Kekuatan Dunia Sepakat Tekan Taliban Bentuk Pemerintahan Inklusif

Kamis, 23 September 2021 - 16:52 WIB
loading...
Kekuatan Dunia Sepakat...
Seorang anggota Taliban berpatroli di jalanan kota Kabul. FOTO/Reuters
A A A
NEW YORK - Lima anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB menemukan kesamaan terkait permasalahan Afghanistan . Para pejabat mengatakan semua kekuatan dunia itu akan menekan Taliban untuk lebih inklusif setelah mereka mengambil alih kekuasaan dengan militer.

China dan Rusia telah menggambarkan kemenangan Taliban bulan lalu sebagai kekalahan bagi Amerika Serikat (AS) dan bergerak untuk bekerja dengan Taliban, tetapi tidak ada negara yang bergerak untuk mengakui pemerintahannya.

Baca: Taliban Berkuasa, FBI Takut Afghanistan Kembali Jadi Surga Bagi Kelompok Teror

"Semua kekuatan Dewan Keamanan menginginkan Afghanistan yang damai dan stabil di mana bantuan kemanusiaan dapat didistribusikan tanpa masalah dan tanpa diskriminasi," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres setelah pertemuan selama Sidang Umum PBB.

"Mereka mencari Afghanistan di mana hak-hak perempuan dan anak perempuan dihormati, Afghanistan yang bukan tempat perlindungan bagi terorisme, Afghanistan dengan pemerintah inklusif yang mewakili semua bagian dari populasi," imbuhnya seperti dikutip dari The Al Araby, Kamis (23/9/2021).

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan para menteri luar negeri Inggris, Prancis serta Rusia bertemu secara langsung sementara rekan mereka dari China Wang Yi bergabung secara virtual untuk pembicaraan lebih dari satu jam.

Baca: Hadiri Pertemuan Menlu G20 Soal Afghanistan, Ini yang Disampaikan Retno

Seorang pejabat AS menggambarkan pertemuan yang disebut oleh Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss sebagai pertemuan yang konstruktif dan banyak konvergensi, termasuk harapan bahwa Taliban menghormati hak-hak perempuan dan anak perempuan.

"Saya kira tidak ada orang yang puas dengan komposisi pemerintahan sementara ini, termasuk China," kata pejabat itu.

Berbicara kepada AFP sebelum pertemuan, Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun, setuju bahwa kelima kekuatan itu semuanya menginginkan pemerintahan yang inklusif. “Persatuan ada di mana-mana,” ujarnya.

China sebelumnya telah mengkritik AS karena membekukan miliaran dolar aset Afghanistan. Tetapi Beijing juga ingin agar negara tetangganya itu tidak menjadi basis bagi kelompok-kelompok ekstremis luar.

Afghanistan juga menjadi subjek pembicaraan virtual oleh Kelompok 20, kelompok ekonomi utama, yang mencakup partisipasi beberapa negara lain termasuk Qatar, pusat diplomasi Taliban.

Baca: Menlu Jerman: Show Taliban di PBB Tidak akan Ada Gunanya

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, berbicara di G20, memperbaharui kekhawatiran tentang pemerintahan sementara kelompok Islamis yang tidak termasuk non-Taliban dan tidak ada wanita tetapi menteri-menterinya masuk daftar hitam oleh PBB atas tuduhan terorisme.

"Pengumuman pemerintah non-inklusif adalah kesalahan taktis oleh Taliban, karena akan mempersulit kami untuk terlibat dengan mereka," kata Maas.

"Penting bagi mereka untuk mendengar ini dari kita semua. Dan kita juga harus berbicara dengan satu suara ketika menyangkut parameter politik dasar dan tolok ukur untuk setiap keterlibatan di masa depan dengan mereka," sambungnya.

Taliban telah meminta untuk berbicara di Majelis Umum PBB tetapi AS, yang duduk di komite kredensial, telah menjelaskan bahwa tidak ada keputusan yang akan dibuat sebelum KTT berakhir awal pekan depan.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
WSIS Prizes 2026 PBB:...
WSIS Prizes 2026 PBB: Dua Program Digitalisasi Kemendikdasmen Diakui Dunia
Presiden Serbia Aleksandar...
Presiden Serbia Aleksandar Vučić Umumkan Pengunduran Diri
Pemerintah Arab Saudi...
Pemerintah Arab Saudi Cuci Ka'bah Hari Ini, Gunakan Air Zamzam dan Wewangian
Rekomendasi
Gugatan PMH Legalisir...
Gugatan PMH Legalisir Ijazah Jokowi Masuk Tahap Mediasi
Riri Riza Soroti Vonis...
Riri Riza Soroti Vonis 10 Tahun Nadiem Makarim, Singgung Dissenting Opinion Hakim
Perjuangan Iran di Piala...
Perjuangan Iran di Piala Dunia 2026 Sentuh Hati Infantino
Berita Terkini
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Rakyat UEA Menikmati Jaringan Kereta Api
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved