Pengakuan Eks Polisi Myanmar: Tembak Mereka Sampai Mati
Rabu, 10 Maret 2021 - 08:07 WIB
loading...
A
A
A
Khawatir dipenjara karena berpihak pada para pengunjuk rasa dan gerakan pembangkangan sipil, dia mengatakan dia memutuskan untuk melarikan diri dari Myanmar.
Menurut ketiga anggota polisi Myanmar itu ada dukungan substansial bagi pengunjuk rasa di dalam kepolisian.
"Di dalam kantor polisi, 90% mendukung pengunjuk rasa tetapi tidak ada pemimpin yang mempersatukan mereka," kata Tha Peng, yang meninggalkan istri dan dua putrinya yang masih kecil, salah satunya berusia enam bulan.
Baca juga: Ogah Jadi Boneka China, Jenderal Myanmar Sewa Pelobi Israel agar Dekat AS
Tha Peng mengatakan bahwa meskipun dia merindukan keluarganya, dia takut kembali ke Myanmar.
"Saya tidak ingin kembali," katanya sambil duduk di ruang lantai pertama yang menghadap ke perbukitan hijau yang membentang ke Myanmar.
Junta militer Myanmar, yang melancarkan kudeta pada 1 Februari dan menggulingkan pemerintah sipil negara itu, tidak menanggapi permintaan komentar Reuters.
Junta mengatakan mereka bertindak dengan sangat menahan diri dalam menangani apa yang disebutnya sebagai demonstrasi oleh pengunjuk rasa huru-hara yang dituduhnya menyerang polisi dan merusak keamanan serta stabilitas nasional.
Protes harian terhadap kudeta tengah terjadi di seluruh wilayah Myanmar dan pasukan keamanan telah bertindak represif. Lebih dari 60 pengunjuk rasa telah tewas dan lebih dari 1.800 ditahan, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah kelompok advokasi, mengatakan.
Lihat video: Viral, Aksi Biarawati Menghadang Militer Myanmar demi Lindungi Demonstran
Reuters belum dapat mengkonfirmasi angka tersebut secara independen.
Di antara tahanan tersebut adalah peraih Nobel Aung San Suu Kyi, yang memimpin pemerintahan sipil.
Menurut ketiga anggota polisi Myanmar itu ada dukungan substansial bagi pengunjuk rasa di dalam kepolisian.
"Di dalam kantor polisi, 90% mendukung pengunjuk rasa tetapi tidak ada pemimpin yang mempersatukan mereka," kata Tha Peng, yang meninggalkan istri dan dua putrinya yang masih kecil, salah satunya berusia enam bulan.
Baca juga: Ogah Jadi Boneka China, Jenderal Myanmar Sewa Pelobi Israel agar Dekat AS
Tha Peng mengatakan bahwa meskipun dia merindukan keluarganya, dia takut kembali ke Myanmar.
"Saya tidak ingin kembali," katanya sambil duduk di ruang lantai pertama yang menghadap ke perbukitan hijau yang membentang ke Myanmar.
Junta militer Myanmar, yang melancarkan kudeta pada 1 Februari dan menggulingkan pemerintah sipil negara itu, tidak menanggapi permintaan komentar Reuters.
Junta mengatakan mereka bertindak dengan sangat menahan diri dalam menangani apa yang disebutnya sebagai demonstrasi oleh pengunjuk rasa huru-hara yang dituduhnya menyerang polisi dan merusak keamanan serta stabilitas nasional.
Protes harian terhadap kudeta tengah terjadi di seluruh wilayah Myanmar dan pasukan keamanan telah bertindak represif. Lebih dari 60 pengunjuk rasa telah tewas dan lebih dari 1.800 ditahan, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah kelompok advokasi, mengatakan.
Lihat video: Viral, Aksi Biarawati Menghadang Militer Myanmar demi Lindungi Demonstran
Reuters belum dapat mengkonfirmasi angka tersebut secara independen.
Di antara tahanan tersebut adalah peraih Nobel Aung San Suu Kyi, yang memimpin pemerintahan sipil.
(ian)
Lihat Juga :