS Desak Korut Hentikan Provokasi dan Berallih ke Dialog
(ian)
Lihat Juga :