Mendadak, Menlu AS Sambangi Afghanistan

Kamis, 15 April 2021 - 22:22 WIB
loading...
Mendadak, Menlu AS Sambangi...
Menlu AS Anthony Blinken mendadak mengunjungi Afghanistan setelah Presiden Joe Biden mengumumkan penarikan pasukan pada September mendatang. Foto/VOA
A A A
KABUL - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Anthony Blinken mendarat di Afghanistan pada Kamis (15/4/2021) dalam sebuah kunjungan mendadak kurang dari 24 jam setelah Presiden Biden mengumumkan penarikan pasukan dari negara itu pada 11 September mendatang.

Saat berada di Kabul, Blinken bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan Abdullah Abdullah, ketua Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional negara itu, serta anggota masyarakat sipil Afghanistan.

"Saya ingin menunjukkan dengan kunjungan saya komitmen berkelanjutan Amerika Serikat kepada Republik Islam dan rakyat Afghanistan," kata Blinken saat bertemu Ghani di istana presiden di Kabul.

“Kemitraan berubah, tetapi kemitraan itu bertahan lama,” imbuhnya seperti dikutip dari NBC.

Menlu AS itu juga bertemu dengan tentara Amerika di kedutaan AS.

“Apa yang Anda dan para pendahulu Anda lakukan selama 20 tahun terakhir benar-benar luar biasa,” ujarnya kepada para tentara AS.

"Saya selalu kagum dengan apa yang telah Anda capai," tambahnya.

Pada gilirannya, Ghani mengatakan bahwa dia menghormati keputusan AS untuk menarik diri dan menyatakan terima kasih atas pengorbanan yang telah dilakukan pasukan AS dalam pertempuran "bahu-membahu" dengan pasukan Afghanistan.

"Upaya AS untuk meyakinkan kepemimpinan Afghanistan setelah pengumuman itu membesarkan hati kami," katanya.

"seperti kunjungan Anda hari ini," sambungnya.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesempatan hari ini untuk memungkinkan kami menyusun masa depan kami," ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, mengatakan dalam pertemuan itu Blinken dan Ghani membahas investasi bersama di Afghanistan dan pentingnya mempertahankan keuntungan dalam dua puluh tahun terakhir.

"Terutama dalam membangun masyarakat sipil yang kuat dan melindungi hak-hak perempuan dan anak perempuan," kata Price.

Pejabat pemerintah Afghanistan terkemuka lainnya memberikan catatan yang lebih prihatin.

Mir Rahman Rahmani, juru bicara Parlemen Afghanistan, mengatakan Rabu bahwa sementara rakyat negara itu ingin melihat pasukan asing pergi, syarat untuk hal itu terpenuhi belum terjadi.

"Ada kemungkinan Afghanistan berubah menjadi perang saudara lain atau menjadi surga bagi organisasi teroris internasional," dia memperingatkan dalam pidatonya di sidang parlemen.

Setelah keputusan Biden, Taliban mengatakan mereka tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi apa pun tentang masa depan Afghanistan sampai semua pasukan asing ditarik.

Baca juga: Taliban Tolak Hadiri Pembicaraan Damai Afghanistan Hingga Pasukan Asing Ditarik

Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis, kelompok tersebut mengatakan keputusan Biden untuk menunda penarikan adalah pelanggaran yang jelas dari kesepakatan yang mereka capai dengan AS tahun lalu.

"Karena perjanjian itu dilanggar oleh Amerika, itu pada prinsipnya membuka jalan bagi kami untuk mengambil setiap tindakan balasan yang diperlukan," kata Taliban.

Di bawah Presiden Donald Trump, AS menandatangani perjanjian dengan Taliban bahwa pasukan asing akan meninggalkan Afghanistan pada 1 Mei sebagai imbalan atas komitmen mereka menolak al-Qaeda dan kelompok teroris lainnya serta memasuki pembicaraan damai dengan delegasi Afghanistan.

Negosiasi intra-Afghanistan berlanjut selama berbulan-bulan di Doha, Qatar. Turki mengumumkan awal pekan ini bahwa perwakilan dari pemerintah Afghanistan dan kelompok pemberontak akan bertemu di Istanbul akhir bulan ini untuk mempercepat diskusi.

Baca juga: AS dan NATO Kompak, Tarik Pasukan dari Afghanistan Sebelum 11 September

Biden hari Rabu mengumumkan bahwa semua pasukan AS akan mundur dari Afghanistan tepat pada peringatan kedua puluh serangan teroris 11 September yang memicu invasi Amerika ke negara itu.

"Saya sekarang adalah presiden Amerika Serikat keempat yang memimpin kehadiran pasukan Amerika di Afghanistan. Dua Republik. Dua Demokrat," kata Biden.

"Saya tidak akan menyerahkan tanggung jawab ini kepada yang kelima," ujarnya.

"Ini adalah waktu untuk mengakhiri perang terlama Amerika. Sudah waktunya bagi pasukan Amerika untuk pulang," tegasnya.

Biden mengatakan bahwa AS akan terus memberikan bantuan kepada pasukan Afghanistan. AS juga akan melanjutkan pekerjaan diplomatik dan kemanusiaan di negara tersebut dan akan mendukung pembicaraan damai.

Baca juga: Biden Resmi Akhiri Pengerahan Pasukan AS ke Afghanistan
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
Iran Nyatakan Pangkalan...
Iran Nyatakan Pangkalan Inggris Target Sah, Tentara London Siaga 24 Jam
Trump: Syarat Arab Saudi...
Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
Trump Berlakukan Tarif...
Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%
Protes 'Kecoa'...
Protes 'Kecoa' di India Meluas, Ribuan Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Reformasi Pemerintah
Pangeran Saudi Ditemukan...
Pangeran Saudi Ditemukan Meninggal di Hotel Mewah London, Diduga Kecanduan Narkoba
Rekomendasi
Kejagung Periksa Febrie...
Kejagung Periksa Febrie Adriansyah sebagai Saksi terkait Sprindik Baru Kasus TPPU, Kok Bisa?
Kemenhut Bangun Rumah...
Kemenhut Bangun Rumah untuk Warga Terdampak Bencana Aceh Tamiang
Jon Bon Jovi Mendadak...
Jon Bon Jovi Mendadak Hentikan Konser, Ternyata Ini Penyebabnya!
Berita Terkini
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Menteri Israel Gabung...
Menteri Israel Gabung 4.000 Massa Yahudi Serbu Kompleks Masjid Al-Aqsa
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Kebakaran Hutan Paksa...
Kebakaran Hutan Paksa 10.000 Orang Mengungsi, Spanyol Nyatakan Darurat Nasional
Seorang Pangeran Arab...
Seorang Pangeran Arab Saudi Tewas di Hotel Kensington usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved