Prancis Kirim 2 Kapal Perang Menuju Laut China Selatan

loading...
Prancis Kirim 2 Kapal Perang Menuju Laut China Selatan
Kapal serbu amfibi Tonnerre milik Angkatan Laut Prancis. Foto/Wikipedia
JAKARTA - Prancis meningkatkan kehadiran militernya di Laut China Selatan dengan mengirim dua kapal perangnya menuju perairan yang disengketakan tersebut.

Angkatan Laut Prancis mengatakan sebuah kapal serbu amfibi Tonnere dan fregat Surcouf telah meninggalkan pelabuhan asal mereka di Toulon pada Kamis dan akan melakukan perjalanan ke Pasifik dalam misi tiga bulan.

Baca juga: Terlanjur Telanjang, Tamu Hotel Ini Baru Sadar Saunanya Tembus Pandang

Situs web Naval News melaporkan bahwa kapal-kapal itu akan menyeberangi Laut China Selatan dua kali dan mengambil bagian dalam latihan gabungan dengan militer Jepang dan Amerika Serikat (AS) pada Mei mendatang.

Komandan kapal Tonnerre, Kapten Arnaud Tranchant, mengatakan kepada Naval News bahwa Angkatan Laut Prancis akan bekerja untuk memperkuat kemitraan Prancis dengan AS, Jepang, India, dan Australia—yang disebut Quad.



Ketika ditanya apakah berencana untuk transit di Selat Taiwan, dia mengatakan; “Belum menelusuri jalan kita di daerah itu."

Misi serupa pada 2015 dan 2017 juga membuat kapal Angkatan Laut Prancis berlayar melalui Laut China Selatan, tetapi para analis mengatakan latihan terbaru adalah tanda Prancis meningkatkan keterlibatan di kawasan Indo-Pasifik.

Kapal selam serang nuklir Prancis Émeraude dan kapal pendukung Angkatan Laut Seine berlayar melalui Laut China Selatan minggu lalu, memicu kecaman dari China.

Para ahli mengatakan Prancis akan semakin memperkuat penentangannya terhadap klaim luas China di Laut China Selatan dengan meningkatkan frekuensi operasinya di wilayah tersebut, yang bertujuan untuk mempertahankan "kehadiran normal" untuk melindungi kepentingannya di sana.

Baca juga: Pesawat Latih AS Jatuh di Alabama, 2 Pilot Militer Tewas



Prancis menetapkan strategi Indo-Pasifik pada 2018, dan tercatat sebagai negara besar Eropa pertama yang melakukannya.

Fu Kuncheng, dekan Institut Laut China Selatan di Universitas Xiamen, mengatakan bahwa patroli dan latihan di perairan yang disengketakan itu "mengkhawatirkan" dan China harus merenungkan bagaimana menangani tekanan tersebut.

“Jelas bahwa AS berharap untuk bergabung dengan sekutu NATO-nya untuk memamerkan otot mereka di Laut China Selatan dengan latihan dan apa yang disebut [operasi] kebebasan navigasi,” kata Fu.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top