125 Negara Dukung Penyelidikan Terbuka Kejahatan Perang Israel

Sabtu, 25 Desember 2021 - 14:32 WIB
loading...
125 Negara Dukung Penyelidikan...
Israel Defense Force dituding telah melakukan banyak kejahatan perang. FOTO/IDF Unit
A A A
NEW YORK - Majelis Umum PBB pada Kamis (23/12/2021) malam dengan dukungan dari 125 negara mendukung penyelidikan kejahatan perang terbuka yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel . Dukungan ini termasuk ke dalam perang Gaza 11 hari pada bulan Mei silam, yang dikenal sebagai Penjaga Tembok.

Seperti dilaporkan JPost, Jumat (24/12/2021), penyelidikan itu awalnya telah disetujui pada Mei oleh badan Dewan HAM PBB yang beranggotakan 47 orang setelah perang Gaza. Mandatnya yang luas - disetujui 24-9 dengan 14 abstain - memungkinkan penyelidikan atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia Israel di kedua sisi Garis Hijau. Ini akan mencakup Israel yang berdaulat, serta Tepi Barat, dan Gaza.

Baca: Iran Gertak Israel dengan Tembakan 16 Rudal Balistik, Inggris Kesal

Tidak ada penyelidikan terbuka seperti itu yang pernah dilakukan terhadap negara anggota PBB lainnya. Pada hari Kamis masalah tersebut dipindahkan ke United Nations General Assembly (UNGA), yang ditugaskan untuk menyetujui anggaran untuk penyelidikan itu, sebagai bagian dari alokasi anggaran keseluruhan yang lebih besar untuk UNHRC.

Israel meminta untuk mengubah resolusi anggaran UNHRC, sehingga uang untuk penyelidikan dikeluarkan dari anggaran UNHRC secara keseluruhan. Itu adalah langkah yang secara efektif menempatkan masalah penyelidikan kejahatan perang permanen terhadap Israel di hadapan 193 anggota UNGA yang lebih besar. Langkah ini langsung diprotes Israel.

“Membentuk sebuah komite tetap yang baru dan permanen daripada Komisi Penyelidikan yang terbatas, sementara dan terdefinisi dengan baik belum pernah terjadi sebelumnya dan berbahaya dalam hal implikasi anggaran jangka panjang bagi organisasi PBB secara keseluruhan,” kata perwakilan Israel kepada UNGA.

"Sejak didirikan pada tahun 2006, UNHRC telah membentuk 32 badan investigasi, dengan sembilan hampir sepertiga dari badan-badan ini berfokus secara eksklusif pada Israel," kata perwakilan tersebut. UNGA tidak mengindahkan kata-katanya. Amandemen untuk menggunduli penyelidikan ditolak 125-8, dengan 34 abstain.

Baca: Pemukim Israel Cabuti Ratusan Pohon Zaitun, Warga Palestina Merana

G77 dan China menyerukan pemungutan suara yang direkam dan mendesak semua negara untuk menolak amandemen Israel. Negara-negara tersebut, selain Israel, yang mendukung amandemen yang diajukan oleh negara Yahudi itu adalah; Hungaria, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini dan Amerika Serikat.

Perwakilan AS mengatakan, bahwa penyelidikan melanggengkan praktik secara tidak adil memilih Israel di PBB. “Dan, seperti pemerintahan AS sebelumnya, kami sangat menentang perlakuan semacam itu terhadap Israel,” tegas perwakilan AS.

"AS akan terus menentang [penyelidikan] ini dan mencari peluang di Jenewa untuk meninjau kembali mandatnya, yang sayangnya disahkan ketika AS tidak memiliki kursi di UNHRC," lanjutnya.

"Israel dapat terus mengandalkan AS untuk melakukan segala kemungkinan untuk melindunginya dari kritik yang diskriminatif dan tidak seimbang baik di UNHRC atau di tempat lain dalam sistem PBB," katanya.

Baca: Nestapa Petani Palestina di Tepi Barat, Kebun Zaitun Siap Panen Dijarah Pemukim Israel

Di antara 34 negara yang abstain adalah: Albania, Australia, Austria, Brasil, Bulgaria, Burundi, Kanada, Republik Afrika Tengah, Kolombia, Kroasia, Republik Ceko, Ekuador, Fiji, Jerman, Guatemala, Haiti, Honduras, India, Italia, Lithuania, Madagaskar, Montenegro, Belanda, Makedonia Utara, Republik Korea, Rwanda, Slovakia, Slovenia, Kepulauan Solomon, Tonga, Ukraina, Inggris Raya, Uruguay, dan Zambia.

Australia dan Kanada, yang memiliki catatan kuat dalam mendukung Israel, keduanya mengambil langkah untuk menjelaskan keputusan mereka untuk abstain, mencatat bahwa mereka sering berusaha untuk mendukung pendanaan untuk komisi penyelidikan UNHRC, bahkan ketika mereka menentangnya.

Australia mengatakan bahwa mereka bukan anggota UNHRC dan tidak dapat memberikan suara pada resolusi tersebut ketika disetujui pada bulan Mei. "Kami menentang bias anti-Israel," kata perwakilannya.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wali Kota New York Ngotot...
Wali Kota New York Ngotot Ingin Tangkap PM Israel Netanyahu: 'Dia Penjahat Perang'
Para Turis Israel Dipukuli...
Para Turis Israel Dipukuli di Montenegro, Diteriaki 'Pelaku Genosida Gaza'
Israel Berencana Gunakan...
Israel Berencana Gunakan Buaya untuk Jaga Tahanan Palestina
Trump Geram pada Netanyahu...
Trump Geram pada Netanyahu karena Kritik Rencana AS Jual Jet Tempur Siluman F-35 ke Turki
Presiden Israel Ingin...
Presiden Israel Ingin Berdamai dengan Arab Saudi: Saya Menghormati Mohammed bin Salman
Israel Marah atas Runtuhnya...
Israel Marah atas Runtuhnya Dukungan AS, Padahal Sudah Bayar Buzzer Rp26,8 Miliar Per Bulan
Rebut Harta Karun Dinasti...
Rebut Harta Karun Dinasti Assad, Prancis Pulangkan Aset Rp1 Triliun ke Suriah!
Sampaikan Belasungkawa,...
Sampaikan Belasungkawa, Menlu RI Tekankan Peran Sheikh Hamad bagi Persahabatan Indonesia-Qatar
Lagu Kebangsaan Spanyol...
Lagu Kebangsaan Spanyol Tak Punya Lirik, Bagaimana Cara Nyanyinya?
Rekomendasi
2 Korban KM Nurul Salsa...
2 Korban KM Nurul Salsa Ditemukan dalam Keadaan Selamat, 18 Orang Masih Hilang
Seskab Teddy dan Menteri...
Seskab Teddy dan Menteri Ara Sirait Bahas Target Bedah 400.000 Rumah
Tinggalkan Jas dan Dasi,...
Tinggalkan Jas dan Dasi, Pekerja Kantoran di Jepang Boleh Pakai Celana Pendek dan Kaus Oblong
Berita Terkini
5 Strategi Jitu Tingkatkan...
5 Strategi Jitu Tingkatkan Popularitas, PM Anwar Ibrahim Gunakan Kembaran ala PMX.AI
Pakar Militer Israel...
Pakar Militer Israel Akui Iran Berperang Melawan AS seperti Negara Adidaya Modern, Ini 4 Alasannya
4 Alasan Rakyat AS Marah...
4 Alasan Rakyat AS Marah Besar atas Kematian 2 Tentara dan Kegagalan Melawan Iran
2 Tentara AS Tewas Dirudal...
2 Tentara AS Tewas Dirudal Iran, Anggota DPR Iran: Silakan Melarikan Diri
The Wall Street Journal...
The Wall Street Journal Ungkap Kemampuan Rudal Iran Lebih Unggul Dibandingkan Pertahanan Udara AS
Pakar Militer Ini Ungkap...
Pakar Militer Ini Ungkap Psikologi Presiden Trump Lebih Penting Dibandingkan Biaya Politik
Infografis
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved