Krisis Ekonomi, Harga Produk Menstruasi Menggila, Wanita Lebanon Menderita

Kamis, 08 Juli 2021 - 01:01 WIB
loading...
A A A
“Saya khawatir untuk hari berikutnya jujur. Kami khawatir (pemerintah) akan mencabut listrik kami. Kami khawatir tidak bisa meletakkan makanan di atas meja. Menyedihkan karena bank merampok uang kami yang kami simpan sepanjang hidup kami. (Kami) tidak punya lagi tabungan dan tidak ada lagi pekerjaan. Menakutkan," keluh dia.

Bagi warga Tripoli, Sahar Yahya, keadaan tersebut juga mendorong dia dan banyak temannya untuk mencari merek yang lebih murah dan memotong barang-barang rumah tangga lainnya.

“Produk menstruasi adalah prioritas, jadi kami mengubah merek yang kami gunakan. (Kami) mencari yang lebih murah. Secara umum, keluarga Lebanon mengubah prioritas mereka. Kami memotong produk yang tidak perlu untuk membeli barang-barang penting,” ungkap Yahya.

“Harga (produk menstruasi) naik 10 kali lipat. Ini meningkat dari hari ke hari, menurut nilai tukar dolar. Pembalut digunakan untuk menjadi 4.000 lira Lebanon. Sekarang, harganya menjadi 28.000 karena pertukaran dolar,” papar dia.

Dawrati dan organisasi lokal lainnya secara teratur menyumbangkan peralatan menstruasi untuk wanita di seluruh Lebanon.

Jika inflasi berlanjut pada tingkat saat ini, pada akhirnya tidak ada yang mampu membagikan paket-paket kebutuhan pokok.

“Saat pertama kali meluncurkan Dawrati pada Mei 2020, paket dasar menstruasi kami meliputi pembalut menstruasi, pantyliner, dan tisu intim yang cukup untuk satu bulan. Biayanya 15.000 lira,” ujar Masri kepada Al Arabiya English.

“Hari ini, satu tahun dan dua bulan kemudian, perlengkapan menstruasi kami mencakup pembalut menstruasi dan panty liner, dan harganya antara 30.000 dan 40.000 lira Lebanon per wanita. Aku harus meniadakan tisu intim karena harganya gila,” pungkas dia.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pemimpin Hizbullah Tegaskan...
Pemimpin Hizbullah Tegaskan Israel Harus Tinggalkan Lebanon Tanpa Syarat
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Dilaporkan Akan Mengundurkan Diri pada Senin
Tragis! 3 Anak Meninggal...
Tragis! 3 Anak Meninggal Dunia akibat Suhu Panas Ekstrem di Paris
Rekomendasi
Salam Prabowo Disampaikan...
Salam Prabowo Disampaikan Jumhur, Raja Charles Beri Pujian untuk Indonesia
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
Berita Terkini
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Infografis
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved