Panglima Militer Myanmar Lontarkan Retorika Kudeta terhadap Suu Kyi

Jum'at, 29 Januari 2021 - 07:46 WIB
loading...
Panglima Militer Myanmar...
Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. Foto/REUTERS
A A A
YANGON - Panglima Militer Myanmar melontarkanretorikakudeta terhadap pemerintah berkuasa, yakni kubu Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi . Retorika itu muncul di tengah krisis politik terkait dugaan kecurangan Pemilu.

Panglima Militer Jenderal Min Aung Hlaing melontarkan isyarat itu dalam pidatonya yang diterbitkan di surat kabar Myawady yang dikelola militer.

Baca juga: China Pertajam Ancaman pada Taiwan: Kemerdekaan Berarti Perang!

Militer selama berminggu-minggu menuduh ketidakberesan pemilih yang meluas dalam Pemilu November, yang dimenangkan oleh NLD.

Pemerintah sipil telah berada dalam perjanjian pembagian kekuasaan yang tidak mudah dengan para jenderal militer sejak pemilu demokratis pertama Myanmar pada tahun 2015, sebagaimana ditentukan oleh konstitusi yang dibuat oleh junta tahun 2008.

Seorang juru bicara militer pada Selasa lalu menolak untuk mengesampingkan kemungkinan militer merebut kekuasaan total untuk menangani apa yang disebutnya sebagai krisis politik.

Selanjutnya, Jenderal Min Aung Hlaing dalam pidatonya kemarin mengatakan konstitusi 2008 adalah "ibu hukum untuk semua hukum" dan harus dihormati. Namun dia memperingatkan bahwa dalam keadaan tertentu mungkin "perlu untuk mencabut konstitusi".

Komentar tersebut menyusul tuntutan berulang oleh tentara agar Komisi Pemilu Myanmar merilis daftar pemilih akhir dari pemungutan suara November, permintaan yang belum terpenuhi.

Baca juga: Posting Kelewat Seksi, Bintang TikTok Ini Dihabisi Suami dengan 14 Tembakan

Militer mengatakan daftar itu diperlukan untuk memeriksa ulang penyimpangan. Diduga ada 8,6 juta kasus kecurangan pemilih secara nasional.

Komisi Pemilu merilis pernyataan kemarin yang menyangkal kecurangan pemilih, meskipun mengakui bahwa mereka telah melihat "kelemahan" dalam daftar pemilih pada Pemilu sebelumnya.

“Tidak mungkin ada situasi penipuan pemilih hanya karena kelemahan dalam daftar pemilih yang salah dalam Pemilu ini,” kata komisi tersebut, seperti dikutip AFP, Jumat (29/1/2021). Komisi itu menambahkan bahwa setiap keluhan dapat diajukan dan diselidiki oleh komisi.

Anggota parlemen yang baru terpilih diharapkan mulai duduk di parlemen pada 1 Februari.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pihaknya mengawasi situasi dengan "prihatin" dan mendesak "semua aktor untuk menghentikan segala bentuk hasutan atau provokasi" dan untuk menghormati hasil Pemilu.

Bukan Hanya Gertakan

Pemungutan suara itu merupakan Pemilu demokratis kedua yang dilakukan Myanmar sejak muncul pada 2011 dari kediktatoran militer selama hampir lima dekade.

Sudah lama menjadi tokoh populer di Myanmar, pencalonan Suu Kyi untuk kekuasaan dalam pemilu 2015 yang bersejarah dibatasi oleh beberapa ketentuan konstitusional.

Salah satunya adalah melarang warga negara yang menikah dengan orang asing untuk menjadi presiden.

Suu Kyi, yang menikah dengan seorang warga negara Inggris, mengabaikan aturan itu setelah kemenangan pemilu 2015 dengan menjadi penasihat negara—peran kepemimpinan de facto yang dibuat oleh pemerintahnya.

NLD juga kemudian mendorong perubahan pada konstitusi di masa jabatan pertama mereka, sebuah proses yang hanya menghasilkan sedikit kemajuan.

Analis politik Soe Myint Aung mengatakan tentara melihat "celah besar (dalam konstitusi) yang menyebabkan kerugiannya".

“Retorika kudeta bukan sekadar gertakan atau ancaman kosong,” katanya.

"Bahkan jika itu tidak mengatur pengambilalihan kekuasaan 'sepenuhnya', kemungkinan militer akan mengambil beberapa tindakan kecuali (komisi Pemilu) dan pemerintah memperbaiki keluhan terkait Pemilu," ujarnya.

Suu Kyi tidak memberikan komentar langsung tentang keluhan pemungutan suara yang disampaikan militer.

Terakhir kali negara itu dicabut konstitusinya adalah pada tahun 1962 dan 1988—keduanya ketika militer merebut kekuasaan dan memulihkan pemerintahan junta.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jejak China dalam Konflik...
Jejak China dalam Konflik Myanmar: dari Ekspor Revolusi hingga Kartu Geopolitik
7 Alasan Penjagaan Putin...
7 Alasan Penjagaan Putin Diperketat, dari Konflik Elite Moskow hingga Kudeta MIliter
Junta Myanmar Makin...
Junta Myanmar Makin Kuat dengan Dukungan China, Oposisi Melemah
10 Negara yang Mengubah...
10 Negara yang Mengubah Nama Mereka, Alasannya Sangat Beragam
Junta Myanmar Usir Diplomat...
Junta Myanmar Usir Diplomat Timor-Leste karena Buka Kasus Kejahatan Perang
Intel Rusia Tuduh Prancis...
Intel Rusia Tuduh Prancis Rencanakan Kudeta di Negara-negara Bekas Jajahannya di Afrika
Klasemen Piala AFF U-19...
Klasemen Piala AFF U-19 2026: Sikat Myanmar, Timnas Indonesia Sejajar Vietnam
Mantan Menteri Kehakiman...
Mantan Menteri Kehakiman Korsel Divonis 25 Tahun Penjara Terkait Peran dalam Darurat Militer
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5...
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5 Guncang Venezuela, 32 Orang Tewas 700 Luka
Rekomendasi
HUT ke-80 Bhayangkara,...
HUT ke-80 Bhayangkara, Polda NTT Perkuat Kesehatan Mental Personel lewat USEFT
Peradi SAI Siap Jembatani...
Peradi SAI Siap Jembatani Dunia Usaha dan Hukum dalam Pelaksanaan KUHP Baru
Danamon Gelar DIVE-Chapter...
Danamon Gelar DIVE-Chapter Youth, Kenalkan Perbankan ke Generasi Muda
Berita Terkini
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved