Menlu Junta Myanmar Terbang ke Thailand untuk Bahas Krisis

Rabu, 24 Februari 2021 - 14:11 WIB
loading...
Menlu Junta Myanmar...
Demonstran menulis Kami Ingin Demokrasi di ruas jalan di Myanmar. Foto/REUTERS
A A A
YANGON - Menteri Luar Negeri (Menlu) junta Myanmar Wunna Maung Lwin mengunjungi Thailand untuk membahas krisis yang terjadi sejak militer merebut kekuasaan pada 1 Februari.

“Wunna Maung Lwin tiba untuk pembicaraan tentang upaya diplomatik oleh Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara,” ungkap sumber di Thailand, saat para penentang kudeta turun ke jalan lagi di Myanmar.

Indonesia telah memimpin upaya mengarahkan jalan keluar dari krisis dengan bantuan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Namun rencana Indonesia tampak goyah pada Rabu pagi dengan Menlu Indonesia Retno Marsudi yang membatalkan rencana perjalanan ke Myanmar.

Menlu Junta Myanmar Terbang ke Thailand untuk Bahas Krisis


Pekan ini terjadi demonstrasi besar-besaran dan pemogokan umum pada Senin untuk mengecam kudeta dan menuntut pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.

Baca juga: Menlu Retno Tak Jadi Kunjungi Myanmar, Waktunya Tidak Tepat

Protes berlanjut meskipun ada peringatan dari pihak berwenang bahwa konfrontasi dapat membuat orang-orang terbunuh.

Baca juga: Myanmar Hadapi Lebih Banyak Protes, Indonesia Dorong Upaya Diplomatik

"Kami, etnis minoritas, tidak memiliki kesempatan untuk menuntut hak kami, tetapi sekarang kami melakukannya," ungkap San Aung Li, 26, anggota etnis minoritas Kachin.

Baca juga: Soal Demonstrasi di KBRI Yangon, Kemlu: Itu karena Pemberitaan yang Salah

“Jadi saya mendukung protes seperti halnya semua etnis, dengan satu suara,” papar dia.

Dengan protes dan gerakan pembangkangan sipil yang melumpuhkan kehidupan di Myanmar, Indonesia berusaha mencari jalan keluar.

Sejumlah sumber mengatakan para anggota ASEAN akan mengirim pengawas untuk memastikan para jenderal menepati janji mereka untuk mengadakan pemilu yang adil.

Militer belum memberikan kerangka waktu untuk pemilu baru tetapi mereka memberlakukan keadaan darurat satu tahun ketika merebut kekuasaan sehingga kemungkinan besar akan terjadi setelah itu.

Tapi partai yang dipimpin Suu Kyi, yang menang pada pemilu 8 November ingin kemenangan itu diakui. Militer menolak mengakui kemenangan itu dengan alasan terjadi kecurangan pemilu.

Menlu Indonesia, Retno Marsudi, yang berada di Thailand, diharapkan terbang ke Myanmar tetapi perjalanan itu dibatalkan.

“Setelah memperhatikan perkembangan terkini dan masukan dari negara-negara ASEAN lainnya, ini bukan waktu yang ideal untuk melakukan kunjungan ke Myanmar,” papar juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia, Teuku Faizasyah, dalam pengarahan di Jakarta.

Pada Selasa, ratusan pengunjuk rasa berkumpul di luar kedutaan Indonesia di Yangon untuk menyuarakan penolakan terhadap pemilu baru. Demonstran menuntut hasil pemilu November diakui.

Tentara merebut kekuasaan setelah menuduh kecurangan dalam pemilu November, menahan Suu Kyi dan banyak pemimpin partai. Komisi pemilu menolak gugatan militer.

The Future Nation Alliance, kelompok aktivis yang berbasis di Myanmar, sebelumnya mengatakan kunjungan Retno akan "sama saja dengan mengakui junta militer".

Kelompok itu menuntut para pejabat asing bertemu Htin Lin Aung, anggota komite yang mewakili anggota parlemen yang digulingkan militer. Dia ditunjuk sebagai "pejabat yang bertanggung jawab atas hubungan luar negeri".
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
Ironi Kekayaan Raja...
Ironi Kekayaan Raja Thailand Vajiralongkorn Rp778 Triliun: Hampir 3 Kali Anggaran MBG, tapi Pewarisnya Tak Jelas
Bebas dari Penjara,...
Bebas dari Penjara, Thaksin Shinawatra Dapat Pengampunan Raja Thailand
Pria China Hajar Brutal...
Pria China Hajar Brutal Pekerja Seks Thailand karena Ternyata Laki-laki
Demi Tangkap Bandar...
Demi Tangkap Bandar Narkoba, Para Anggota Polisi Rela Berpakaian Wanita dan Menari
Klasemen Piala AFF U-19...
Klasemen Piala AFF U-19 2026: Sikat Myanmar, Timnas Indonesia Sejajar Vietnam
AS dan Iran Setujui...
AS dan Iran Setujui Kesepakatan untuk Akhiri Perang di Timur Tengah, Ini Isinya
Pangeran George Resmi...
Pangeran George Resmi Masuk Eton College, Biayanya Rp1,4 Miliar per Tahun!
Rekomendasi
Implementasi B50 Dimulai...
Implementasi B50 Dimulai 1 Juli 2026, Jubir ESDM: Bisa Hemat Devisa Rp157 Triliun
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Solusi Praktis Pengurusan...
Solusi Praktis Pengurusan Paspor dan Visa untuk Perjalanan Bisnis
Berita Terkini
Serangan Israel ke Lebanon...
Serangan Israel ke Lebanon Bisa Gagalkan Perdamaian AS dan Iran, Ini 3 Alasannya
4 Alasan Iran Mampu...
4 Alasan Iran Mampu Memberikan Pukulan Telak ke Amerika Serikat dan Israel
Mengapa Kekejaman Israel...
Mengapa Kekejaman Israel di Lebanon Bisa Picu Pembalasan dari Iran?
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Infografis
15 Lagu Nasional Terbaik...
15 Lagu Nasional Terbaik untuk HUT Ke-80 RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved