Kebijakan Terburu-buru Biden Soal Yaman Bisa Jadi Bumerang untuk AS

loading...
Kebijakan Terburu-buru Biden Soal Yaman Bisa Jadi Bumerang untuk AS
Presiden AS Joe Biden. FOTO/Reuters
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden mengatakan bahwa salah satu prioritas kebijakan luar negeri utamanya adalah mengakhiri perang di Yaman . Hal itu bahkan telah disampaikan Biden sejak masa kampanye.

Sejak memasuki Gedung Putih, Biden telah mengambil sejumlah langkah, apa yang dia dan para pembantu utamanya percayai akan membuka kunci proses perdamaian yang terhenti antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dan Houthi yang didukung Iran.

Baca: Saudi Klaim Telah Cegat Hampir 1.000 Drone dan Rudal Houthi

Pendahulu Biden, Donald Trump, menuduh Houthi sebagai teroris, dalam salah satu langkah terakhir pemerintahannya. Tetapi, Biden dengan cepat bergegas mencabut penunjukan tersebut sambil mengumumkan diakhirinya segera dukungan AS untuk operasi militer koalisi Arab di Yaman.

Langkah ini tidak mengejutkan para analis, ahli, dan mantan pejabat Gedung Putih. Tetapi, kecepatan dan prioritas Biden untuk memanggil sekutu Teluk Washington, sebelum mengutuk organisasi teroris, melakukannya.



Tidak hanya Biden gagal untuk mencari konsesi apa pun dari Houthi, tetapi langkahnya yang tergesa-gesa memberi mereka rasa percaya diri tambahan.

Baca: Koalisi Arab Gagalkan Serangan Houthi Kedua di Arab Saudi

Dengan Biden yang mengkhotbahkan nilai-nilai HAM sejak dia berada di jalur kampanye, dia dan Kementerian Luar Negeri telah gagal menyebutkan kapal tanker minyak FSO Safer di lepas pantai Yaman.

Terdampar di dekat pelabuhan Laut Merah di Hodeidah sejak 2015, Houthi telah menolak mengizinkan anggota PBB, atau organisasi internasional lainnya untuk naik ke kapal tersebut. Perkiraan menunjukkan bahwa lebih dari 1 juta barel minyak mentah dapat tumpah ke laut dan PBB telah memperingatkan "konsekuensi bencana lingkungan dan kemanusiaan".

Sementara itu, para analis mengatakan keputusan pemerintah AS untuk mencabut penunjukan teroris Houthi telah membuat kelompok itu berani, yang terus meluncurkan roket dan rudal bermuatan bom ke Arab Saudi.



Beberapa jam setelah Biden mengatakan akan mencabut status teroris Houthi, kelompok itu meningkatkan serangan untuk merebut salah satu benteng utara terakhir pemerintah Yaman, Marib.

Baca: KSrelief-WFP Teken Perjanjian Bantuan Kemanusiaan untuk Yaman

“Didorong oleh keputusan Biden, Houthi meningkatkan serangan mereka untuk menangkap Marib pada hari berikutnya setelah penunjukan dicabut,” kata Nadwa al-Dawsari, seorang pakar dari Middle East Institute (MEI), seperti dilansir Anadolu Agency.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top