Demonstran Myanmar Meninggal setelah 10 Hari Terluka Parah
Jum'at, 19 Februari 2021 - 17:59 WIB
loading...
A
A
A
Namun polisi telah menembakkan peluru karet beberapa kali untuk membubarkan massa. Militer mengatakan seorang polisi tewas karena luka-luka yang dideritanya.
Di Myitkyina, polisi dan tentara yang memegang tongkat membubarkan para pengunjuk rasa di jalan yang dipenuhi toko-toko, seperti muncul dalam video di media sosial.
Aktivis HAM Stella Naw mengatakan sekitar 50 orang telah ditahan. “Truk militer hanya menjemput orang-orang dari aksi protes,” papar dia.
Bentrokan terjadi di ibu kota Negara Bagian Kachin, selama dua pekan terakhir dengan polisi menembakkan peluru karet dan menggunakan ketapel untuk membubarkan massa.
Polisi di Yangon menutup lokasi protes utama kota di dekat Pagoda Sule, memasang barikade di jalan masuk persimpangan tempat puluhan ribu orang berkumpul pekan ini.
“Ratusan orang berkumpul di barikade,” papar seorang saksi mata.
Ribuan orang lainnya berkumpul di lokasi protes lain di dekat universitas dan berangkat ke pusat kota.
Selain protes, kampanye pembangkangan sipil telah melumpuhkan banyak bisnis pemerintah. Tekanan internasional meningkat terhadap junta Myanmar.
Inggris dan Kanada mengumumkan sanksi baru pada Kamis. Jepang setuju dengan India, Amerika Serikat dan Australia mengenai perlunya pemulihan demokrasi dengan cepat di Myanmar.
Junta belum bereaksi terhadap sanksi baru tersebut. Pada Selasa, juru bicara militer mengatakan pada konferensi pers bahwa sanksi itu telah diperkirakan.
Ada sedikit sejarah tentang para jenderal Myanmar yang menyerah pada tekanan asing dan mereka memiliki hubungan yang lebih dekat dengan negara tetangga China dan Rusia.
Beijing dan Moskow mengambil pendekatan yang lebih lembut daripada negara-negara Barat yang telah lama kritis pada Myanmar.
Pemimpin junta Min Aung Hlaing sudah mendapat sanksi dari negara-negara Barat setelah tindakan keras pada 2017 terhadap minoritas Muslim Rohingya.
Di Myitkyina, polisi dan tentara yang memegang tongkat membubarkan para pengunjuk rasa di jalan yang dipenuhi toko-toko, seperti muncul dalam video di media sosial.
Aktivis HAM Stella Naw mengatakan sekitar 50 orang telah ditahan. “Truk militer hanya menjemput orang-orang dari aksi protes,” papar dia.
Bentrokan terjadi di ibu kota Negara Bagian Kachin, selama dua pekan terakhir dengan polisi menembakkan peluru karet dan menggunakan ketapel untuk membubarkan massa.
Polisi di Yangon menutup lokasi protes utama kota di dekat Pagoda Sule, memasang barikade di jalan masuk persimpangan tempat puluhan ribu orang berkumpul pekan ini.
“Ratusan orang berkumpul di barikade,” papar seorang saksi mata.
Ribuan orang lainnya berkumpul di lokasi protes lain di dekat universitas dan berangkat ke pusat kota.
Selain protes, kampanye pembangkangan sipil telah melumpuhkan banyak bisnis pemerintah. Tekanan internasional meningkat terhadap junta Myanmar.
Inggris dan Kanada mengumumkan sanksi baru pada Kamis. Jepang setuju dengan India, Amerika Serikat dan Australia mengenai perlunya pemulihan demokrasi dengan cepat di Myanmar.
Junta belum bereaksi terhadap sanksi baru tersebut. Pada Selasa, juru bicara militer mengatakan pada konferensi pers bahwa sanksi itu telah diperkirakan.
Ada sedikit sejarah tentang para jenderal Myanmar yang menyerah pada tekanan asing dan mereka memiliki hubungan yang lebih dekat dengan negara tetangga China dan Rusia.
Beijing dan Moskow mengambil pendekatan yang lebih lembut daripada negara-negara Barat yang telah lama kritis pada Myanmar.
Pemimpin junta Min Aung Hlaing sudah mendapat sanksi dari negara-negara Barat setelah tindakan keras pada 2017 terhadap minoritas Muslim Rohingya.
Lihat Juga :