Mayoritas Rakyat AS Dukung Demonstrasi Antirasial
Kamis, 04 Juni 2020 - 11:13 WIB
loading...
Pengunjuk rasa memegang foto sketsa George Floyd selama mengikuti demonstrasi atas kematiannya di lembaga pemasyarakatan Minneapolis di Washington, Amerika Serikat, 2 Juni2020. Foto/REUTERS/Jonathan Ernst
A
A
A
WASHINGTON - Mayoritas rakyat Amerika Serikat (AS) bersimpati dengan demonstrasi yang menyebar di seluruh wilayah negara tersebut. Aksi itu semakin marak karena mereka meluapkan kemarahan atas respons Presiden Donald Trump yang cenderung menggunakan gaya diktator.
Demonstrasi tidak hanya untuk mengekspresikan atas perlakuan terhadap George Floyd , tapi juga mengecam kekejaman polisi atas perlakuan mereka terhadap warga kulit hitam di Amerika. Orang Afrika-Amerika lebih mungkin ditembak secara fatal oleh polisi dibandingkan kelompok etnis lain. Mereka juga ditangkap karena penyalahgunaan narkoba pada tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan warga Amerika kulit putih, meskipun survei menunjukkan penggunaan narkoba pada kedua etnis itu sama.
Survei yang dilaksanakan Reuters/Ipsos menunjukkan 64% warga AS menunjukkan simpati dengan demonstrasi yang terjadi saat ini. Sedangkan 27% menyatakan tidak bersimpati dan 9% menyebutkan tidak yakin dengan demonstrasi tersebut. Hasil jajak pendapat menunjukkan resiko besar politik bagi Trump karena menggunakan pendekatan garis keras terhadap para demonstran dengan mengancam akan menerjunkan militer untuk menghalau para demonstran. (Baca: Demonstrasi Memanas, Pentagon Pindahkan 1.600 Tentara ke Washington)
“Lebih dari 55% rakyat AS tidak sepakat dengan respons Trump terhadap demonstran, termasuk 40% yang menolak keras,” demikian kesimpulan jajak pendapat tersebut, dilansir Reuters. Trump bisa saja menghadapi kekalahan ketika popularitasnya menurunkan pada pemilu November mendatang melawan kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden. Apalagi, jajak pendapat terpisah menyatakan Biden memimpin di atas Trump sebesar 10%.
Sementara itu, aksi penjarahan di berbagai pusat ikonik di New York, Macy dan toko-toko lainnya masih terus berlanjutnya. Jam malam di New York diperpanjang hingga Minggu (7/6), sementara jam malam di Philadeplhia berlaku hingga Kamis (4/6). Polisi New York kini aktif memburu para penjarah. Namun, banyak penjarah yang bterus melakukan aksinya dan banyak orang berkumpul di depan toko yang menjadi target penjarahan. Gubernur New York Andrew Cuomo mengkritik polisi yang disebutnya "tidak melakukan tugasnya".
Demonstrasi tidak hanya untuk mengekspresikan atas perlakuan terhadap George Floyd , tapi juga mengecam kekejaman polisi atas perlakuan mereka terhadap warga kulit hitam di Amerika. Orang Afrika-Amerika lebih mungkin ditembak secara fatal oleh polisi dibandingkan kelompok etnis lain. Mereka juga ditangkap karena penyalahgunaan narkoba pada tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan warga Amerika kulit putih, meskipun survei menunjukkan penggunaan narkoba pada kedua etnis itu sama.
Survei yang dilaksanakan Reuters/Ipsos menunjukkan 64% warga AS menunjukkan simpati dengan demonstrasi yang terjadi saat ini. Sedangkan 27% menyatakan tidak bersimpati dan 9% menyebutkan tidak yakin dengan demonstrasi tersebut. Hasil jajak pendapat menunjukkan resiko besar politik bagi Trump karena menggunakan pendekatan garis keras terhadap para demonstran dengan mengancam akan menerjunkan militer untuk menghalau para demonstran. (Baca: Demonstrasi Memanas, Pentagon Pindahkan 1.600 Tentara ke Washington)
“Lebih dari 55% rakyat AS tidak sepakat dengan respons Trump terhadap demonstran, termasuk 40% yang menolak keras,” demikian kesimpulan jajak pendapat tersebut, dilansir Reuters. Trump bisa saja menghadapi kekalahan ketika popularitasnya menurunkan pada pemilu November mendatang melawan kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden. Apalagi, jajak pendapat terpisah menyatakan Biden memimpin di atas Trump sebesar 10%.
Sementara itu, aksi penjarahan di berbagai pusat ikonik di New York, Macy dan toko-toko lainnya masih terus berlanjutnya. Jam malam di New York diperpanjang hingga Minggu (7/6), sementara jam malam di Philadeplhia berlaku hingga Kamis (4/6). Polisi New York kini aktif memburu para penjarah. Namun, banyak penjarah yang bterus melakukan aksinya dan banyak orang berkumpul di depan toko yang menjadi target penjarahan. Gubernur New York Andrew Cuomo mengkritik polisi yang disebutnya "tidak melakukan tugasnya".
Lihat Juga :