Berbulan-bulan Tidak Digaji, Dubes Afghanistan untuk China Resign

Selasa, 11 Januari 2022 - 23:14 WIB
loading...
Berbulan-bulan Tidak...
Duta Besar Afghanistan untuk China, Javid Ahmad Qaem, meninggalkan posnya setelah berbulan-bulan tidak digaji. Foto/Reuters
A A A
BEIJING - Duta Besar Afghanistan untuk China , Javid Ahmad Qaem, meninggalkan jabatannya pada awal Januari setelah berbulan-bulan tidak menerima gaji dari Kabul menyusul perebutan kekuasaan oleh Taliban . Hal itu diungkapkannya di Twitter.

Dalam surat serah terima tertanggal 1 Januari, yang juga diposting di Twitter, Qaem mengatakan bahwa banyak diplomat di kedutaan telah pergi, dan Kabul belum mengirimi mereka gaji sejak Agustus.

"Ada banyak alasan, pribadi dan profesional, tetapi saya tidak ingin menyebutkannya di sini," katanya tentang keputusannya untuk pergi seperti dilansir dari Reuters, Selasa (11/1/2022).



Dalam suratnya, Qaem mengatakan orang baru telah ditugaskan di kedutaan, dan hanya menyebutnya sebagai "Tuan Sadaat."

Surat Qaem mengatakan bahwa pada 1 Januari ada sisa USD100.000 atau sekitar Rp1,4 miliar di salah satu rekening bank kedutaan, serta jumlah yang tidak diungkapkan di rekening lain. Surat itu juga mencatat bahwa kunci lima mobil kedutaan akan ditinggalkan di kedutaan besar Afghanisyan dan dua mobil perlu disingkirkan.

"Saya sudah membayar semua staf lokal sampai 20 Januari 2022. Pekerjaan mereka sudah selesai," katanya.

Baca juga: Taliban Bertemu Pemimpin Perlawanan Afghanistan Ahmad Massoud di Iran

Kementerian Luar Negeri Afghanistan tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang siapa pengganti Qaem.

Sementara itu juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan pada briefing harian hari ini bahwa Qaem telah meninggalkan China, tanpa memberikan rincian kapan atau ke mana dia pergi.

China berbagi perbatasan dengan Afghanistan dan Beijing telah mengirim pasokan bantuan kemanusiaan ke negara itu sejak kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan pada bulan Agustus lalu.

Pemerintah internasional, termasuk China, hingga kini belum mengakui pemerintah Taliban sebagai pemerintah yang sah. Sanksi ketat telah melumpuhkan keuangan publik negara itu.

Baca juga: Ashraf Ghani Salahkan Kesepakatan AS-Taliban Atas Jatuhnya Afghanistan

Kembalinya Taliban secara tiba-tiba ke kekuasaan telah membuat ratusan diplomat Afghanistan di luar negeri dalam keadaan yang tidak pasti, takut dengan nasib keluarganya di Tanah Air dan putus asa untuk mendapatkan perlindungan di luar negeri.

Sejak Agustus, China telah meminta Taliban untuk membuat kebijakan yang moderat sambil membasmi kelompok-kelompok yang dianggap mengancam stabilitas di wilayah barat jauh Xinjiang.

Beijing juga menyerukan kekuatan Barat untuk mengakhiri sanksi dan mengirim bantuan ke Afghanistan.

Baca juga: Wanita Afghanistan Turun ke Jalan, Protes Pembunuhan Misterius
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Pilu Seorang Ibu Gugat...
Pilu Seorang Ibu Gugat OpenAI Usai Kematian Putrinya Dikaitkan ChatGPT
Ikuti Indonesia, Inggris...
Ikuti Indonesia, Inggris Resmi Melarang Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Rekomendasi
Asprov PSSI Banyak Dipimpin...
Asprov PSSI Banyak Dipimpin Plt Ketua, Tata Kelola Federasi Dipertanyakan
BMKG: 9 Gempa Susulan...
BMKG: 9 Gempa Susulan Terjadi Pascagempa M6,7 di Palu
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
Berita Terkini
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Siapa Pihak yang Berpotensi...
Siapa Pihak yang Berpotensi Menggagalkan Kesepakatan Perdamaian Iran dan AS?
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Momen Terakhir Wanita...
Momen Terakhir Wanita Tewas dalam Bungee Jumping 39 Meter: 'Bernapas Terengah-engah'
Posisi Iran Jadi Pemenang,...
Posisi Iran Jadi Pemenang, Israel Tetap Berstatus Pecundang
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved