Tak Takut Dibunuh China, Duterte Ogah Tunduk soal Laut China Selatan

Sabtu, 15 Mei 2021 - 14:47 WIB
loading...
Tak Takut Dibunuh China,...
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Foto/REUTERS
A A A
MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah menolak seruan dari China untuk menarik kapal-kapal militer Manila dari wilayah sengketa di Laut China Selatan . Dia bersumpah untuk tidak bergerak mundur satu inci pun meski harus dibunuh oleh Beijing.

Filipina telah meningkatkan kehadirannya di wilayah yang diperebutkan di zona ekonomi eksklusif (ZEE)-nya di Laut China Selatan, termasuk Pulau Thitu, dekat dengan instalasi militer China.

Baca juga: Batalion Sepik Siap Perang dengan Indonesia, Ini Respons Resmi PNG

Pernyataan Duterte dalam pidatonya yang disiarkan televisi pada hari Jumat muncul ketika tekanan meningkat padanya untuk meninggalkan pengejaran hubungan dekat dengan China dan membela apa yang dikatakan menteri pertahanannya sebagai provokasi terang-terangan.

Minggu ini Manila mengumumkan rencana untuk membangun pusat logistik di Thitu, yang disebut Pag-asa oleh Filipina, pulau terbesar kedua di Kepulauan Spratly.

Militer dan Coast Guard Filipina juga meningkatkan patroli perairan maritim dan mengumumkan rencana untuk memasang kamera pengintai di wilayah tertentu.

China pada bulan lalu mengatakan Manila harus menghentikan tindakan yang memperumit situasi dan meningkatkan perselisihan.

Dalam rekaman pidatonya, Duterte berkata: “Kami memiliki pendirian di sini. Dan saya ingin menyatakannya di sini dan sekarang lagi, bahwa kapal kami yang ada di Pag-asa dan di tempat lain, kami tidak akan mundur satu inci pun."

"Anda (China) bisa membunuh saya tapi di sini saya tinggal, di sinilah persahabatan kita akan berakhir," ujar Duterte, seperti dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (15/5/2021).

Dia bereaksi terhadap kritik bahwa kedekatan pemerintahannya dengan China telah memungkinkan Beijing berulang kali melanggar ZEE Filipina.

Ketika menjabat sebagai presiden pada tahun 2016, Duterte mengumumkan bahwa dia merencanakan pemisahan dari Amerika Serikat—sekutu tradisional Filipina—demi China. Dia saat itu mengatakan bahwa dia mengesampingkan kemenangan Filipina dalam kasus arbitrase tentang Laut China Selatan di hadapan pengadilan internasional dengan imbalan perdagangan dan investasi dengan China.

Dia mendapat kritik pekan lalu karena mengatakan penghargaan landmark pada tahun 2016 hanyalah "selembar kertas" yang bisa dia buang ke tempat sampah. Namun dalam pidatonya di televisi, dia mengatakan bahwa dia percaya pada keseluruhan putusan arbitrase itu.

Seorang pejabat tinggi pemerintah, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, menggambarkan kebijakan tersebut dengan menyatakan: “Kembangkan hubungan persahabatan dengan China sambil menegaskan kedaulatan Filipina. Ini adalah kombinasi kerja sama sebanyak mungkin dan pushback kapan pun diperlukan."

Presiden Duterte dalam beberapa kesempatan mengatakan adalah bodoh untuk menentang klaim China atas Laut China Selatan karena itu akan berarti perang. Namun, baru-baru ini dia menegaskan bahwa China mengendalikan Laut Filipina Barat, yang mana Manila memiliki ZEE di sana.

Baca juga: Kerepotan Dihujani Roket Gaza, Kota di Israel Malah Perang Saudara

Dalam pidatonya di televisi, Duterte berkata: "Yang terpenting, saya tidak ingin melawan China, kami memiliki utang yang sangat dalam untuk berterima kasih."

Kritikus mengatakan pernyataan presiden perlu diperlakukan dengan skeptisisme yang sehat. Minggu ini, Duterte mengatakan bahwa janji kampanye yang dia buat—melakukan jet ski ke area yang diperebutkan dengan bendera Filipina—sebenarnya adalah "lelucon" dan orang-orang yang percaya itu "bodoh".

Juru bicaranya, Harry Roque, mengatakan bahwa Whitsun Reef, fitur lain yang diperebutkan, bukan bagian dari ZEE Filipina.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Senator Risa Hontiveros mengkritik kantor presiden Duterte karena "pernyataan kekalahannya".

“Mengapa istana berbicara seolah-olah itu adalah pihak yang kalah? Mereka harus menghentikannya, karena China adalah satu-satunya yang menikmati ini dan mendapat manfaat darinya. Mungkin alasan mengapa mereka tidak menarik 200 kapal yang mereka miliki di Laut Filipina Barat adalah karena mereka mendengar apa yang dikatakan istana."
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
Menkeu Purbaya Raih...
Menkeu Purbaya Raih Gelar Profesor Kehormatan Bidang Ekonomi dari Nankai University
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
PBB: Israel Hancurkan...
PBB: Israel Hancurkan RS Anak di Gaza, Bikin Bayi Cacat Seumur Hidup
Rekomendasi
Presiden Prabowo Berikan...
Presiden Prabowo Berikan Bantuan Alat Drumben untuk SDN Tegalega Sukabumi
DFSK E5 Plus: Pre-Booking...
DFSK E5 Plus: Pre-Booking Dibuka, Ratusan Unit Ludes di Hari Pertama
Didakwa Terima Suap...
Didakwa Terima Suap Rp4,8 Miliar, Hery Susanto: Saya Tidak Terima Uang
Berita Terkini
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Infografis
Amerika Serikat dan...
Amerika Serikat dan China Berebut Kuasai Kutub Selatan Bulan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved