Test Covid-19 Massal Satu Kota di Indonesia, Mungkinkah?
Jum'at, 13 Agustus 2021 - 07:21 WIB
loading...
A
A
A
“Kita tahu bahwa Indonesia itu harus meningkatkantestingkita 400.000 sampai 500.000 per hari.Nah,ini juga tentunya diharapkan bisa didorong oleh pemerintah daerah setempat untuk pelaksanaantestingdantracingini," ujar Nadia.
Baca juga: Kemenkes: BOR Tempat Tidur di RS COVID-19 Nasional Sebesar 52%
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung pada Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes ini membeberkan,testingdantracingharus dilaksanakan secara bersamaan dan sekaligus oleh pemerintah pusat dan setiap pemerintah daerah.
Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19 Hery Trianto menyatakan,testingmassal memang ada contohnya di luar negeri yakni otoritas Wuhan, China. Dia menilai, langkah otoritas Wuhan adalah titik yang ideal.
“Kalau kita bisa melakukan itu, semakin besar kita bisa melokalisir kasus ya, bisa memisahkan kasus yang positif agar tidak menulari yang lain. Tapi itu kan dengan catatan, kalau kasusnya masih sedikit dan kemudian sumber dayanya juga cukup," ujarnya.
Untuk melakukan tes PCR Covid-19 secara masif di satu kota atau kabupaten di Indonesia, ujar Hery, belum ada keputusan dari Pemerintah Indonesia hingga saat ini. Pemerintah, termasuk Satgas Penanganan Covid-19, akan mengikuti pendapat dari para epidemiolog berdasarkan penelitian mereka tentang apa saja yang harus dilakukan. Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga punya standar-standar bagaimanatestingtersebut bisa dilakukan dan memberikan pandangan yang utuh untuk penanganan pandemi.
"Testing secara massal di satu kota atau kabupaten di Indonesia sangat mungkin sebenarnya kalau ada tenaga kesehatannya dan alat tesnya. Tetapi rasanya karena kita ini terhubung antar-satu kota dengan kota yang lain, kalau kita lakukan misalnya di Jawa saja, itu tentu sangat-sangat besar sekali," elaknya.
Menurut Hery, totalitas penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia kuncinya pada keterlibatan dan peran serta aktif pemerintah pusat maupun daerah, kementerian, lembaga, instansi terkait, swasta, dan masyarakat. "Karena itulah kenapa pemeriksaan atautestingdi Jakarta itu setiap hari jauh di atas standar atau jauh di atas rata-rata yang distandarkan. Jadi di kita, Indonesia, itu bisa juga dilakukan," katanya.
Hery mengungkapkan, dari sisi anggaran atau pendanaan untuk pelaksanaan 3T secara bersamaan sebenarnya sudah tersedia. Bahkan, dana APBN 2021 yang telah dialokasikan lebih dari Rp214,95 triliun dan bisa digunakan. Selain itu, ada dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau Satgas Penanganan Covid-19 yang disediakan untuk relawan karena relawan pun perlu uang transportasi dan uang makan saat melakukan tugas, termasuk dalam menjalankan 3T.
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eikjkmen Amin Soebandrio menilai secara teknis tes massal di satu kota memungkinkan dilakukan. Namun, secara logistik agak sulit.
“Karena untuk mendatangi satu per satu warga itu memerlukan tenaga, biaya, dan waktu yang panjang. Makanya biasanya dilakukan secara acak (random),” katanya.
Misalnya dalam satu kota rata-rata ada 5 juta penduduk, sementara di Indonesia ada sekitar 400 kabupaten/kota. “Itu kan tentu memerlukan sumber daya, tenaga dan biaya yang banyak kalau mau diambil seluruh total populasi,” ungkapnya.
Tunjukkan Keseriusan
Tes massal korona di beberapa kota di China dan populasi di suatu negara di Eropa menunjukkan keseriusan penanganan pandemi oleh suatu pemerintah. Di China, tes massal ini setidaknya menunjukkan kekuatan persatuan rakyat China dalam menghadapi gelombang baru virus korona.
Baca juga: Kemenkes: BOR Tempat Tidur di RS COVID-19 Nasional Sebesar 52%
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung pada Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes ini membeberkan,testingdantracingharus dilaksanakan secara bersamaan dan sekaligus oleh pemerintah pusat dan setiap pemerintah daerah.
Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19 Hery Trianto menyatakan,testingmassal memang ada contohnya di luar negeri yakni otoritas Wuhan, China. Dia menilai, langkah otoritas Wuhan adalah titik yang ideal.
“Kalau kita bisa melakukan itu, semakin besar kita bisa melokalisir kasus ya, bisa memisahkan kasus yang positif agar tidak menulari yang lain. Tapi itu kan dengan catatan, kalau kasusnya masih sedikit dan kemudian sumber dayanya juga cukup," ujarnya.
Untuk melakukan tes PCR Covid-19 secara masif di satu kota atau kabupaten di Indonesia, ujar Hery, belum ada keputusan dari Pemerintah Indonesia hingga saat ini. Pemerintah, termasuk Satgas Penanganan Covid-19, akan mengikuti pendapat dari para epidemiolog berdasarkan penelitian mereka tentang apa saja yang harus dilakukan. Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga punya standar-standar bagaimanatestingtersebut bisa dilakukan dan memberikan pandangan yang utuh untuk penanganan pandemi.
"Testing secara massal di satu kota atau kabupaten di Indonesia sangat mungkin sebenarnya kalau ada tenaga kesehatannya dan alat tesnya. Tetapi rasanya karena kita ini terhubung antar-satu kota dengan kota yang lain, kalau kita lakukan misalnya di Jawa saja, itu tentu sangat-sangat besar sekali," elaknya.
Menurut Hery, totalitas penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia kuncinya pada keterlibatan dan peran serta aktif pemerintah pusat maupun daerah, kementerian, lembaga, instansi terkait, swasta, dan masyarakat. "Karena itulah kenapa pemeriksaan atautestingdi Jakarta itu setiap hari jauh di atas standar atau jauh di atas rata-rata yang distandarkan. Jadi di kita, Indonesia, itu bisa juga dilakukan," katanya.
Hery mengungkapkan, dari sisi anggaran atau pendanaan untuk pelaksanaan 3T secara bersamaan sebenarnya sudah tersedia. Bahkan, dana APBN 2021 yang telah dialokasikan lebih dari Rp214,95 triliun dan bisa digunakan. Selain itu, ada dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau Satgas Penanganan Covid-19 yang disediakan untuk relawan karena relawan pun perlu uang transportasi dan uang makan saat melakukan tugas, termasuk dalam menjalankan 3T.
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eikjkmen Amin Soebandrio menilai secara teknis tes massal di satu kota memungkinkan dilakukan. Namun, secara logistik agak sulit.
“Karena untuk mendatangi satu per satu warga itu memerlukan tenaga, biaya, dan waktu yang panjang. Makanya biasanya dilakukan secara acak (random),” katanya.
Misalnya dalam satu kota rata-rata ada 5 juta penduduk, sementara di Indonesia ada sekitar 400 kabupaten/kota. “Itu kan tentu memerlukan sumber daya, tenaga dan biaya yang banyak kalau mau diambil seluruh total populasi,” ungkapnya.
Tunjukkan Keseriusan
Tes massal korona di beberapa kota di China dan populasi di suatu negara di Eropa menunjukkan keseriusan penanganan pandemi oleh suatu pemerintah. Di China, tes massal ini setidaknya menunjukkan kekuatan persatuan rakyat China dalam menghadapi gelombang baru virus korona.
Lihat Juga :