Houthi 'Rekrut' Ribuan Anak-anak untuk Dijadikan Tentara
Sabtu, 13 Februari 2021 - 10:41 WIB
loading...
A
A
A
Pejabat PBB juga memperingatkan bahwa dampak COVID-19 dapat meningkatkan perekrutan militer anak-anak di seluruh dunia.
Baca juga: Houthi Serang Bandara Arab Saudi, Pesawat Penumpang Kena Tembakan
“Dampak pandemi COVID-19 menakutkan: kemiskinan dan kurangnya kesempatan meningkatkan faktor pendorong dan penarik lebih jauh untuk perekrutan dan penggunaan anak oleh angkatan bersenjata dan kelompok bersenjata serta kekerasan seksual atau penculikan,” kata Perwakilan Khusus PBB untuk Anak-anak dan Konflik Bersenjata Virginia Gamba.
“Kesempatan pendidikan, yang sudah terganggu oleh perang dan pengungsian, semakin menghilang. Secara tragis, anak-anak membayar harga tertinggi dan kami memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun sistem berkelanjutan yang melindungi semua anak setiap saat," imbuhnya.
Data PBB menyebutkan bahwa 7.740 anak, beberapa bahkan berusia 6 tahun saat direkrut pada tahun 2019, dan perekrutan ini terjadi di setidaknya 14 negara termasuk Republik Demokratik Kongo, Sudan Selatan dan Somalia.
Baca juga: Iran Desak PBB Akui Pemerintahan Houthi untuk Akhiri Krisis Yaman
“Tidak ada yang berhak mencuri impian atau kepolosan anak-anak. Anak-anak memiliki peran kunci dalam membangun masa kini dan masa depan di mana perdamaian akan menang. Tanggung jawab kami adalah memungkinkan mereka menjadi agen perubahan,” tegas Gamba.
Baca juga: Houthi Serang Bandara Arab Saudi, Pesawat Penumpang Kena Tembakan
“Dampak pandemi COVID-19 menakutkan: kemiskinan dan kurangnya kesempatan meningkatkan faktor pendorong dan penarik lebih jauh untuk perekrutan dan penggunaan anak oleh angkatan bersenjata dan kelompok bersenjata serta kekerasan seksual atau penculikan,” kata Perwakilan Khusus PBB untuk Anak-anak dan Konflik Bersenjata Virginia Gamba.
“Kesempatan pendidikan, yang sudah terganggu oleh perang dan pengungsian, semakin menghilang. Secara tragis, anak-anak membayar harga tertinggi dan kami memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun sistem berkelanjutan yang melindungi semua anak setiap saat," imbuhnya.
Data PBB menyebutkan bahwa 7.740 anak, beberapa bahkan berusia 6 tahun saat direkrut pada tahun 2019, dan perekrutan ini terjadi di setidaknya 14 negara termasuk Republik Demokratik Kongo, Sudan Selatan dan Somalia.
Baca juga: Iran Desak PBB Akui Pemerintahan Houthi untuk Akhiri Krisis Yaman
“Tidak ada yang berhak mencuri impian atau kepolosan anak-anak. Anak-anak memiliki peran kunci dalam membangun masa kini dan masa depan di mana perdamaian akan menang. Tanggung jawab kami adalah memungkinkan mereka menjadi agen perubahan,” tegas Gamba.
(ian)
Lihat Juga :