Inggris Tak akan Akui Rezim Taliban tapi Tetap Bekerja Sama

Jum'at, 03 September 2021 - 19:10 WIB
loading...
Inggris Tak akan Akui...
Menlu Inggris Dominic Raab. Foto/REUTERS
A A A
LONDON - Inggris tidak akan mengakui Taliban sebagai pemerintahan baru di Kabul, tetapi harus menghadapi kenyataan baru di Afghanistan dan tidak ingin melihat tatanan sosial serta ekonominya rusak.

Sikap itu diungkapkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris Dominic Raab pada Jumat (3/9).

Berbicara selama kunjungan ke Pakistan, Raab mengatakan tidak mungkin mengevakuasi sekitar 15.000 orang dari Kabul tanpa kerja sama dengan Taliban, yang merebut ibu kota pada 15 Agustus.

Baca juga: Putin Soal 'Bencana' Afghanistan: Demokrasi Tidak Bisa Dipaksa dengan Kekuatan

“Pendekatan yang kami ambil adalah kami tidak mengakui Taliban sebagai pemerintah,” ujar dia, seraya menambahkan Inggris biasanya mengakui negara daripada pemerintah.

Baca juga: Taliban Klaim Rebut Jalan Masuk Utama ke Lembah Panjshir

“Kami melihat pentingnya untuk dapat terlibat dan memiliki jalur komunikasi langsung,” papar dia.

Baca juga: Jet Siluman Checkmate Versi Dua Kursi Lebih Diminati Pembeli Asing

Komentar Raab mencerminkan sikap negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat (AS) yang berusaha menyerang setelah kemenangan kilat Taliban dan runtuhnya pemerintah yang didukung Barat di Kabul.

Negara-negara Barat khawatir krisis kemanusiaan yang membayangi Afghanistan dan keruntuhan ekonominya dapat menciptakan ratusan ribu pengungsi ke negara lain.

Namun mereka waspada terhadap janji-janji Taliban bahwa Afghanistan tidak akan kembali ke aturan fundamentalis keras yang diterapkan selama periode terakhir mereka berkuasa sebelum 2001.

“Taliban telah membuat serangkaian upaya, beberapa di antaranya positif pada tingkat kata-kata. Kami perlu menguji mereka dan melihat apakah ini diterjemahkan ke dalam perbuatan,” ungkap Raab.

“Penting pada tahap ini untuk menetapkan atau menilai Taliban dengan tes awal, awal dan mungkin, cukup sederhana ini, dan melihat apakah mereka berhasil,” ujar dia.

Dia mengatakan Inggris telah merilis tahap pertama dari paket bantuan kemanusiaan senilai 30 juta pound untuk negara tetangga Afghanistan, yang mungkin harus menanggung beban terbesar dari eksodus besar pengungsi.

Raab menambahkan anggaran bantuan untuk Afghanistan telah ditingkatkan menjadi 286 juta pound tetapi pembayaran di masa depan akan melalui kelompok bantuan.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Promosikan Startup ke...
Promosikan Startup ke Dunia, Indonesia Gabung London Tech Week
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
4 Pemicu Kerusuhan di...
4 Pemicu Kerusuhan di Irlandia Utara, dari Agitator Sayap Kanan Picu hingga Warisan Sejarah
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Swiss Gelar Referendum...
Swiss Gelar Referendum untuk Batasi Populasi hingga 10 Juta Jiwa
Program Rudal Iran Tak...
Program Rudal Iran Tak Dibahas dalam MoU Kesepakatan Damai dengan AS
Rekomendasi
Demokrat Ajak Semua...
Demokrat Ajak Semua Elemen Bangsa Jaga Ruang Publik yang Kondusif dan Beradab
Kepala BPOM: Masa Depan...
Kepala BPOM: Masa Depan Indonesia Ditentukan SDM Unggul, Bukan Lagi Kekayaan SDA
Kena PHK Dapat Uang...
Kena PHK Dapat Uang Tunai 60% dari Gaji selama 6 Bulan, Ini Syaratnya
Berita Terkini
Serang Lebanon, Israel:...
Serang Lebanon, Israel: Kami Tak Terikat dalam Perjanjian Damai Iran dan AS
Analis Israel: Kesepakatan...
Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
14 Poin Perdamaian Iran...
14 Poin Perdamaian Iran dan AS, Ada Dana Rekonstruksi Senilai Rp5.316 Triliun yang Dibayar Negara-negara Arab
4 Respons Cepat Akibat...
4 Respons Cepat Akibat Perang Iran dan AS Berakhir, Pasar Saham Bergairah dan Harga Minyak Turun
Trump Marahi Netanyahu:...
Trump Marahi Netanyahu: 'Mengapa Harus Lakukan Serangan Sialan Itu?'
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Infografis
Ukraina Akui Jet tempur...
Ukraina Akui Jet tempur F-16 AS Tak Bisa Tandingi Su-35 Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved