Kebijakan Lockdown Membuat Polusi Udara Dunia Menurun 60 Persen

Kamis, 23 April 2020 - 09:35 WIB
loading...
A A A
Dalam laporan ini, Google telah melacak pergerakan orang di titik-titik tertentu. Selain berharap data ini dapat digunakan otoritas kesehatan untuk menanggulangi wabah Covid-19, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu juga berjanji akan menjaga privasi setiap orang yang didata Google Maps selama masa lockdown.

“Informasi ini diharapkan dapat membantu pejabat pemerintah menerapkan kebijakan yang tepat,” ungkap Google. “Selain itu, dengan adanya kunjungan ke sejumlah hub transportasi, pemerintah mungkin perlu menambah unit atau jam operasional bus sehingga penumpang tidak berdesak-desakan,” tambahnya.

Google menambahkan, pengguna Google Maps dapat memilih untuk tidak memberikan data. Namun, dengan sikap kooperatif, mereka dapat melihat tingkat kepadatan pengunjung di suatu lokasi sehingga dapat menghindari titik itu. Pendataan ini juga menunjukkan implementasi lockdown berjalan sesuai harapan.

Laporan ini hanya berselang sehari setelah Kepala Pengadilan Uni Eropa (E) Vera Jourova mendesak perusahaan teknologi untuk turut berbagi data dengan para ilmuwan dalam menangani Covid-19. Dia juga mengkritik perusahaan media sosial yang memberikan insentif dan uang terhadap para penebar berita palsu.

Dengan berkurangnya aktivitas lalu lintas dan pabrik akibat wabah Covid-19, dunia juga mengalami penurunan polusi udara. Hal itu terungkap dari citra satelit yang dikeluarkan Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) Amerika Serikat (AS) dan Badan Antariksa Eropa (ESA) beberapa waktu lalu.

Berdasarkan citra satelit, tingkat nitrogen dioksida di China menumpuk pada 1-20 Januari. Namun, pada 10-25 Februari, jejak gas tersebut hampir tidak terlihat mata. Nitrogen dioksida adalah gas yang berwarna kuning-coklat, biasanya diproduksi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, dan fasilitas industri.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Eks Bos CDC Klaim Peran...
Eks Bos CDC Klaim Peran Penting AS dalam Memulai Pandemi Covid
Keputusan China Akhiri...
Keputusan China Akhiri 'Nol Covid-19' Diduga Picu 1,9 Juta Ekses Kematian
Jejak Panjang Pandemi...
Jejak Panjang Pandemi Covid-19: dari Muncul di Wuhan hingga Dinyatakan Berakhir
WHO: Covid-19 Sudah...
WHO: Covid-19 Sudah Berakhir
Bukan Kebocoran Lab,...
Bukan Kebocoran Lab, Data Baru Kaitkan Virus Covid-19 Berasal dari Binatang Ini
Waduh! 80% Populasi...
Waduh! 80% Populasi China Telah Terinfeksi Covid-19
Satu Lagi Varian Baru...
Satu Lagi Varian Baru Virus Corona Bikin Was-was Ahli Kesehatan
Trump Marah Besar, Sebut...
Trump Marah Besar, Sebut Netanyahu ‘Gila' Usai Iran Hentikan Negosiasi
AS-Iran Saling Gempur...
AS-Iran Saling Gempur Lagi, Pemicunya Kapal Tanker Diserang
Rekomendasi
Viral Mitos Lemak Berbahaya...
Viral Mitos Lemak Berbahaya untuk MPASI Anak, Ini Penjelasan Dokter!
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp15.000 per Gram, Serok atau Jual?
Silmy Karim Ditahan...
Silmy Karim Ditahan KPK, Jabatan Wamen Imipas Segera Dicopot?
Berita Terkini
Bos NATO: Ukraina Menang...
Bos NATO: Ukraina Menang Perang, Rusia Semakin Putus Asa!
Trump Akui Mendamprat...
Trump Akui Mendamprat Netanyahu dengan Makian Kasar: 'Saya Sedikit Terganggu...'
Meski AS-Iran Musuh...
Meski AS-Iran Musuh Bebuyutan, Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei
Kim Jong-un Janji Tingkatkan...
Kim Jong-un Janji Tingkatkan Bom Nuklir Secara Eksponensial, Sebut Musuh Korut Sangat Ganas
Jerman Gagal Rebut Kursi...
Jerman Gagal Rebut Kursi DK PBB untuk Pertama Kalinya
Iran Serang Kapal Perang...
Iran Serang Kapal Perang AS di Teluk Oman yang Diklaim sebagai Pusat Komando Amerika
Infografis
Membuat Dunia Ketakutan,...
Membuat Dunia Ketakutan, Berikut Fakta Sapi Merah Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved