Kedubes AS di Kabul Hancurkan Dokumen Sensitif, Dikhawatirkan Mirip Perang Vietnam

Sabtu, 14 Agustus 2021 - 10:50 WIB
loading...
A A A
Negosiator AS telah meminta Taliban untuk tidak menyerang kedutaan, mengancam pencabutan bantuan asing jika kedutaan diserang.

Tetapi NPR, media yang didukung negara AS, mengatakan masa depan banyak pekerja kedutaan Afghanistan tidak segera jelas. Memo kedutaan mengindikasikan bahwa staf konsuler kecil akan tetap berada di Kabul, meskipun tidak jelas bagaimana hal itu dapat dilakukan jika ibu kota direbut oleh Taliban.

Baca juga: Taliban Sudah Rebut 18 dari 34 Provinsi Afghanistan, Ini Daftar Lengkapnya

Biden bersikeras bahwa ketakutan akan jalan keluar seperti Vietnam tidak berdasar. Ketika ditanya oleh seorang reporter bulan lalu tentang kemungkinan paralel dengan evakuasi Saigon, dia berkata, “Tidak ada sama sekali. Nol. Apa yang Anda miliki adalah, Anda memiliki seluruh brigade yang menerobos gerbang kedutaan kami, enam, jika saya tidak salah. Taliban bukanlah tentara Vietnam Utara. Tidak, mereka tidak sebanding dalam hal kemampuan.”

"Tidak akan ada keadaan di mana Anda melihat orang-orang dievakuasi dari atap kedutaan Amerika Serikat dari Afghanistan. Itu sama sekali tidak sebanding," katanya saat itu.

Tidak semua orang yakin. Anggota Parlemen AS, Mike Rogers, mengatakan nyawa orang Amerika telah dipertaruhkan oleh penarikan "sembrono" pasukan AS dari Afghanistan oleh Biden. Akibatnya, tambah dia, gejolak di Afghanistan tidak mengejutkan, dan yang terburuk belum datang.

"Beberapa minggu yang lalu, Presiden Biden berjanji kepada rakyat Amerika bahwa kita tidak akan memiliki momen Saigon di Afghanistan," kata Rogers dalam sebuah pernyataan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
WHO: Wabah Ebola Telah...
WHO: Wabah Ebola Telah Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang di RD Kongo dan Uganda
Fasilitas Baru Arab...
Fasilitas Baru Arab Saudi, Umrah Berkali-kali dalam Setahun Cukup Ajukan Visa 1 Kali
Rekomendasi
Tingkatkan Nilai Jual...
Tingkatkan Nilai Jual TBS, 133 Pekebun Muara Enim Ikuti Pelatihan Panen Sawit
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Elon Musk Minta Tak...
Elon Musk Minta Tak Perlu Takut dengan AI, Nikmati Saja
Berita Terkini
Serangan Ekstremis Yahudi...
Serangan Ekstremis Yahudi Meningkat di Tepi Barat, Fatah Salahkan Pemerintah Israel
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Wali Kota Sadiq Khan...
Wali Kota Sadiq Khan Sebut Netanyahu Pelaku Genosida dan Tidak Diterima di London
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved