Kekosongan Akibat Penarikan ‘Simbolis’ Pasukan AS dari Irak Bisa Dimanfaatkan Teroris
Selasa, 17 Agustus 2021 - 07:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca: Walikota Karbala Irak Tewas Diberondong Tembakan, 3 Peluru Bersarang di Dada
Selain itu, pemerintahan Biden juga mengadakan serangkaian pembicaraan dengan Iran mengenai ambisi nuklirnya. Washington ingin memiliki kemampuan untuk mengawasi program atom Teheran dengan imbalan pencabutan sanksi, dan kepercayaan umum di Irak adalah bahwa pemindahan pasukan AS dari negara yang dilanda perang akan membantu Amerika menyegel kesepakatan dengan Iran.
Namun, hal itu mungkin juga mengirimkan sinyal bahwa posisi Amerika di area tersebut semakin melemah. Dikhawatirkan situasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh beberapa elemen yang akan mencoba mengisi kekosongan tersebut.
Salah satu elemen tersebut bisa jadi adalah ISIS, dengan laporan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kelompok teroris tersebut telah memperoleh keuntungan di Irak. Elemen lain yang berpotensi menjadi lebih kuat adalah Iran dan al-Istrabadi mengatakan bahwa mereka pasti memiliki keinginan untuk memainkan peran yang lebih aktif di negara mayoritas Syiah.
Iran, klaim mantan diplomat itu, menganut "kebijakan membagi dan menaklukkan" di Irak. Menurut al-Istrabadi, Teheran inggin Baghdad menjadi "lemah, tidak stabil dan kacau", karena dengan cara ini, mereka dapat mengendalikannya dengan lebih mudah.
Iran terus bersikeras bahwa aktivitasnya di Irak ditujukan untuk mengekang ancaman teror. Menurut al-Istrabadi, milisi pro-Iran sudah menguasai sebagian besar Baghdadk. Dan jika ini masalahnya, 18 tahun setelah perang di Irak dimulai, masa depan negara masih terlihat suram.
“Kami telah mengalami manajemen yang buruk selama bertahun-tahun. Selama tahun-tahun itu, kami tidak memberdayakan kelas politik kami, sementara pemilih kami terus memilih orang yang sama, yang tidak siap untuk pekerjaan itu. Sekarang kami membayar harganya,” tukasnya.
Selain itu, pemerintahan Biden juga mengadakan serangkaian pembicaraan dengan Iran mengenai ambisi nuklirnya. Washington ingin memiliki kemampuan untuk mengawasi program atom Teheran dengan imbalan pencabutan sanksi, dan kepercayaan umum di Irak adalah bahwa pemindahan pasukan AS dari negara yang dilanda perang akan membantu Amerika menyegel kesepakatan dengan Iran.
Namun, hal itu mungkin juga mengirimkan sinyal bahwa posisi Amerika di area tersebut semakin melemah. Dikhawatirkan situasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh beberapa elemen yang akan mencoba mengisi kekosongan tersebut.
Salah satu elemen tersebut bisa jadi adalah ISIS, dengan laporan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kelompok teroris tersebut telah memperoleh keuntungan di Irak. Elemen lain yang berpotensi menjadi lebih kuat adalah Iran dan al-Istrabadi mengatakan bahwa mereka pasti memiliki keinginan untuk memainkan peran yang lebih aktif di negara mayoritas Syiah.
Iran, klaim mantan diplomat itu, menganut "kebijakan membagi dan menaklukkan" di Irak. Menurut al-Istrabadi, Teheran inggin Baghdad menjadi "lemah, tidak stabil dan kacau", karena dengan cara ini, mereka dapat mengendalikannya dengan lebih mudah.
Iran terus bersikeras bahwa aktivitasnya di Irak ditujukan untuk mengekang ancaman teror. Menurut al-Istrabadi, milisi pro-Iran sudah menguasai sebagian besar Baghdadk. Dan jika ini masalahnya, 18 tahun setelah perang di Irak dimulai, masa depan negara masih terlihat suram.
“Kami telah mengalami manajemen yang buruk selama bertahun-tahun. Selama tahun-tahun itu, kami tidak memberdayakan kelas politik kami, sementara pemilih kami terus memilih orang yang sama, yang tidak siap untuk pekerjaan itu. Sekarang kami membayar harganya,” tukasnya.
(esn)
Lihat Juga :