Pandemi Corona Sebabkan Keruntuhan Ekonomi Terluas sejak 1870
Rabu, 10 Juni 2020 - 06:39 WIB
loading...
A
A
A
China kemungkinan besar akan menjadi salah satu negara yang mengalami pertumbuhan tahun ini, walaupun dengan pertumbuhan yang sangat lambat. Hal itu akan berdampak besar terhadap prospek pemulihan ekonomi negara berkembang, terutama yang menggantungkan pendapatan dari ekspor komoditas.
Bank Dunia memperkirakan China akan mengalami kenaikan produk domestik bruto (PDB) 1%. Adapun negara lainnya akan mengalami penurunan. AS akan menderita penurunan sekitar -6,1%, Eropa -9,1%, Brasil -8%, Meksiko -7,5%, dan India -3,2%. Meski dramatis, prediksi resesi ekonomi tahun ini masih jauh dari masa Great Depression. Bank Dunia menyatakan tingkat kontraksi dunia pernah mencapai 14,5% selama 1930-1932, sedangkan pasca-Perang Dunia II pada 1945-1946 mencapai 13,8%.
Sampai sekarang, wabah Covid-19 masih berlangsung, terutama di Afrika dan Amerika Latin. Jika Covid-19 kembali menyerang dalam gelombang kedua atau kondisi kesehatan tidak meningkat hingga menyebabkan pemerintah kembali memberlakukan pembatasan sosial, ekonomi dunia akan semakin jatuh. "Gangguan terhadap aktivitas akan memperlemah kapabilitas bisnis untuk tetap mampu beroperasi dan membayar utang," ungkap Bank Dunia.
"Dengan tingkat utang sudah mencapai titik tertinggi di sepanjang sejarah, lockdown akan menyebabkan krisis keuangan hebat." (Baca juga: Penambahan Kasus Positif Covid-19 Capai 1.043, DKI Jakarta Tertinggi)
Meski dunia merencanakan proyek pemulihan sebesar 4,2% pada 2021, resesi tidak akan dapat dielakkan di berbagai negara, bahkan sebagian negara akan menderita dalam beberapa tahun ke depan.
Bank Dunia memperkirakan China akan mengalami kenaikan produk domestik bruto (PDB) 1%. Adapun negara lainnya akan mengalami penurunan. AS akan menderita penurunan sekitar -6,1%, Eropa -9,1%, Brasil -8%, Meksiko -7,5%, dan India -3,2%. Meski dramatis, prediksi resesi ekonomi tahun ini masih jauh dari masa Great Depression. Bank Dunia menyatakan tingkat kontraksi dunia pernah mencapai 14,5% selama 1930-1932, sedangkan pasca-Perang Dunia II pada 1945-1946 mencapai 13,8%.
Sampai sekarang, wabah Covid-19 masih berlangsung, terutama di Afrika dan Amerika Latin. Jika Covid-19 kembali menyerang dalam gelombang kedua atau kondisi kesehatan tidak meningkat hingga menyebabkan pemerintah kembali memberlakukan pembatasan sosial, ekonomi dunia akan semakin jatuh. "Gangguan terhadap aktivitas akan memperlemah kapabilitas bisnis untuk tetap mampu beroperasi dan membayar utang," ungkap Bank Dunia.
"Dengan tingkat utang sudah mencapai titik tertinggi di sepanjang sejarah, lockdown akan menyebabkan krisis keuangan hebat." (Baca juga: Penambahan Kasus Positif Covid-19 Capai 1.043, DKI Jakarta Tertinggi)
Meski dunia merencanakan proyek pemulihan sebesar 4,2% pada 2021, resesi tidak akan dapat dielakkan di berbagai negara, bahkan sebagian negara akan menderita dalam beberapa tahun ke depan.
Lihat Juga :