Fakta Baru Baku Tembak di Istana Presiden, Tokoh Moderat Taliban Baradar Tersingkir

Sabtu, 18 September 2021 - 19:01 WIB
loading...
Fakta Baru Baku Tembak...
Mullah Abdul Ghani Baradar muncul dalam tayangan televisi terbaru di Kandahar, Afghanistan, pada 15 September 2021. Foto/RTA Kandahar/REUTERS
A A A
KABUL - Tokoh yang diharapkan Amerika Serikat (AS) dan sekutu Barat akan menjadi suara moderat dalam pemerintahan Taliban Afghanistan telah disingkirkan setelah baku tembak dramatis di istana presiden di Kabul.

Fakta terbaru itu diungkapkan sejumlah orang yang mengetahui masalah tersebut dalam laporan yang dirilis Sabtu (18/9/2021) oleh Alarabiya dan Bloomberg.

Mullah Abdul Ghani Baradar adalah wajah tokoh Taliban paling dikenal yang memimpin pembicaraan damai dengan AS.

Baca juga: Putin Tegaskan Rusia Perlu Bekerja Sama dengan Taliban

“Baradar diserang secara fisik oleh seorang pemimpin Jaringan Haqqani pada awal September selama pembicaraan di istana mengenai pembentukan kabinet,” papar sumber tersebut yang meminta tidak disebut namanya terkait insiden itu.

Baca juga: Utusan Khusus PBB Temui Mendagri Taliban yang Jadi Buruan AS

“Baradar telah mendorong kabinet inklusif yang mencakup para pemimpin non-Taliban dan etnis minoritas, yang akan lebih dapat diterima seluruh dunia,” ujar sejumlah sumber.

Baca juga: Taliban Buru Jaksa Wanita yang Ungkap Anak-anak Dipaksa Tanam Bom

“Pada satu titik selama pertemuan, Khalil ul Rahman Haqqani bangkit dari kursinya dan mulai meninju pemimpin Taliban,” ungkap sumber tersebut.

“Pengawal kedua tokoh itu kemudian langsung terlibat keributan dan saling menembak satu sama lain, membunuh dan melukai beberapa orang dari mereka,” tutur orang-orang yang mengetahui kejadian itu.

Meski Baradar tidak terluka, dia telah meninggalkan ibu kota Kabul dan menuju ke Kandahar, basis Taliban, untuk berbicara dengan Pemimpin Tertinggi Haibatullah Akhundzada yang secara efektif menjadi pemimpin spiritual Taliban.

Susunan kabinet yang dirilis pada 7 September tidak memasukkan siapa pun dari luar Taliban, dengan sekitar 90% tempat dipegang etnis Pashtun dari kelompok Taliban.

Anggota keluarga Haqqani menerima empat posisi, dengan Sirajuddin Haqqani, pemimpin Jaringan Haqqani yang ada dalam daftar paling diburu FBI untuk terorisme, menjadi penjabat menteri dalam negeri.

Baradar ditunjuk sebagai salah satu dari dua wakil perdana menteri Imarah Islam Afghanistan.

Perlu diketahui, kelompok Taliban dan Haqqani bergabung sekitar tahun 2016.

Orang-orang mengatakan kepala badan intelijen Pakistan, yang berada di Kabul selama diskusi, lebih mendukung Haqqani dibandingkan Baradar.

Baradar menghabiskan sekitar delapan tahun di penjara Pakistan sebelum pemerintahan Donald Trump memfasilitasi pembebasannya untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai.

Mullah Mohammad Hassan yang kurang dikenal publik justru dipilih sebagai perdana menteri (PM), bukannya Baradar.

“Hassan memiliki hubungan yang lebih baik dengan Islamabad dan bukan merupakan ancaman bagi faksi Haqqani,” ungkap sejumlah sumber.

Kantor media militer Pakistan tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait fakta terbaru dari pertikaian di istana tersebut.

Selama sepekan terakhir, anggota Taliban menolak laporan tentang bentrokan di istana.

Baradar muncul di televisi yang dikelola pemerintah pada Kamis untuk menyangkal desas-desus bahwa dia telah terluka atau bahkan terbunuh.

Yang pasti, Baradar tidak hadir pada 12 September untuk menyambut Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani.

Baradar juga melewatkan rapat kabinet pertama Taliban pekan ini.

“Alhamdulillah, saya aman dan sehat. Pernyataan lain yang dibuat oleh media bahwa kami memiliki perselisihan internal juga sama sekali tidak benar,” ujar Baradar.

Dia menepis spekulasi atas ketidakhadirannya selama kunjungan delegasi Qatar, di mana anggota kabinet lainnya termasuk beberapa tokoh Haqqani hadir.

Qatar telah menjadi tuan rumah Baradar selama beberapa tahun dan memfasilitasi negosiasi dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Michael Pompeo di era Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika.

“Saya tidak mengetahui kunjungan menteri luar negeri Qatar. Saya bepergian selama kunjungan menteri luar negeri Qatar ke Kabul, dan saya tidak dapat mempersingkat perjalanan saya dan kembali ke Kabul,” tutur Baradar.

Dihubungi melalui telepon, juru bicara Taliban Bilal Karimi mengatakan, “Baradar tidak absen dan kami berharap dia akan segera kembali.”

“Tidak ada perbedaan di antara para pemimpin Imarah Islam. Mereka tidak bertengkar karena jabatan atau posisi pemerintah,” ujar Karimi.

Perpecahan di dalam Taliban adalah tanda yang mengkhawatirkan bagi negara-negara barat yang telah mendesak kelompok itu menerapkan kebijakan yang lebih moderat, termasuk menghormati hak-hak perempuan.

China dan Pakistan menekan AS untuk mencairkan dana cadangan Afghanistan karena negara itu menghadapi inflasi yang melonjak dan ancaman krisis ekonomi.

Hubungan antara faksi Haqqani dan Taliban telah lama tidak nyaman. Namun, Anas Haqqani, pemimpin kunci Haqqani juga menggunakan Twitter untuk menyangkal adanya keretakan dalam pemerintahan baru.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Afghanistan: Pakistan...
Afghanistan: Pakistan Bombardir Rumah Sakit Kabul, 400 Orang Tewas!
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Pakistan vs Afghanistan: Bak David vs Goliath
Bawa Pikap Ayahnya,...
Bawa Pikap Ayahnya, Bocah 11 Tahun Tabrak Iringan Peziarah dan Tewaskan 8 Orang
Media AS Ungkap Israel...
Media AS Ungkap Israel Berencana Bunuh Menlu dan Ketua Parlemen Iran
Rekomendasi
Muncul Siklon Tropis...
Muncul Siklon Tropis Maysak, BMKG: Waspada Gelombang Tinggi di Sejumlah Perairan
DPR Soroti Penggunaan...
DPR Soroti Penggunaan Helikopter KPU, Harap Bisa Dapat Sanksi Tegas
Uang Ratusan Juta Disita...
Uang Ratusan Juta Disita KPK dari OTT Bupati Langkat Syah Afandin
Berita Terkini
Iran Peringatkan AS...
Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
Jadi Anak Presiden dan...
Jadi Anak Presiden dan Jabat Panglima Militer, Jenderal Ini Seenaknya Menutup Media
5 Pemimpin Muslim yang...
5 Pemimpin Muslim yang Jenazahnya Diawetkan sebelum Dimakamkan, Ali Khamenei Paling Lama
Ketika Uang Negara Rp35.914...
Ketika Uang Negara Rp35.914 Triliun Lenyap Dikorupsi sejak 2003
Mojtaba Disebut Tak...
Mojtaba Disebut Tak Akan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Ini Alasannya
Komika Turki Ditangkap...
Komika Turki Ditangkap atas Tuduhan Menghina Islam dan Erdogan
Infografis
6 Jenderal Ditunjuk...
6 Jenderal Ditunjuk Menjadi Pangdam di Kodam Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved