Di Tengah Wabah Covid-19, Harga Chanel dan Louis Vuitton Naik Fantastis

Senin, 18 Mei 2020 - 07:15 WIB
loading...
A A A
Kelompok bisnis LVMH, label yang memproduksi Louis Vuitton, menyebutkan mereka mengalami kenaikan penjualan produksi hingga 50% di China pada awal April. Padahal, mereka telah menaikkan harga produk. Sebagai contoh, tas Neverfull MM Monogram dijual dengan harga USD1.500, padahal pada awal Mei lalu dijual USD1.430 dan USD1.320 pada akhir Oktober lalu. Itu menunjukkan adanya kenaikan 14%. Namun, Louis Vuitton menolak berkomentar mengenai kenaikan harga tersebut.

Di China dan Korsel, masyarakat harus rela mengantre di luar butik Chanel setelah rumor kenaikan harga itu menyebar di media sosial. Xie Lan, sutradara film dokumenter di Beijing, mengaku membeli tas senilai USD4.225 kesukaannya sebelum kenaikan harga. “Pekerjaan sangat sibuk dan membuat stres. Saya ingin menghibur diri (dengan membeli produk mewah),” paparnya.

Produsen perhiasan AS, Tiffany, yang dibeli LVMH, juga meningkatkan harga produknya di Korsel senilai 10% pada 6 Mei lalu. Hal itu diungkapkan seorang manajer toko Tiffany di Seoul. “Tiffany mengkaji secara reguler strategi kenaikan harga, termasuk membandingkan masing-masing pasar di mana kita berbisnis untuk merefleksikan hal lain, seperti fluktuasi mata uang dan biaya produksi,” ujar juru bicara Tiffany kepada Reuters.

Para analis menyatakan, brand kuat seperti Louis Vuitton bisa saja menaikkan harga untuk meningkatkan penjualan dan pendapatan karena krisis virus corona. Pasalnya, mereka juga mengalami penurunan pendapatan karena adanya larangan bepergian internasional dan krisis ekonomi yang melanda Eropa dan AS. “Itu (kenaikan harga) merupakan strategi untuk mendapatkan keuntungan,” ujar Luca Solca, analis produk mewah di Bernstein, firma konsultan ekonomi. (Baca juga: Balenciaga Luncurkan Sandal Rumah Kulit Rp7 Juta)

Solca menambahkan, tidak semua label mengikuti langkah menaikkan harga karena dikhawatirkan memicu kekecewaan dari konsumen. Tod’s, misalnya, tidak berencana mengubah harga produk. Mereka memilih mempertahankan untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Namun, kebanyakan brand justru harus berjuang keras dengan banyaknya produk yang belum terjual. Mereka kini memilih menahan diri untuk tidak memberikan diskon besar di toko ataupun penjualan online. Mereka tetap menjual produk dengan harga yang sama untuk menjaga aura eksklusivitas produk mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
WHO: Wabah Hantavirus...
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
Dunia Sedang Tidak Baik-baik...
Dunia Sedang Tidak Baik-baik Saja, Kenapa Kecanduan Global pada Brand Mewah Terus Meningkat?
Hakim AS Perintahkan...
Hakim AS Perintahkan China Bayar Ganti Rugi Rp391 Triliun dalam Kasus Covid-19
3 Proyek Kontroversial...
3 Proyek Kontroversial yang Dituding Dijalankan USAID, dari Senjata Biologis hingga Covid
Elon Musk: USAID Danai...
Elon Musk: USAID Danai Riset Senjata Biologis, Termasuk Proyek Kemunculan Covid-19
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Iran-AS Capai Kesepakatan...
Iran-AS Capai Kesepakatan Damai, Israel Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon
Trump Ingin Buru-Buru...
Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran, Tak Menunggu 19 Juni
Rekomendasi
Usai Ditangkap, Roy...
Usai Ditangkap, Roy Suryo dan Dokter Tifa Bakal Dibawa ke RS Polri
Massa HMI MPO Datangi...
Massa HMI MPO Datangi Gedung DPR, Sampaikan Tuntutan Ini
Cara Seru Nonton Beragam...
Cara Seru Nonton Beragam Microdrama di V+Short, Bikin Ketagihan!
Berita Terkini
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved