Kedutaan Afghanistan Rilis Video Warga Sipil Dipenggal Taliban

Sabtu, 17 Juli 2021 - 06:52 WIB
loading...
Kedutaan Afghanistan...
Dua warga sipil Afghanistan sebelum dieksekusi milisi Taliban. Foto/Kedutaan Besar Afghanistan di Australia via ABC.net.au
A A A
CANBERRA - Kedutaan Besar Afghanistan di Australia telah merilis serangkaian video yang menunjukkan kekejaman mengerikan yang dilakukan oleh Taliban . Salah satu video tersebut adalah pemenggalan terhadap warga sipil, yang menurut pemerintah adalah pegawai negeri.

Serangkaian video kebrutalan itu dirilis ketika kelompok Taliban mengintensifkan serangannya untuk menguasai negara tersebut.

Baca juga: Taliban Bantah Eksekusi 22 Pasukan Khusus Afghanistan Meski Ada Videonya

Kedutaan mengatakan telah mengumpulkan rekaman dari beberapa bagian Afghanistan, yang baru-baru ini jatuh kembali di bawah kendali Taliban ketika pasukan Barat menarik diri dari negara yang dilanda konflik tersebut

Video yang sangat menyedihkan menunjukkan para warga sipil dipukuli, disiksa dan dibunuh.

Dua klip terpisah menunjukkan warga sipil Afghanistan—yang menurut kedutaan adalah pegawai negeri yang bekerja untuk pemerintah Afghanistan—dipenggal oleh Taliban.

Satu video menunjukkan tentara Afghanistan menyerah dan kemudian ditembak dan dibunuh oleh orang-orang yang tampaknya adalah gerilyawan Taliban.

Video lain menunjukkan seorang pria—diduga seorang warga sipil—menjadi sasaran penyiksaan brutal di lapangan umum, sementara video kelima menunjukkan seorang wanita dicambuk oleh tentara Taliban karena melanggar hukum "kesopanan".

Kedutaan juga menyediakan foto-foto jenazah tiga orang yang diidentifikasi sebagai pegawai negeri sipil Afghanistan.

"Video-video ini menunjukkan kekerasan ekstrem, kekejaman yang memilukan, dan kejahatan perang mengerikan yang dilakukan oleh Taliban di daerah-daerah yang baru saja mereka masuki," kata kedutaan dalam sebuah pernyataan seperti dikutip ABC.net.au, Sabtu (17/7/2021).

Baca juga: Takut Dihabisi Taliban, 20.000 Penerjemah Afghanistan Minta Suaka ke AS

Kedutaan mengatakan serangkaian video dan foto tersebut membuktikan bahwa Taliban tetap terikat pada "interpretasi menyimpang dari Syariah Islam".

"Perilaku Taliban dengan jelas menunjukkan visi dan ambisi mereka untuk kembalinya Emirat tanpa perbedaan apa pun dari tahun 90-an. Hak asasi manusia tidak menjadi masalah bagi mereka," katanya.

Rodger Shanahan, pakar dari Lowy Institute, mengatakan bahwa Kedutaan Besar Afghanistan di Canberra bermaksud merusak upaya Taliban untuk menampilkan dirinya sebagai entitas politik yang lebih modern dan bertanggung jawab.

"Pemerintah Afghanistan mencoba untuk menegaskan bahwa Taliban 2.0 sama dengan Taliban 1.0," katanya.

“Mereka ingin melawan pesan Taliban. Salah satu hal yang diinginkan Taliban adalah legitimasi, dan Taliban mengedepankan garis bahwa mereka tidak sama seperti sebelumnya, bahwa mereka telah berubah. Pemerintah Afghanistan sedang mencoba untuk mendapatkan dukungan diplomatik, dan memastikan bahwa pemerintah daerah yang merasa nyaman dengan Taliban yang mengambil alih kekuasaan, atau yang secara longgar mengikatkan diri dengan Taliban, juga terikat dengan kekejaman ini," imbuh dia.

Shanahan mengatakan bahwa belum jelas apakah misi diplomatik Afghanistan di negara lain mengambil langkah serupa.

"Apa yang menarik untuk dilihat adalah apakah ini adalah bagian dari kampanye yang lebih luas oleh pemerintah Afghanistan—apakah upaya ini telah diarahkan dari Kabul untuk mencoba dan memulai kampanye informasi bersama di seluruh dunia," katanya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Misi Pasukan Khusus...
6 Misi Pasukan Khusus yang Memicu Malapetaka, 2 Negara Adidaya Pernah Tumbang
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Horor! Penyerang Berpisau...
Horor! Penyerang Berpisau Mencoba Memenggal Seorang Pria di Tempat Umum
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Pakistan vs Afghanistan: Bak David vs Goliath
WHO: Wabah Ebola Telah...
WHO: Wabah Ebola Telah Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang di RD Kongo dan Uganda
Iran Dilaporkan Tolak...
Iran Dilaporkan Tolak Mentah-Mentah Proposal Gencatan Senjata AS
Rekomendasi
Pertamina Foundation...
Pertamina Foundation Tanamkan Peduli Lingkungan Usia Dini
Kasus Debt Collector...
Kasus Debt Collector dan Nasabah Digerebek di Purworejo Berakhir Damai
Indonesia Perlu Arah...
Indonesia Perlu Arah Kebijakan Baru Jadi Pusat Hilirisasi Sawit Dunia
Berita Terkini
Serangan Ekstremis Yahudi...
Serangan Ekstremis Yahudi Meningkat di Tepi Barat, Fatah Salahkan Pemerintah Israel
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Wali Kota Sadiq Khan...
Wali Kota Sadiq Khan Sebut Netanyahu Pelaku Genosida dan Tidak Diterima di London
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Infografis
Perjalanan Karier Mpok...
Perjalanan Karier Mpok Alpa, dari Video Viral hingga Jadi Presenter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved