Tegang dengan Aljazair, Maroko Ingin Beli Sistem Rudal Iron Dome Israel

Senin, 08 November 2021 - 08:17 WIB
loading...
Tegang dengan Aljazair,...
Sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel saat mengintersepsi roket dari Gaza. Maroko berminat untuk membeli senjata pertahanan Israel tersebut. Foto/REUTERS/Amir Cohen
A A A
RABAT - Kerajaan Maroko mengaku tertarik untuk membeli sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel. Minat kerajaan itu muncul di tengah ketegangan dengan Aljazair yang semakin memanas.

Iron Dome, yang diproduksi oleh Rafael Advanced Defense Systems, dirancang untuk mencegat dan menghancurkan proyektil jarak pendek termasuk roket dan drone. "Ini akan memastikan pertahanan yang lebih baik dari dinding pasir di Sahara, tetapi juga zona sipil dan militer yang bersifat sensitif," tulis situs berita Maroko, Le Desk, dalam laporannya hari Minggu (7/11/2021) mengutip situs militer kerajaan.

Baca juga: Latihan Perang, Iran Sesumbar Siap Lawan AS dan Israel Sekaligus

Laporan itu muncul di tengah meningkatnya permusuhan antara Maroko dan Aljazair, di mana hubungan kedua negara mencapai titik terendah setelah tiga pengemudi truk Aljazair tewas dalam serangan bom pada hari Senin di daerah perbatasan antara Mauritania dan wilayah Sahara Barat yang disengketakan.

Meskipun Maroko telah membantah terlibat, pemerintah Aljazair mencurigai kerajaan itu berada di balik serangan tersebut.

Sebuah pernyataan oleh kepresidenan Aljazair mengutuk insiden itu dan memperingatkan kerajaan bahwa pembunuhan itu tidak akan dibiarkan begitu saja.

"Beberapa faktor menunjukkan pasukan pendudukan Maroko di Sahara Barat telah melakukan pembunuhan pengecut dengan persenjataan canggih ini. Agresivitas brutal ini adalah karakteristik dari kebijakan ekspansi teritorial dan teror yang diketahui," bunyi pernyataan tersebut.

Pada hari Kamis pekan lalu, surat kabar Spanyol La Razon mengungkapkan bahwa Aljazair telah mengerahkan rudal di dekat perbatasannya dengan Maroko.

Kemarin, Raja Maroko Mohamed VI menegaskan kembali klaim teritorial Rabat atas Sahara Barat, dengan mengatakan statusnya tidak dapat dinegosiasikan.

Dia membuat pernyataan selama peringatan 46 tahun Green March, sebuah demonstrasi massal dengan dukungan pemerintah yang menyaksikan 350.000 orang Maroko memasuki wilayah itu pada tahun 1975 untuk mengklaimnya dari Spanyol.

Baca juga: Perawat Ini Blakblakan Selingkuh dengan David Fuller Si Pemerkosa 99 Mayat Wanita

Maroko telah berkonflik dengan kelompok separatis Polisario yang didukung Aljazair untuk memperebutkan Sahara Barat sejak akhir pendudukan Spanyol. Itu berubah menjadi konfrontasi bersenjata yang berlangsung hingga 1991 dan berakhir dengan penandatanganan perjanjian gencatan senjata yang runtuh tahun lalu.

Bulan lalu, pemimpin gerakan kemerdekaan Sahara Barat bersumpah untuk melanjutkan perang melawan pasukan Maroko di sepanjang tembok pemisah sampai masyarakat internasional mengakui hak penentuan nasib sendiri rakyat Sahrawi.

Kerajaan Maroko telah melakukan normalisasi hubungan dengan Israel yang ditengahi pemerintah Amerika Serikat era Presiden Donald Trump. Sebagai imbalannya, AS setuju untuk mengakui klaim teritorial Maroko atas Sahara Barat dan mendukung "rencana otonomi" untuk wilayah sengketa tersebut.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
Dugaan Aroma Konspirasi...
Dugaan Aroma Konspirasi 'Aib Gijon' di Piala Dunia 2026, Sengaja Singkirkan Iran?
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Putin: Ukraina Minta...
Putin: Ukraina Minta Serangan ke Wilayah Lebih Dalam Dihentikan
Rekomendasi
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Ilmuwan Temukan Penyebab...
Ilmuwan Temukan Penyebab Baru di Balik Peningkatan Lemak Perut Seiring Bertambahnya Usia
Mantan Karyawan Apple...
Mantan Karyawan Apple dan Audi Kembangkan Kendaraan Listrik Terinspirasi dari Armada Bulan
Berita Terkini
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Infografis
15 Negara dengan Militer...
15 Negara dengan Militer Terkuat di Dunia 2025, Indonesia Ungguli Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved