Pandemi Virus Corona Intai Kamp Pengungsi Rohingya
Jum'at, 15 Mei 2020 - 22:33 WIB
loading...
A
A
A
Ia mengatakan mereka juga berusaha untuk "melacak jejak" orang-orang yang telah bertemu dengan orang yang terinfeksi dan mereka semua akan dibawa ke pusat isolasi yang didirikan di kamp-kamp.
Pada awal April, pihak berwenang telah mengunci distrik Box di sekitar Cox Bazar - rumah bagi 3,4 juta orang termasuk para pengungsi - setelah munculnya sejumlah kasus Covid-19.
Bangladesh membatasi lalu lintas masuk dan keluar dari kamp dan memaksa organisasi bantuan untuk memangkas 80 persen tenaga kerja.
Negara berpenduduk 160 juta orang ini telah melakukan lockdown dan telah menunjukkan peningkatan yang cepat kasus virus Corona dalam beberapa hari terakhir, dengan hampir 19.000 kasus dan 300 kematian pada Kamis malam.
Seorang pejabat senior AS yang telah mengunjungi para pengungsi mengatakan hanya masalah waktu bagi virus itu untuk mencapai kamp pengungsian.
"Kamp pengungsi sangat ramai. Virus Covid akan menyebar sangat cepat ke sana," kata Sam Brownback, duta besar untuk kebebasan beragama internasional.
Pengacara senior Refugees International untuk hak asasi manusia, Daniel Sullivan, mengatakan kasus Covid-19 pertama adalah "realisasi dari skenario mimpi buruk".
Pada awal April, pihak berwenang telah mengunci distrik Box di sekitar Cox Bazar - rumah bagi 3,4 juta orang termasuk para pengungsi - setelah munculnya sejumlah kasus Covid-19.
Bangladesh membatasi lalu lintas masuk dan keluar dari kamp dan memaksa organisasi bantuan untuk memangkas 80 persen tenaga kerja.
Negara berpenduduk 160 juta orang ini telah melakukan lockdown dan telah menunjukkan peningkatan yang cepat kasus virus Corona dalam beberapa hari terakhir, dengan hampir 19.000 kasus dan 300 kematian pada Kamis malam.
Seorang pejabat senior AS yang telah mengunjungi para pengungsi mengatakan hanya masalah waktu bagi virus itu untuk mencapai kamp pengungsian.
"Kamp pengungsi sangat ramai. Virus Covid akan menyebar sangat cepat ke sana," kata Sam Brownback, duta besar untuk kebebasan beragama internasional.
Pengacara senior Refugees International untuk hak asasi manusia, Daniel Sullivan, mengatakan kasus Covid-19 pertama adalah "realisasi dari skenario mimpi buruk".
Lihat Juga :