Peretas Korut Curi Dana Lebih dari Rp4,2 Triliun
Selasa, 09 Februari 2021 - 14:57 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Plt Dubes Korut di Kuwait Dilaporkan Membelot ke Korsel
Panel PBB menemukan bahwa kontrol ketat perbatasan Korut guna mencegah menyebarnya COVID-19 telah memengaruhi kemampuan rezim negara itu untuk membawa mata uang keras yang sangat dibutuhkan dari luar negeri. Pyongyang menggunakan skema penghindaran sanksi yang kompleks untuk menjaga ekonominya tetap bertahan dan menghindari sanksi PBB yang ketat.
Batubara secara historis menjadi salah satu ekspor paling berharga Korut. Laporan Panel PBB tahun 2019 menemukan bahwa Pyongyang berhasil mengumpulkan dana USD370 juta dengan mengekspor batubara, tetapi pengiriman sejak Juli 2020 tampaknya telah ditangguhkan.
Itu kemungkinan karena Korut memutuskan hampir semua hubungannya dengan dunia luar pada tahun 2020 untuk mencegah masuknya kasus virus Corona, termasuk memutuskan hampir semua perdagangan dengan Beijing, jalur kehidupan ekonomi yang dibutuhkan negara miskin itu agar rakyatnya tidak kelaparan. Meskipun keputusan itu tampaknya telah mencegah pandemi, hal itu telah membawa ekonomi Korut lebih dekat ke ambang kehancuran daripada yang telah terjadi dalam beberapa dekade.
Badai yang menghancurkan, sanksi yang menghukum dan pandemi melanda ekonomi Korut pada tahun 2020, dan para ahli percaya bahwa Korut mungkin lebih mengandalkan para peretasnya untuk menghasilkan pendapatan selama pandemi karena penutupan perbatasan.
Baca juga: Korsel: Korut dan AS Harus Segera Cari Kesepakatan Awal Soal Denuklirisasi
Rincian dari laporan tersebut, yang saat ini dirahasiakan, diperoleh CNN melalui sumber diplomatik di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang membagikan bagian dari dokumen tersebut dengan syarat dirahasiakan. Laporan Panel terdiri dari informasi yang diterima dari negara-negara anggota PBB, badan intelijen, media dan mereka yang melarikan diri dari negara itu - bukan Korut sendiri. Laporan ini biasanya dirilis setiap enam bulan, satu di awal musim gugur dan satu lagi di awal musim semi.
Panel PBB menemukan bahwa kontrol ketat perbatasan Korut guna mencegah menyebarnya COVID-19 telah memengaruhi kemampuan rezim negara itu untuk membawa mata uang keras yang sangat dibutuhkan dari luar negeri. Pyongyang menggunakan skema penghindaran sanksi yang kompleks untuk menjaga ekonominya tetap bertahan dan menghindari sanksi PBB yang ketat.
Batubara secara historis menjadi salah satu ekspor paling berharga Korut. Laporan Panel PBB tahun 2019 menemukan bahwa Pyongyang berhasil mengumpulkan dana USD370 juta dengan mengekspor batubara, tetapi pengiriman sejak Juli 2020 tampaknya telah ditangguhkan.
Itu kemungkinan karena Korut memutuskan hampir semua hubungannya dengan dunia luar pada tahun 2020 untuk mencegah masuknya kasus virus Corona, termasuk memutuskan hampir semua perdagangan dengan Beijing, jalur kehidupan ekonomi yang dibutuhkan negara miskin itu agar rakyatnya tidak kelaparan. Meskipun keputusan itu tampaknya telah mencegah pandemi, hal itu telah membawa ekonomi Korut lebih dekat ke ambang kehancuran daripada yang telah terjadi dalam beberapa dekade.
Badai yang menghancurkan, sanksi yang menghukum dan pandemi melanda ekonomi Korut pada tahun 2020, dan para ahli percaya bahwa Korut mungkin lebih mengandalkan para peretasnya untuk menghasilkan pendapatan selama pandemi karena penutupan perbatasan.
Baca juga: Korsel: Korut dan AS Harus Segera Cari Kesepakatan Awal Soal Denuklirisasi
Rincian dari laporan tersebut, yang saat ini dirahasiakan, diperoleh CNN melalui sumber diplomatik di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang membagikan bagian dari dokumen tersebut dengan syarat dirahasiakan. Laporan Panel terdiri dari informasi yang diterima dari negara-negara anggota PBB, badan intelijen, media dan mereka yang melarikan diri dari negara itu - bukan Korut sendiri. Laporan ini biasanya dirilis setiap enam bulan, satu di awal musim gugur dan satu lagi di awal musim semi.
Lihat Juga :