Lagi, Taliban Desak AS Cairkan Miliaran Dolar Aset Afghanistan

Rabu, 01 Desember 2021 - 18:46 WIB
loading...
Lagi, Taliban Desak...
Taliban kembali mendesak AS untuk mencairkan miliaran dolar aset Afghanistan. Foto/Ilustrasi
A A A
KABUL - Taliban kembali menyerukan Amerika Serikat (AS) untuk mencairkan miliaran dolar dana Afghanistan yang dibekukan setelah pembicaraan dua hari di Doha, Qatar . Seruan terbaru ini dilakukan ketika Afghanistan yang bergantung pada bantuan internasional bergelut dengan krisis ekonomi.

Afghanistan juga menyerukan diakhirinya daftar hitam dan sanksi dalam pertemuan yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi dan perwakilan khusus AS untuk Afghanistan, Tom West.

Ini adalah putaran kedua pembicaraan antara kedua pihak di Qatar sejak AS mengakhiri pendudukan 20 tahun di Afghanistan dan kelompok Islam garis keras itu dengan cepat kembali berkuasa.

"Kedua delegasi membahas masalah politik, ekonomi, manusia, kesehatan, pendidikan dan keamanan serta menyediakan fasilitas perbankan dan uang tunai yang diperlukan," tweeted juru bicara kementerian luar negeri Afghanistan Abdul Qahar Balkhi.

Baca juga: Pidato Perdana, Pemimpin Taliban Merengek Minta Bantuan Internasional

"Delegasi Afghanistan meyakinkan pihak keamanan AS dan mendesak agar dana beku Afghanistan harus dikeluarkan tanpa syarat, daftar hitam dan sanksi harus diakhiri dan masalah kemanusiaan dipisahkan dari masalah politik," imbuhnya seperti dikutip dari Arab News, Rabu (1/12/2021).

Washington menyita hampir USD9,5 miliar aset milik bank sentral Afghanistan. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga menangguhkan kegiatan di Afghanistan, menahan bantuan serta USD340 juta dalam cadangan baru yang dikeluarkan oleh IMF pada Agustus.

Ekonomi Afghanistan telah runtuh secara efektif, dengan pegawai negeri sipil yang tidak dibayar selama berbulan-bulan dan perbendaharaan tidak mampu membayar impor. PBB telah memperingatkan bahwa sekitar 22 juta orang, lebih dari setengah populasi, akan menghadapi kekurangan pangan "akut" di bulan-bulan musim dingin.

Pemimpin pemerintah Taliban Mullah Mohammad Hassan Akhund termasuk di antara mereka yang menjadi sasaran sanksi AS. Pihak AS berdiri teguh pada langkah-langkah tersebut dan mengatakan pihaknya mengambil langkah-langkah untuk mendapatkan dukungan kepada warga Afghanistan biasa.

"Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk memastikan bahwa sanksi AS tidak membatasi kemampuan warga sipil Afghanistan untuk menerima dukungan kemanusiaan dari pemerintah AS dan komunitas internasional sambil menolak aset untuk entitas dan individu yang terkena sanksi," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Kembali Duduk Satu Meja, Ini Daftar Tuntutan Taliban untuk AS

"Departemen Keuangan telah mengeluarkan izin umum untuk mendukung aliran bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan kepada rakyat Afghanistan dan kegiatan lain yang mendukung kebutuhan dasar manusia," ia menambahkan.

AS juga mendesak Taliban untuk menyediakan akses pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan di seluruh negeri serta menyatakan keprihatinan mendalam mengenai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.

AS mengingatkan Taliban akan komitmennya untuk tidak mengizinkan organisasi teroris beroperasi di wilayahnya dan untuk menjamin perjalanan yang aman bagi warga AS dari Afghanistan.

Amerika juga menyerukan pembebasan warga negara AS Mark Frerichs, yang diculik di Afghanistan pada Februari tahun lalu.

Taliban menyebut pembicaraan itu "positif" dan mengatakan Muttaqi juga bertemu dengan duta besar Jepang dan Jerman untuk Afghanistan di Doha.

Baca juga: AS Akan Lanjutkan Pembicaraan dengan Taliban di Qatar Pekan Depan
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz karena Israel Serang Lebanon
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
Skandal Kerajaan, Putra...
Skandal Kerajaan, Putra dari Putri Mahkota Norwegia Divonis Penjara atas Tuduhan Pemerkosaan
Trump: Kemampuan Militer...
Trump: Kemampuan Militer Iran Jauh Melemah
Rekomendasi
Puasa Tasua dan Asyura,...
Puasa Tasua dan Asyura, Mana yang Lebih Utama?
Jakarta Night Market...
Jakarta Night Market Glodok Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Raup Untung Besar
Kaesang Kaget Foto Jokowi...
Kaesang Kaget Foto Jokowi Lebih Banyak di Rakorwil PSI Kaltim
Berita Terkini
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Krisis Politik Inggris...
Krisis Politik Inggris Makin Parah, PM Keir Starmer Bersiap Mengundurkan Diri
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Infografis
Melawan Donald Trump,...
Melawan Donald Trump, 7 Kampus Elite AS Kehilangan Dana Miliaran Dolar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved